Membuat Perubahan Melalui Doa

535 dibaca


Beritanarwastu.com. Apakah Allah benar-benar peduli pada rincian hidup kita, seperti berusaha menjual rumah atau mencari kucing yang hilang? Jika jawabannya adalah ya, lalu bagaimana dengan badai yang meratakan suatu kota atau tsunami yang menyapu seperempat juta orang? Mengapa Allah terlihat begitu tak terduga dalam memutuskan apakah akan, dan kapan, melakukan intervensi di planet yang kacau ini? Doa permohonan cenderung jatuh ke dalam salah satu dari dua kategori ini: Kesulitan atau hal-hal sepele. Seolah-olah secara naluriah kita berseru kepada Allah ketika ada masalah. 
Itulah yang ditulis di dalam buku berjudul Doa Bisakah Membuat Perubahan? pada bab 6 pada halaman 71 di buku setebal 384 halaman ini. Buku ini menarik dibaca, dan bisa menolong kita agar semakin teguh di dalam beriman kepada Yesus Kristus. Ditulis lagi, orang tua yang menunggui anaknya yang sakit, seorang penumpang pesawat yang ketakutan, seorang pelaut yang terjebak dalam badai  ganas-kita berseru kepada Allah ketika dalam bahaya, kadang-kadang hanya dengan kata “Ya, Allah!” pada saat itu, lupakan gagasan luhur untuk bersama dengan Allah. 
“Saya mengharapkan bantuan dari kekuatan lebih besar dari pada diri saya. ‘Tidak ada ateis di parit perlindungan,’ itulah slogan yang sering dikatakan para pendeta tentara. Kita juga mendoakan hal-hal yang sepele. Dalam buku Perang dan Damai-nya Tolstoy, seorang pemburu berdoa sungguh-sungguh agar serigala yang diburu datang ke arahnya. ‘Mengapa engkau tidak mengabulkannya?’ tanyanya kepada Allah. ‘Aku tahu engkau maha besar sehingga salah jika mendoakan hal ini,” tulis Philip Yancey, penulis buku ini. 
Ditulis di buku ini, doa pun menjadi sama alaminya seperti obrolan dengan seorang rekan atau kekasih. Namun, kini banyak di antara kita yang menyuarakan komentar seperti ini, “Saya tidak selalu bersikap jujur saat berdoa. Kadang hal itu terasa seperti dipaksakan, mirip semacam ritual. Saya sekadar mengulang kata-kata. Apakah Allah mendengarkannya? Harusnya saya melanjutkan sekalipun tak yakin bahwa yang saya lakukan itu benar?” 
Banyak orang Kristen selalu menganggap doa sebagai hal yang penting, sekaligus membuat frustrasi: Jika Allah maha tahu, buat apa kita perlu berdoa lagi? Ditulis sebagai sesama peziarah. Dan Philip Yancey mengupas topik ini, persimpangan misterius tempat Allah dan manusia bertemu dan berhubungan dengan cara yang tidak biasa, dengan sudut pandang menyegarkan dan unik. 
Dalam buku ini Yancey pun mengeksplorasi berbagai permasalahan seperti: Apakah Allah mendengarkan? Mengapa Allah mau memedulikan kita? Mengapa banyak doa yang tak terjawab? Mengapa Allah membiarkan dunia berjalan sebagaimana adanya dan tidak melakukan intervensi? Apakah doa dapat membantu kesembuhan fisik?  Mengapa Allah kadang-kadang tampak dekat, kadang-kadang tampak jauh? Apakah doa mengubah Allah atau saya? Dan bagaimana cara membuat doa terasa memuaskan? Buku yang diterbitkan BPK Gunung Mulia ini menarik disimak.    YW/TG

Berita Terkait