Menyoal Natal Nasional 2016 di Sumatera Utara dan Sulawesi Utara

2633 dibaca
Oleh: Hojot Marluga

Beritanarwastu.com. Pemerintah lewat Surat Keputusan (SK) Menteri Agama Nomor 498 Tahun 2016 tanggal 31 Agustus 2016 telah memutuskan perayaan Natal Nasional 2016 ditetapkan di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Perayaan ini seyogianya digelar pada 27 Desember 2016, dan dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Antusiasme umat Nasrani terutama orang Batak tak kepalang menyebut hal ini. Bahkan, anak-anak rantaunya, utamanya yang berasal dari Dolok Sanggul di penjuru negeri ini menyambut bahagia. Tak sedikit dari mereka langsung memesan tiket pesawat untuk pulang kampung pada Desember 2016 ini. Apalagi setelah Bandara Silangit, Siborongborong, Tapanuli Utara, sudah melayani rute penerbangan tiap harinya, tak terkendala. Niat mereka selain pulang kampung, tentu ingin menghadiri perayaan Natal yang sebelumnya belum pernah digelar di Tanah Batak.

Namun, berita yang kemudian berembus perayaan itu tak jadi di Humbang Hasundutan. Tentu, masyarakat Humbang Hasundutan amat kecewa. Ada orang yang sampai meratapi diri, karena telah membeli tiket. Hal itu tentu bisa dimaklumi, oleh karena pemerintah mengambil keputusan berbeda dari sebelumnya. Keputusan tersebut sudah tentu dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang dipertimbangkan dengan matang. Mewakili kekecewaan itu, salah satu yang memberi komentar adalah anggota DPRD Sumatera Utara daerah asal pemilihan Sumut IX (Humbahas, Tobasa, Taput, Sibolga, dan Kepulauan Nias), Aduhot Simamora menanggapi pengalihan lokasi pelaksanaan Natal Nasional dari Humbang Hasundutan ke Manado.

Aduhot mengatakan, keputusan ini mengundang kekecewaan yang mendalam bagi masyarakat Humbang Hasundutan. “Kita sangat kecewa. Sejak ditetapkan di Humbang, ini menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Bahkan, dari informasi yang kita peroleh, setiap daerah antusias untuk menghadirinya, baik di kalangan gereja maupun kumpulan-kumpulan marga,” ujarnya. Hal ini boleh jadi ada benarnya, Natal Nasional menjadi kesempatan yang baik bagi masyarakat Humbang Hasundutan untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah perhelatan nasional. Namun apa hendak dikata, nasi telah menjadi bubur.

Sedari awal, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita sebagai otoritas yang ditunjuk pemerintah menjadi Ketua Umum Natal Nasional 2016 kali ini, ingin memastikan, Lukita pada 27 Agustus 2016 lalu meninjau lokasi. Tentu, kehadirannya sebagai menteri sekaligus ketua umum Natal Nasional disambut oleh Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor. Selanjutnya, setelah berbincang sejenak di rumah dinas bupati, Dosmar mengajak Sang Menteri berkeliling di area lokasi rencana perayaan Natal Nasional 2016 di tanah lapang Sirisi-risi, Dolok Sanggul.

Melihat lokasi rencana perayaan Natal Nasional yang tak layak itu, dia sempat kaget namun halus mengatakan, pihaknya akan melaporkan hasil tinjauannya secara riil melalui Sekmil, protokol dan Sekneg dan Sekda untuk kemudian diputuskan. Sudah pasti digelar rapat internal untuk memutuskan itu. “Kita lihat betul, dan kemudian nanti saya harus melaporkan dengan berbagai pertimbangan kemudian diputuskan," katanya. Sebenarnya Sang Menteri meninjau dua titik lokasi.

Dan yang paling memadai dirasa ada di lokasi perkantoran Bupati Humbang Hasundutan. “Ada dua pilihan tadi. Andainya disetujui, kita semua sepakat lokasinya yang di tempat lokasi kediaman dan perkantoran Bupati,” ujarnya. Selain itu, Mendag dan rombongan juga menyambangi pasar tradisional Dolok Sanggul yang terkesan kumuh dan becek di mana-mana, makin heranlah Sang Menteri.

Kabupaten Humbang Hasundutan sendiri walau sudah 13 tahun berdiri sampai sekarang pun belum memiliki terminal yang mengelola lalu lintas kendaraannya. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Melihat kondisi ini, Sang Menteri tersenyum seraya mengatakan, Bupati Dosmar hebat. "Inilah kehebatan Bupati Humbang Hasundutan ini, saya diajaknya ke pasar ini dan ternyata ada maksud yang terpendam,” ujarnya berselorah.

Sejujurnya melihat lokasi dan persiapan pemerintah kabupaten membuat sang ketua umum kecut, memilih alternatif untuk memindahkan. Sempat beredar kabar yang berseleweran menyebut pasca sidak menteri itu memutuskan tak jadinya Natal Nasional dipusatkan di Humbang Hasundutan, sempat pula beredar selentingan oleh tak sehatinya pimpinan daerah di kawasan ini. Kabar lain, ada tokoh yang membuat surat permohonan kepada Presiden RI agar perayaan Natal Nasional digelar di Tarutung, bukan di Dolok Sanggul.

Alasannya, karena Tapanuli Utara adalah induk dari empat kabupaten yang mekar sekarang, termasuk kabupaten Humbang Hasundutan berasal dari Tarutung. Memang dari sisi infrastruktur, Tapanuli Utara lebih siap dibanding Humbang Hasundutan. Selain itu, disebut bahwa di pusat kabupaten Tapanuli itulah pusat dari HKBP di Pearaja Tarutung. Tetapi isu itu bisa dibilang tak berdasar. Sebenarnya, problemnya bukan di sana. Alasan kuatnya karena lokasi tak layak di Sirisi-risi dijadikan tempat hajatan nasional.

Di poin ini pemerintah Humbang Hasundutan dinilai tak proaktif, tak terlihat sensitif dan gesit mengusahakan apa-apa yang selaiknya disiapkan, hanya pasrah menyediakan lapangan gelanggang olahraga kelas kelurahan untuk perhelatan nasional.

Di sisi lain, tak terlihat keseriusan dari bupati menjadikan ini momentum membawa harum nama Dolok Sanggul. Bupati dinilai tak responsif. Misalnya, dengan cepat tanggap akan keadaan, paling tidak mengajak putra-putra perantau dari Humbang Hasundutan yang telah berhasil untuk diminta membantu perhelatan itu. Enggar tentu dengan bijak menyebutkan, semula perayaan Natal Nasional direncanakan atau dipusatkan di Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, hanya untuk menutupi alasan sesungguhnnya. Agar tak mengecewakan sekali, perayaan dibuat merangkai.

Disebutkan, oleh karena ada permintaan dari Manado, maka Natal dirayakan di dua lokasi yang berbeda. Hal ini tentu tak biasa. Dan Presiden tentu menyetujui hal ini. Jokowi sendiri melihat Natal Nasional adalah kesempatan menyapa rakyatnya. Baru di masa pemerintahannya perayaan Natal Nasional dirayakan di luar Jakarta, sebagaimana sebelum-sebelumnya belum pernah ada. Tahun 2014 dipusatkan di Papua, tahun 2015 lalu di Kupang.

 

Merawat Kerukunan dan Menginspirasi

Jika bicara Natal Nasional tentu kita tak boleh melupakan sosok Letjen TNI (Purn.) T.B. Silalahi. Dialah pelopor Natal Nasional. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (1993-1998), era Soeharto memiliki strategi lain untuk menjadikan Natal Nasional. Bertolak dari idealisme dan kesadarannya mengenai pentingnya merawat kerukunan dan persatuan dalam keberagaman, T.B. Silalahi menyiratkan semangat kemajemukan dalam acara Natal Nasional.

T.B. Silalahi menyebut dengan Natal Nasional telah banyak menginspirasi agama lain. “Natal Nasional itu bukan hanya berdampak pada orang Kristen, tetapi juga orang beragama lain,” ujar mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden SBY itu. Menurutnya, konsep Natal Nasional banyak menginspirasi umat lain, merayakan perayaan agama mereka, seperti perayaan peringatan kelahiran Sidhartha Gautama (Budha), dan acara Tablig Akbar (Islam) diinspirasi dari Natal Nasional.

Awalnya dia menjumpai Presiden Soeharto ketika itu untuk meminta presiden hadir pada Natal Nasional. Soeharto tak saja hadir, malah setuju dijadikan agenda nasional, yang sebelumnya tak ada. Sejak itu Natal Nasional selalu dihadiri Presiden RI. Tentu, bagi kelompok antitoleransi yang tak suka keberagaman selalu meniupkan haram mengucapkan Natal, sebenarnya karena Presiden RI menghadirinya. Sejak itu pula ditiupkan, haram mengucapkan perayaan Natal.

Artinya perayaan Natal Nasional menjadi berbau diplomatis, dan hampir seluruhnya perayaannya pun selalu dipusatkan di Jakarta. Dalam sejarahnya Natal Nasional hanya sekali urung digelar, sebenarnya dibatalkan karena Tsunami Aceh 2004, di awal pemerintahan SBY. T.B. Silalahi punya alasan untuk itu, “Kita sebagai umat Kristen sangat merasakan penderitaan masyarakat Aceh dan Nias ketika itu. Mana mungkin (kita) bisa bersukacita secara nasional, sementara saudara-saudara yang lain terkena musibah. Oleh sebab itu diputuskan, Natal Nasional 2004 dibatalkan. Walau persiapan sudah amat bagus dan didukung pesonil 600 orang. Atas kepedulian dan solidaritas untuk merasakan penderitaan orang lain, itu penting.”

Menurutnya, yang selalu ditonjolkan dalam setiap Natal Nasional adalah hakikat kerukunan umat beragama. Mengapa? Karena konon, pameran sandiwara yang digelar Natal Nasional tiap tahun itu ada dari kalanya bukan Nasrani. Kepada pemeran tokoh utama yang bukan orang Nasrani, T.B. Silalahi mengatakan, perlu juga diingat, salah satu pendukung penting dan utama setiap perayaan Natal Nasional adalah B. Tamam Hoesein, seorang musisi terkenal kelahiran Madura beragama Islam. “Dia bukan hanya menata musik dan melakukan rekaman, tetapi juga mengatur tata suara, baik dalam sandiwara Natal maupun dalam paduan suara  yang menyanyikan lagu-lagu Natal,” ujar pendiri Yayasan Pendidikan Soposurung, itu.

 

Natal Nasional dan “Toba Lake Christmas Concert”

Perubahan perayaan Natal secara nasional tahun 2016 tak dipusatkan di Humbang Hasundutan seharusnya memang tak perlu dipersoalkan. Sebab, rangkaiannya pada 26 Desember 2016 di Humbang Hasundutan dan perayaan di Tondano, Sulawesi Utara, pada 27 Desember 2016 sudah merupakan jawabannya. Niat baik pemerintahlah yang mesti diapresiasi. Sesungguhnya kehadiran Presiden RI di tanah Batak juga dalam rangka kunjungan kerja dan meresmikan Geotermal, proyek panas bumi Sarulla di Kabupaten Tapanuli Utara,  setelah itu pelabuhan di Kota Bitung.

Rangkaiannya, Presiden RI akan meresmikan Geotermal pada 26 Desember 2016. Sorenya menghadiri Natal di Humbang Hasundutan. Pada 27 Desember 2016 pagi, Presiden RI akan bertolak ke Manado, untuk kemudian menghadiri puncak Natal Nasional di Tondano, Kabupaten Minahasa.

Senada dikatakan Wakil Ketua Panitia, Marim Purba menyatakan, perayaan Natal Nasional 2016 yang awalnya direncanakan dipusatkan di Dolok Sanggul dialihkan ke Manado, Sulawesi Utara. Maka ada revisi SK kepanitiaan yang diterbitkan Menteri Agama menjadi dua aktivitas dengan sub panitia: (a) Panitia Natal Nasional dan (b) Panitia Aksi Natal dan Toba Lake Christmas Concert.

"Aksi Natal tanggal 16 sampai dengan 18 di daerah Tapanuli dan sekitarnya diakhiri Toba Lake Christmas Concert di Dolok Sanggul. Selanjutnya Natal Nasional dipusatkan di Manado tanggal 27 Desember 2016," jelas mantan Wali Kota Pematang Siantar dan bekas Ketua Umum PP GMKI itu.

Manariknya lagi, sejak digelar Natal Nasional oleh pemerintah, dua organisasi gereja Protestan dan Katolik selalu dilibatkan, yaitu Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Kedua lembaga ini juga selalu seia sekata menetapkan tema nasional yang akan dipakai pada Natal Nasional. Untuk tahun 2016 ini tema Hari Ini Telah Lahir Bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, Di Kota Daud.

Kedua organisasi gereja itulah yang selalu dirangkul Pemerintah untuk menggelar Natal Nasional. Bahkan kedua organisasi gereja ini selalu kompak untuk menyampaikan pesan Natal bersama. Tentu hanya sebatas Natal, belum pada perayaan yang lain, seperti perayaan Paskah. Lucunya, Natal Nasional tak hanya dianggap seksi oleh kalangan birokrat, pada pejabat gereja sendiri melihatnya seksi. Di kalangan kaum Protestan sendiri ada tujuh aras gereja dari 326-an sinode yang ada.

Dari tujuh aras tiga aras yang terbesar, yaitu PGI, PGLII dan PGPI. PGLII dan PGPI kedua lembaga ini belum pernah dilibatkan pemerintah untuk merayakan Natal Nasional. Oleh perasaan tidak dilibatkan itu, pernah terlontar dari salah satu pimpinan aras. “Harusnya pemerintah tak hanya mengajak PGI. Kami juga sepantasnya dapat giliran untuk dilibatkan,”  katanya.

Menjadi pertanyaan, apakah karena tak diundang menjadi bagian mitra Pemerintah dalam menggelar Natal Nasional, atau merasa bahwa ensensi perayaan titik puncaknya di Natal Nasional? Padahal, kalau kita kembali ke makna Natal, intinya bagaimana merayakan kelahiran Yesus dengan menerima kesederhanaan. Tak boleh menjadikan solah-olah Natal Nasional puncak dari perayaan Natal negeri ini. Patut direnungkan sebagai warga negara dan bangsa Indonesia Nasrani, bukankah Yesus lahir di kandang domba, di ruang dina hina. Karena itu, Natal Nasional tak boleh ajang politis.
 
  • Penulis adalah jurnalis, penulis buku, motivator dan Wakil Ketua Umum DPP Pewarna (Persatuan Wartawan Nasrani) Indonesia.
 

Berita Terkait