Drs. Jalenson Munthe
Mengapa Orang Percaya Mengalami Pencobaan (Matius 6:13)

Penulis adalah Ketua Dana Sosial Pendidikan Anak ( 1280 dibaca


Beritanarwastu.com, Pertanyaan mengapa, seringkali kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan ini menunjukkan ada sesuatu yang tidak sinkron antara harapan dengan kenyataan. Dan barang tentu ini akan membuat seseorang kecewa, dan bertanya dalam hidupnya. Demikian juga kita sebagai anak Tuhan sering melontarkan pertanyaan: mengapa saya sudah melayani Tuhan di gereja masih jatuh ke dalam dosa? Mengapa saya sudah rajin ke gereja selalu mendapat masalah? Mengapa saya sudah tekun di dalam Tuhan, selalu ditimpa masalah, selesai masalah yang satu, masuk ke masalah lain. Mengapa? Mengapa? Dan, ini selalu menjadi pertanyaan yang tak habis-habisnya dalam kehidupan kita.

Jawabannya sederhana: karena kita hidup dalam dunia yang sudah dikuasai iblis. Kita tahu ketika iblis (Lucifer) mencoba mengkudeta Allah karena iri hati, Allah mencampakkan iblis ke dunia ini. Jadi dunia ini sudah dipenuhi dengan kejahatan, penderitaan dan kekhawatiran.  Firman Allah mengatakan di Matius 6:13, “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaaan, tapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat”. Kata “lepaskanlah” merupakan sebuah permohonan kita kepada Tuhan. Dalam pengertian, manusia dalam posisi tertawan oleh iblis. Nah, timbul pertanyaan, apakah Allah mencobai manusia? Siapakah yang mencobai manusia?

Di Yakobus 1:13, ditegaskan, “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: pencobaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh apa yang jahat, dan ia sendiri tidak mencobai siapapun”. Nah, yang jadi pertanyaan siapakah yang mencobai manusia? Jawabnya, ada di Yohanes 10:10, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan. Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyai dalam segala kelimpahan”. Jadi, jelaslah Tuhan tidak pernah mencobai manusia, tapi yang mencobai manusia adalah iblis. Kita sering melihat dan mendengar di TV, apabila sepasang suami istri akan bercerai dengan mudahnya dia mengatakan, “Ini sudah rencana atau takdir dari Tuhan, dan saya harus kuat menghadapinya”. Tentu ini suatu jawaban yang salah, karena firman Tuhan menegaskan, Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang tidak baik dalam kehidupan seseorang, tapi rancangan Tuhan adalah rancangan baik dan damai sejahtera.

Yang menjadi renungan kita pada saat ini adalah, bagaimana kita bisa keluar dari pencobaan ini. Ada dua hal yang perlu kita renungkan supaya kita keluar dari pencobaan dunia ini. Pertama, sadar dan berjaga-jagalah (1 Petrus 5:8). Sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu, si iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Dalam hal ini ada kata “sadarlah”, mempunyai pengertian waspada, siap-siap, kehati-hatian, insyaf, tahu dan mengerti. Iblis sangat tidak senang melihat manusia mempunyai hubungan intim dengan Allah.

Sehingga iblis selalu berusaha dengan segala upaya untuk merusak kehidupan manusia lewat berbagai masalah dan penderitaan, sehingga lewat masalah itu manusia berpaling ke ilah lain yang akhirnya membunuh kehidupan rohani orang tersebut. Iblis tidak pernah berhenti bekerja untuk menghancurkan kehidupan manusia, dia berjalan berkeliling untuk memangsa setiap orang yang hidupnya tidak di dalam Tuhan. Dan iblis sangat pintar melihat kelemahan setiap orang, dan melalui kelemahan itulah iblis akan masuk untuk menghancurkan kehidupan orang itu.

Masalah kita besar, penderitaan yang kita alami sangat berat, sepertinya hidup ini hanya penuh dengan masalah yang tidak pernah selesai, tapi ingat bahwa di atas semua itu Allah kita jauh lebih besar. Masalah boleh datang dalam kehidupan kita, penderitaan silih berganti, tapi kita tetap tegar dan kuat menghadapi semua masalah itu, sebab Allah menopang kita. Kita tidak perlu takut, cemas dan stres dalam menghadapi kehidupan rumah tangga kita sebab Tuhan menjaga kita.

Masalahnya apakah kita sadar bahwa kita tak mempunyai kekuatan dalam mengahadapi si iblis tanpa pertolongan Tuhan? Kalau kita menyadari bahwa kita tidak mampu menghadapi si iblis lewat masalah yang kita alami, mengapa kita tidak meminta pertolonganNya? Sering sekali kita hanya mengandalkan kemampuan kita untuk menghadapi dunia ini, misalnya, kita berkata, “Aku punya harta yang banyak, aku punya beking yang hebat, aku punya jabatan yang tinggi, aku sangat dihormati orang dan lain sebagainya”. Tapi, ingat tidak seorangpun di dunia ini yang mampu bertahan menghadapi kekuatan si iblis. Sebab si iblis datang untuk menghancurkan manusia. Jadi kita harus sadar dan berjaga-jaga dalam hidup ini, baik lewat pekerjaan, rumah tangga, pelayanan dan seluruh aktifitas kita, bahwa iblis selalu siap untuk menghancurkan kehidupan kita.

 

Kedua, lawanlah iblis (1 Petrus 5:9). Kata “lawanlah” mempunyai pengertian menyerang, ada tindakan atau minimal kita bertahan menghadapi serangan musuh. Tapi, seringkali kita menghadapi iblis dengan kekuatan kita sendiri, sehingga kita tidak pernah berdaya menghadapinya. Iblis begitu kuat dan licik melihat kelemahan setiap orang. Dia tahu setiap orang, lewat kelemahannya itulah dia menghancurkan kita. Nah, yang menjadi pertanyaan, dengan apakah kita melawan kekuatan iblis? Jawabannya, kekuatan iblis  harus kita lawan dengan senjata Allah. Apa itu senjata Allah (Efesus 6:14-18), yaitu ikat pinggang kebenaran (ayat 14), baju keadilan (ayat 14), kasut Injil (ayat 15), perisai iman (ayat 16), ketopong keselamatan (ayat 17), pedang firman Allah (ayat 17) dan semangat roh doa (ayat 18).

Ada beberapa senjata Allah yang bisa kita gunakan untuk menghadapi kekuatan si iblis, yaitu kita menyerahkan diri kita sepenuhnya melalui doa dan membaca firman Tuhan. Lewat senjata tersebut kita mampu bertahan terhadap serangan si iblis. Kita harus berani mengatakan kebenaran dengan pengertian, katakan benar jika memang itu benar dan katakan salah jika memang itu salah. Kita harus tegas dalam hal ini, jangan melihat itu dari kepentingan pribadi atau kelompok.

Lewat berbagai masalah dan cobaan yang kita alami, tentunya kita menjadi kuat di dalam Tuhan. Iman kita semakin kuat dan bertumbuh, kita menjadi naik kelas, tidak lagi berjalan di tempat. Kita harus bisa seperti anak kecil yang belajar berjalan jatuh bangun, tapi akhirnya mampu melawan kekhawatiran, kecemasan dan masalah dengan melihat satu kekuatan pada diri Yesus. Karena Yesuslah sumber kekuatan kita dalam menghadapi iblis.

Kesimpulan

Pertama, mengapa orang percaya mengalami pencobaan, karena manusia hidup dalam dunia yang sudah dikuasai oleh iblis. Kedua, kita harus tahu, bahwa Allah tidak pernah mencobai manusia, tapi iblislah yang mencobai manusia, karena iblis tidak senang melihat manusia berhubungan intim dengan Allah. Ketiga, ada dua hal yang perlu kita renungkan supaya kita keluar dari pencobaan iblis, yaitu sadar dan berjaga-jaga terhadap serangan iblis, lawanlah si iblis dengan menggunakan senjata Allah. Keempat, masalah kita besar tapi Allah kita jauh lebih besar. Manusia tidak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan iblis tanpa melibatkan kekuatan Allah. Kelima, lewat masalah yang kita hadapi iman kita pun semakin bertumbuh di dalam pengenalan terhadap Yesus Kristus Juruselamat kita. Kiranya Tuhan memateraikan firman ini di dalam kehidupan kita, sehingga kita cakap dan kuat menghadapi tantangan hidup. Amin.

Berita Terkait