Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa
Menjadi Keluarga Kristen yang Tangguh di Era Globalisasi

1422 dibaca
Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa. Menginspirasi dan memotivasi.

                BERITANARWASTU.COM. Tak ada kata selesai dan lelah bagi Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa  dalam kiprahnya 2004-2008, 2008-2012, 2012-2017 sebagai Ketua Departemen Wanita di Gereja Kibaid. Tiga kali periode sudah dijalaninya dengan tekun penuh inovasi, motivasi, inspirator bagi Persekutuan Kaum Wanita Gereja Kibaid dan tetap bersemangat untuk mewartakan Injil ke berbagai daerah hingga ke pedalaman Kabupaten Mamuju, Kabupaten Toraja, Kabupaten Luwu dan Papua pun tetap dilakoninya.

           Apa yang dilakukannya bukan saja karena jabatannya sebagai Ketua Departemen Wanita Gereja Kibaid yang  akan berakhir pada Juli 2017. Akan tetapi, panggilan pelayanan yang diembannya sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan yang diamanatkan Tuhan kepadanya dilakukan dengan sukacita sekaligus sebagai wujud ucapan syukurnya kepada Yang Maha Kuasa.

 

Rumah Tangga Kristen

            Mengulas topik seputar perempuan memang tak akan pernah ada habisnya. Selain menjadi salah satu masalah yang menarik untuk dikupas, sejatinya banyak perempuan yang belum menyadari, bahkan mengabaikan fungsi kodratinya sebagai penolong dalam keluarga. Tidak hanya sekadar itu, jika dilihat dari lingkup yang lebih luas, ternyata talenta-talenta dan potensi-potensi dalam diri perempuan harusnya bisa ter-eksplore semaksimal mungkin agar peranannya semakin efektif. Pada 19-25 April 2017 ibu empat anak ini bertolak ke sejumlah daerah di Papua, seperti Jayapura, Nabire, Sorong dan Raja Ampat.

           Kunjungan khusus dalam rangka pertemuan PKW Gereja Kibaid Wilayah Papua dengan menyajikan seminar Rumah Tangga Kristen di Era Globalisasi, Pertumbuhan Rohani Anggota Keluarga Allah, dan Tanggung Jawab Sebagai Keluarga Allah.Dalam kunjungannya ke daerah yang dikenal sebagai kantong Kristen itu, Pensiunan Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Makasar (1985-2015) itu menjelaskan seputar topic yang dibawakannya dalam seminar tentang rumah tangga Kristen di era globalisasi.

            Menurutnya, rumah tangga Kristen akan berkualitas jika menerapkan prinsip-prinsip kebenaran antara lain,  pertama, Tuhan yang membangun rumah (Mazmur 127:1). Kedua, Tuhan tempat perlindungan rumah tangga (Mazmur 46:2). Ketiga, beratapkan takut akan Tuhan (Mazmur 25:12-14, Amsal 1:7,3:7). Keempat,  berjendelakan doa (Filipi 4:6, Matius 7:7-11, Yohanes 15:7-8). Kelima, berpintukan komunikasi kasih (1 Korintus 13:4-7). Keenam, berlantaikan pendidikan firman (2 Tim 3:16-17). Ketujuh, berperabot buah-buah roh (Galatia 5:22-23). Jika prinsip-prinsip tersebut dipahami dan dilakukan, maka diharapkan setiap anggota akan mampu menjalankan perannya dalam rumah tangga sehingga rumah tangganya dapat tangguh menghadapi era globalisasi.

           Ia juga menekankan panggilan masing-masing anggota keluarga. Seperti ayah yang menjadi kepala keluarga punya peran, yakni menafkahi keluarga (Kejadian 3:17-19), menjadi imam keluarga dan pemimpin (Ayub 1:5), mengasihi istri (Efesus 5:25, 1 Petrus 3:7), mengasihi anak (Titus 2:4, Kolose 3:21), mendidik anak (Ulangan 6:7, Amsal 22:6, 1 Timotius 3:4,12). Sedangkan, ibu memiliki peran yang tak kalah pentingnya, yaitu menjadi penolong yang sepadan (Kejadian 2:18), mengasihi suami (Efesus 5:22, 1 Petrus 3), menolong suami-menafkahi dan mengurus rumah tangga (Amsal 31:10-31), serta mendidik anak dan menanamkan iman (2 Timotius 1:5, Ulangan 6:7).

           Dan anak-anak juga harus punya rasa taat dan hormat kepada orangtua (Efesus 6:1-3), dan menjadi murid (2 Timotius 1:5, Ulangan 6:7, Efesus 6:4). “Sehingga jika semua tercapai akan tercipta harmonisasi yang menghasilkan kasih, penyesuaian diri-satu dengan yang lain, menciptakan komunikasi-kasih, setiap orang bertanggung jawab, menciptakan persahabatan satu dengan yang lain, toleransi satu dengan yang lain dan menghidupkan semangat rumah tangga seperti tertawa bersama, waktu bersama dan berdoa bersama,” jelas istri Litha Brent, S.E. ini semangat.

          Dengan kata lain untuk hidup di era globalisasi, maka orangtua tetap meningkatkan kualitas sesuai visi dan misi yang Alkitabiah, anak-anak yang berkualitas baik dalam iman, pendidikan dan keterampilan sehingga memiliki daya saing serta keluarga memiliki iman yang tangguh.

 

Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa saat berada di Thailand. 

 

Mengalami Pertumbuhan Iman

            Perempuan kelahiran Makale, 8 Februari 1954 ini pun menerangkan dalam seminar tersebut di sesi yang berbeda tentang Pertumbuhan Rohani Anggota Keluarga Allah dengan sub tema Jangan Jadi Kristen Kanak-kanak (2 Petrus 3:17-18). Dalam pemaparannya dikatakan, ada empat alasan anggota keluarga Allah harus bertumbuh secara rohani, pertama, kita harus secara rohani karena Kristen kanak-kanak tidak dapat melakukan pekerjaan Kristen dewasa. Kita harus lahir baru (1 Petrus 2:2, 2 Petrus 3:18).

Kedua, Kristen kanak-kanak tidak dapat melakukan hal-hal rohani yang dalam (Kolose 1:19, Ibrani 5:11-14). Ketiga, Kristen kanak-kanak tidak dapat mengatasi kekecewaan dan kesusahan (Kolose 1:11, Mazmur 91:14). Keempat, Kristen kanak-kanak akan menerima pahala kanak-kanak (Wahyu 2:7; 11, 17, 26) tiap orang akan mendapat upah dan pahala seturut perbuatannya (1 Korintus 3:8, Ibrani 11:6). “Mari kita bersungguh-sungguh berusaha dalam iman. Dunia sekuler akan merusak hidup kita jika tidak dewasa dalam iman. Sebab, hanya orang-orang yang bertumbuh rohaninya yang dapat tahan menghadapi orang-orang duniawi. Hanya orang-orang rohani yang hidup berbahagia karena Tuhan akan memberi upah, baik sekarang maupun di sorga kelak,” tukas dokter gigi yang juga pernah mendalami ilmu teologia di STT Jaffray, Makassar, tahun 1983-1985 ini.

 

Tanggung Jawab Sebagai Keluarga Allah

             Setiap kita diciptakan segambar dengan rupa Allah. Melalui karya penciptaanNya setiap kita dilengkapi dengan potensi, talenta, perilaku dan karakter. Namun, dengan itu semua apakah kita sudah bisa memuliakan Tuhan sebagai salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai anak-anak tebusan Tuhan Yesus Kristus (Matius 5:13-16). Menurut perempuan yang pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Remaja dan Sekolah Minggu (Resmi) Gereja Kibaid ini, ada 3 K yang harus diingat. K-1, kita harus mengenali siapa kita,  yaitu sebagai garam dunia (Matius 5:13-14) yang bisa dikenali lewat ciri-cirinya seperti senang menolong orang dan tidak senang bertikai atau dengan kata lain menjadi pembawa damai (pengawet).

            Sebagai terang (ayat 14) yang ditegaskan juga dalam (Yohanes 8:12)  dengan memiliki sifat-sifat ilahi yang menjadi karakter kita. K-2, kita harus menyadari tugas dan tanggung jawab kita (ayat 15) di antaranya tugas kita dengan menghidupi terang/hidup dalam terang (Roma 13:12) perlu latihan dan komitmen, kita harus berjalan dalam terang (Efesus 5:8-10), kita harus berjaga dan sadar, kita harus bekerja selagi masih ada kesempatan (Yohanes 9:4). Artinya, jangan menunda-nunda pekerjaan/pelayanan, komitmen yang paling tinggi jika kita sebagai anak-anak terang.

           K-3, kita perlu mengkaji, apakah saya telah menjalani hidup ini dengan tekad dan konsisten? Semua untuk kemuliaan Bapa? (ayat 16) itu dapat terjadi jika kita selalu menjaga diri dan menghargai diri kita sebagai garam dan terang (Yakobus 1:17). Pujian dan hormat dinaikkan kepada Bapa di Surga jika kita berhasil (Mazmur 146:1-6) untuk selama-lamanya, tidak ada alasan untuk tidak memuliakan Tuhan, sebab semua pemberian yang baik dan sempurna hanya datangnya dari Tuhan (Yakobus 1:7-18).

            Dengan kata lain Niniek menambahkan, sebagai garam berfungsi menjadi inspirasi dan motivator hidup dalam kasih. Dengan demikian, hal itu membedakan anak-anak pemercaya dengan orang lain, karena memiliki sukacita dan kasih. Namun, semua harus diwujudkan secara nyata, misalnya, menyumbangkan sebagian besar dari harta yang kita miliki untuk menfasilitasi tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Dan sebaliknya, jika simbol garam dan terang dunia lip service saja, kesaksian kita tidak berhasil. Segala yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu, jangan ada satupun yang memegahkan diri dengan berkata, kalau bukan saya, pekerjaan ini dan itu tidak berhasil. Firman berkata, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu.

 

Pnt. Niniek Suryati L. Brent Salurapa bersama kaum ibu dari Gereja Kibaid di Thailand. 

 

Menjadi Saluran Berkat

Bagi Niniek adalah hal yang berbahagia jika di sepanjang hidupnya bisa melayani Tuhan dengan baik. Tak mengherankan, jika kehidupannya penuh dengan sukacita, damai sejahtera dan cinta kasih yang melingkupi suami, anak-anak, anak menantu, cucu bahkan keluarga besarnya. Atas kelimpahan setiap berkat yang diterimanya ia selalu berusaha untuk bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

              Di pengujung kepemimpinannya sebagai Ketua Departemen Wanita Gereja Kibaid, pada 31 Maret-4 April 2017 sebanyak 35 orang kaum wanita (dari 27 Klasis Gereja Kibaid) dan semuanya adalah perempuan bertolak ke Bangkok, Thailand. Di negeri Gajah Putih itu, Niniek beserta rombongan mengunjungi sejumlah obyek wisata. Yang menarik dari perjalanan tersebut adalah ada beberapa hamba Tuhan yang sudah melayani 40 tahun di daerah pedalaman Sulawesi, dan sama sekali belum pernah bepergian dengan pesawat terbang.

              Mereka melihat temple atau candi bagaimana mereka membuat yang kalau secara rasional manusia tentu tidak bisa. Beberapa yang aneh seperti parade lady boy yang menjadi salah satu obyek wisata di Thailand. “Bahwa inilah yang ditulis dalam 1 Korintus 2:9, apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia,” terang perempuan berdarah Toraja ini kepada para peserta tour.

Di akhir wawancaranya dengan Majalah NARWASTU, ia berharap bahwa artikel ini dapat menantang rumah tangga Kristen untuk memelihara rumah tangga Kristiani yang tangguh dan menantang diri bertanggung jawab sebagai keluarga Allah yang menjalani hidup sebagai garam dan terang dunia. Serta dewasa dalam iman, karena hanya Kristen dewasa yang dapat hidup dalam dunia globalisasi dengan segala dampak negatifnya. Tuhan memberkati umatNya, amin,” ujarnya. BTY

Berita Terkait