Mengampuni Sungguh Menyembuhkan

• Oleh: Sigit Triyono, M.M. 527 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Sekelumit oleh-oleh dari KUNJUNGAN KEMANUSIAAN ke penjara Pak Ahok Jumat, 09 Juni 2017 pukul 13.00-13.30 WIB. Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Pak Ahok (berusia 51 tahun pada 26 Juni 2017) yang sejak 09 Mei 2017 mendekam di Penjara Markas Komando Brigade Mobil (MAKO BRIMOB) Kepolisian RI, semakin memahami dan merasakan kedahsyatan dampak “mengampuni”.

Testimoni di atas diungkapkan saat dia menceriterakan kondisinya pada sepuluh hari pertama di dalam sel. Tidak mudah baginya untuk menjalani kehidupan di dalam penjara.  Dia sempat mengalami kesulitan tidur, kalaupun bisa tidur hampir setiap jam terbangun. Sangat tidak nyaman. Bahkan pada suatu saat  dia pernah seperti dihimpit diantara dua dinding beton yang tinggi dan dia merasakan sesak bernafas. "Saya minta tolong penjaga untuk keluar sel sebentar karena nafas saya tersengal-sengal," ungkapnya sambil memegang dada.

Situasi seperti itu mendorongnya untuk berdoa dan berbicara secara khusuk kepada Tuhan. Setelah berulang kali dia berkomunikasi dengan Tuhan, pada titik tertentu dia sangat dimampukan untuk memaafkan dan mengampuni segala faktor yang membuatkan masuk penjara. Seketika itu juga dia merasakan damai di hati sehingga membuatnya terlelap tidur.  Yang semula dia merasakan suasana hatinya kacau dan sangat tidak nyaman, seketika dia merasa dipulihkan. “Mengampuni sungguh menyembuhkan,” katanya dengan penuh penghayatan.

Dalam perbincangan kami yang tidak lebih dari30 menit, Gubernur DKI periode 19 November 2014 hingga 9 Mei 2017 ini menyampaikan bahwa dia sudah melupakan masa lalunya. “Saya menjadi pejabat atau tidak menjadi pejabat rasanya sama saja, tidak ada yang berubah,” ungkapnya. Dia menyampaikan bahwa selama dia menjabat siapapun bisa langsung bertemu dengannya. Dia hanya ingin menjadi pelayan. Bagi dia seorang Gubernur adalah pelayan masyarakat. “Kalau tanpa hasrat melayani, ketemu orang setiap pagi dengan berbagai masalah di Balaikota, kita bisa meledak lho,” sambungnya.

Sepanjang pertemuan kami melihat sosok Pak Ahok yang sangat sederhana dengan kaos berkerah warna biru dan celana panjang senada yang sudah agak kusam serta mengenakan sandal karet biasa. Jauh dari kesan “jaim” seorang mantan pejabat. Mungkin karena sudah terbiasa dengan kesederhanaan seperti ini,  maka dia tidak merasa kehilangan “segala kemewahan” pejabat. Semakin lengkaplah dia mengampuni segala keadaan dan tampak semakin sehatlah dia.

Ketika ditanya: “Pak Ahok sehat kan?” Dia berceritera sempat tekanan darahnya naik sampai 140 ketika mendengar anaknya sakit panas dan bertanya kapan Papanya pulang. “Tapi belakangan saya sangat sehat karena bisa tidur nyenyak tanpa wekker dan bisa olah raga rutin tanpa diuber-uber waktu,” ungkapnya sambil tersenyum. Olah raga yang dilakukannya adalah “senam khusus” di dalam sel. Dia sudah lama melakukan olah raga tanpa harus membutuhkan lahan luas seperti joggingatau berenang.

Dia bercerita aktivitas utamanya setiap hari adalah membaca dan menulis. “Di sini belum bisa melakukan aktivitas sosial seperti mengajar atau pembinaan untuk napi lain, karena jumlah napi disini tidak banyak,” katanya. Dia menjelaskan kalau bisa melakukan aktivitas sosial sebenarnya akan membuka peluang mendapat remisi lebih banyak sehingga semakin cepat bisa bebas.

Saat ditanya: “Apa rencananya kalau sudah selesai menjalani masa hukuman?” Sambil menghela nafas panjang dia mengungkapkan: “Mungkin karier politik saya sudah habis. Saya mau bisnis saja sambil mengajar sesuai dengan kemampuan saya.”

Kami bersepuluh seperti tercekat dan tidak mampu berkata-kata lagi. Akhirnya tiga orang Ibu yang bersama-sama kami, yang sepanjang perjumpaan berulang kali menyeka air matanya, menyodorkan sebuah buku untuk ditandatangani Pak Ahok dan menyerahkan surat pribadi berbahasa Inggris dari seorang anak SMP. Saya juga menyodorkan halaman belakang kartu nama saya untuk ditandatanganinya sebagai ganti foto bersama. Pak Duta Pranawa dan Pak Pdt Em Weinata Sairin perwakilan dari Lembaga Alkitab Indonesia menyerahkan Alkitab Edisi Finansial dan  Alkitab dwibahasa Mandarin dan Indonesia sebagai tanda kasih.

Sebelum kami berpisah, kami mendoakan secara khusus untuk ketabahan, kekuatan, kesehatan dan hikmat kebijaksanaan bagi Pak Ahok, serta untuk keluarganya.  Bagi kita yang di luar, dua tahun sepertinya singkat. Tapi bagi siapapun yang di dalam penjara, dua hari pun mungkin serasa seperti lebih dari dua tahun.Satu yang pasti, mampu mengampuni terbukti bisa menyembuhkan. Salam damai holistik.

·         Penulis adalah Founder dan Managing Director PT. Sukses Holistik Indonesia Strategic Consulting, Training & Research, serta anggota FORKOM NARWASTU. 

Berita Terkait