Pdt. Marihot Siahaan, S.Th
Memotori Persekutuan Gereja-gereja Lutheran di DKI Jakarta

1294 dibaca
Pdt. Marihot Siahaan, S.Th

Beritanarwastu.com. Di kalangan aktivis gerakan oikoumene di DKI Jakarta, Hamba Tuhan berjambang lebat ini bukan sosok yang asing. Sejak dulu ia kerap hadir mengikuti acara-acara gerejawi di DKI Jakarta. Ia pun salah satu pelopor PGLJ (Persekutuan Gereja-gereja Lutheran di DKI Jakarta). Sebagai mantan Sekretaris Umum Sinode Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Pdt. Marihot Siahaan, S.Th yang pernah dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI Jakarta, menuturkan, ia punya gagasan agar suatu saat kelak di PGI DKI Jakarta ada semacam forum diskusi bulanan yang bisa jadi media komunikasi antara pimpinan gereja, jemaat, pemerintah dan anggota dewan.

                Gagasan itu disampaikan Pdt. Marihot, lantaran ia kerap menghadiri acara Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) yang dulu digelar Penasihat dan Pimpinan Majalah NARWASTU sejak awal 2010 lalu. Menurutnya, FDDI amat baik, karena bisa mempertemukan para tokoh Kristen, politisi, tokoh ormas dan kaum awam secara rutin dalam sebuah diskusi. “Dari diskusi itulah nantinya bisa dicari apa solusi yang dihadapi, lalu disampaikan ke dewan atau pemerintah,” ungkap bekas anggota Majelis Pertimbangan PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) dan Sekretaris PGLJ ini.

                Ia menuturkan, banyak persoalan jemaat di DKI Jakarta yang perlu dibicarakan dalam forum diskusi, lalu dicari solusinya. “Jadi kita tak bisa hanya mengikuti ibadah di gereja secara rutin. Tapi, kita harus melakukan sesuatu yang bermanfaat. Di sinilah perlunya organisasi seperti PGI Wilayah berperan. Makanya melalui PGI Wilayah DKI Jakarta kita harapkan ada diskusi rutin, misalnya, sekali sebulan dengan tokoh. Dan itu bisa jadi wadah pencerdasan bagi jemaat,” ucap pria lajang yang senang mengenakan batik lengan panjang ini.

                Pdt. Marihot sebelum menjabat sebagai Sekretaris Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI Jakarta, ia pernah menjadi anggota MPL PGI Wilayah Sumatera Utara (1995-2002), anggota MPL PGI DKI Jakarta (2002-2010), dan sudah pernah mengikuti sejumlah pertemuan oikoumenis di luar negeri. Alumni STT HKBP Sumatera Utara ini kini melayani di GPKB Pulomas, Jakarta Timur, dan pendeta Distrik GPKB Distrik Jakarta. Dia merupakan pemrakarsa Komunitas Katharina Luther dan pernah jadi anggota Tim Revisi Bibel Batak Toba bersama mantan Ephorus HKBP Pdt. Dr. J.R. Hutauruk.

Saat ramai diperbincangkan publik soal ulah anggota DPR-RI dari Partai Demokrat, Ruhut Sitompoel, S.H. yang menikah lagi, lalu meninggalkan istri pertamanya, rohaniwan yang dikenal ramah namun tegas memegang prinsip ini menuturkan, “Saya ingin memposisikan diri sebagai seorang rakyat yang beriman Kristen di tengah-tengah bangsa ini daripada seorang pendeta.”

“Tanggapan spontan saya sebagai umat Kristiani adalah, kecewa dan malu. Kalau kabar itu benar, maka merupakan tamparan bagi Ruhut sendiri, bagi orang Kristen dan khususnya bagi masyarakat yang ikut memilih dia menjadi anggota dewan terhormat. Terus terang walaupun saya tidak pengagum Ruhut, tapi sebagai orang Kristen dan orang Batak saya bersyukur karena beliau menjadi seorang terpandang di DPR dan Partai Demokrat,” ujarnya.  

          “Saya kecewa sekali karena beliau tidak mempergunakan posisi dan kesempatan itu dengan baik. Sikap beliau sebagai wakil rakyat jauh dari harapan kita dan harapan Tuhan. Keadaan makin parah dengan kasus terakhir. Sungguh batu sandungan datang dari seorang yang sering bangga memperkenalkan diri sebagai aktivis gereja. Sungguh peluang Ruhut menjadi terang dan garam di tengah-tengah bangsa ini telah tekubur begitu saja. Saya berharap ini pelajaran mahal bagi figur Kristen, kalau kita masih ingin berkarya bagi bangsa dan negara kita,” ucapnya.

               Dalam jejaknya sebagai pendeta yang giat melayani di GPKB Pulomas, Jakarta Timur, Pdt. Marihot Siahaan tak jarang menghadapi tantangan alias badai dari pimpinan sinode dan rekannya sesama pelayan. Ia pernah dilecehkan dan diusir oleh seorang oknum pendeta, lantaran Pdt. Marihot dianggap saingan di Gereja GPKB Pulomas. Akibat dirinya diperlakukan tidak adil, Pdt. Marihot selain berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan, ia pun meminta bantuan kepada advokat Kristen yang selama ini dikenal tulus dan berani saat mengadvokasi gereja-gereja yang tertindas T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.Pdk.

               Pdt. Marihot menuturkan, ia tahu soal aturan dan tata tertib di sinode tempatnya melayani. Sehingga kalau ada pendeta yang bersikap sewenang-wenang, maka pendeta itu harus dilawan agar mata dan hatinya terbuka untuk melihat kebenaran. “Kalau seseorang pendeta bertindak sewenang-wenang dan bersikap seperti orang dunia, maka dia bukan Hamba Tuhan yang dikuasai Roh Kudus. Tuhan Yesus pun menentang orang-orang yang bersikap tidak adil dan bersikap sewenang-wenang,” paparnya.

                Melalui proses yang berliku-liku, dan pendekatan persuasif, serta doa yang tidak putus-putusnya, Pdt. Marihot yang didukung Jose Silitonga memang berhasil “meredam” orang-orang yang berniat jahat terhadap pelayanannya. “Saya sangat menghargai dukungan dari Pak Jose Silitonga untuk mengatasi persoalan di gereja kami. Apalagi gereja kami ini jemaatnya dari suku Batak, dan rentan dengan konflik. Pak Jose itu saya imani dikirimkan Tuhan untuk menolong kami,” cetus Pdt. Marihot, yang kini sudah dipercaya sebagai Sekretaris Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) dan pengurus Yayasan Pencinta Danau Toba.  

                Baru-baru ini, Pdt. Marihot Siahaan bersama tim BPK Gunung Mulia melakukan pelayanan ke Kepulauan Mentawai. Di sana ia melihat betapa masih sulitnya kehidupan masyarakat, dan jauh dari fasilitas memadai. Bahkan, pendeta yang melayani di sana, menurutnya, digaji amat rendah, namun semangatnya dalam melayani begitu tinggi. Dan baginya, ini merupakan pengalaman berharga dalam melihat umat Kristen yang tinggal di pedalaman. 

 

Berita Terkait