Menyoal Pelayanan Pelepasan Terhadap Roh-roh Jahat

1487 dibaca
Pdt. Dr. Jaharianson Saragih, M.Sc.

BERITANARWASTU.COM. Ketua STT Abdi Sabda, Medan (2014-2016), Pdt. Dr. Jadiaman Perangin-angin dalam buku berjudul Pelayanan Pelepasan dan Dampak Positifnya, yang dieditori Pdt. Dr. Jaharianson Saragih, M.Sc ini menulis dalam sambutannya, topik buku ini biasanya ranah yang dibahas oleh kaum Injili dan Kharismatik. Tapi lewat buku ini mau ditegaskan bahwa wilayah pelayanan pelepasan atau Deliverance Ministry juga ranah pelayanan gereja-gereja main line Protestan.

                Buku ini, katanya, lahir dari hasil pergumulan dan pengalaman pelayanan para praktisi pelayanan pelepasan, baik di STT Abdi Sabda maupun para Hamba Tuhan dari berbagai anggota UEM (HKBP, GKPI, GKPA, HKI, GKPS, BNKP, ONKP, GKPPD dll) yang turut ambil bagian dalam pelayanan ini.

                Buku yang terdiri dari 7 bab, dan tebal 404 halaman ini, memang menarik dan penting disimak agar umat Kristen bisa menaklukkan kuasa roh-roh jahat. Dan di buku ini pun banyak diungkap kasus-kasus atau kejadian seputar pelayanan yang mengusir kuasa-kuasa kegelapan (kuasa jahat). Dan ada pula di buku ini dibuat kesaksian-kesaksian yang lepas dari pengaruh roh jahat. Selain itu, di dalam buku ini ada dibahas tentang dasar Alkitabiah untuk memahami kisah tentang roh jahat, tentang okultisme, mengenai dukun dan santet serta praktik pelayanan pelepasan.               

Ditulis di buku ini, Deliverance Ministry atau pelayanan okult somatik merupakan ranah pelayanan baru di kalangan gereja main line Protestant. Umumnya ranah ini dikuasai oleh gereja-gereja Injili dan Kharismatik. Ketika ada kasus-kasus kesurupan, korban guna-guna, atau santet, yang dipanggil umumnya pendeta-pendeta dari gereja mereka. Mengapa demikian? Alasannya sederhana saja, sekolah-sekolah teologi yang dimiliki gereja-gereja main line Protestan tidak mengajarkan di kampus.

Ketika di lapangan ada kasus-kasus beyond reason atau karena gangguan kuasa gelap atau okult, umumnya pendeta-pendeta Protestan mengambil dua sikap. Pertama, itu tidak ada, itu salah diagnosa. Kedua, tidak mampu berbuat apa-apa karena tidak pernah mendalaminya ketika di perkuliahan. Buku ini hadir dalam rangka mengisi gap di atas. Buku ini sejatinya ditulis oleh pendeta-pendeta Protestan yang mendalami pelayanan pelepasan dan melakukanya secara bersama-sama. Kehadiran buku ini bisa membawa pencerahan atau  “kelepasan” bagi para pembaca yang mampu membaca buku ini dari awal hingga akhir.

             Editor buku ini, Pdt. Jaharianson Saragih Sumbayak adalah dosen Pastoral Konseling di STT Abdi Sabda, Medan. Ia juga dosen tidak tetap untuk program Pasca Sarjana, baik di STT Methodist, Bandar Baru dan STT HKBP Nommensen, Pematang Siantar. Pria yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan NARWASTU” ini menggunakan pendekatan Psikospiritual dalam intervensi konselingya. Ia pernah menjadi Ketua di STT Abdi Sabda (2004-2007), dan Direktur Pascasarjana di STT yang sama pada 2007-2010 lalu.

          Selain itu, pernah  menjadi  Ephorus (Ketua Sinode) di GKPS pada 2010-2015. Sejak tahun 2015 kembali ia menjadi dosen tetap di STT Abdi Sabda. Di tingkat internasional (UEM) Pdt. Jaharianson ikut berkontribusi dalam workshop tentang topik ini di Wupertal, Jerman, pada 2014. Ia pun anggota Council LWF (PAW) 2004-2007. Di samping mengajar  Pdt. Jaharianson aktif pula melakukan pelayanan konseling dan pelepasan.

           Pdt. Jaharianson Saragih pun penanggungjawab pelayanan pelepasan massal (dihadiri lebih dari 300 peserta) yang diadakan setiap tahun, dan dilayani oleh Tim Pelayanan Pelepasan dari GKPS, GBKP, GKPI, GKPA, HKBP, HKI, yang sungguh menjadi berkat bagi para mahasiswanya dan jemaat yang menghadirinya. Pdt. Jaharianson Saragih yang juga salah satu Penasihat Majalah Kristiani NARWASTU, meskipun ia bermukim di Medan, dapat dihubungi di 0853-6247-3670 atau di revjaharianson@mailcity.com. TD

Berita Terkait