Menyoal Posisi Agama di Tengah Kekuasaan dan Sebaliknya

320 dibaca


Beritanarwastu.com. Menarik disimak buku berjudul Agama Kekuasaan dan Kekuasaan Agama, yang ditulis pendiri dan mantan Ketua Umum DPP API (Asosiasi Pendeta Indonesia) ini. Soalnya, ada dibahas mengenai dahsyatnya agama saat berkuasa, dan pengaruh kekuasaan terhadap agama. Di cover buku ini, ada pula ditampilkan enam foto tokoh dunia, yang tak asing lagi, seperti Paus Paulus Johanes II, Paus Benediktus, Barrack Obama, Usamah bin Ladin.

Buku setebal 250 halaman ini juga memuat pendapat tokoh-tokoh berpengaruh, seperti Gus Dur (alm.). Buku ini nampaknya ditulis saat Gus Dur yang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) masih hidup. Terlebih DR. Tjahyadi Nugroho sebagai pendeta, yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2016 Pilihan Majalah NARWASTU”, dulu cukup dekat dengan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang juga mantan Presiden RI. “Karena penulis beranggapan, bahwa acuan yang sudah ada sudah sangat baik, dan tidak memerlukan pembahasan lagi. Adanya kesungguhan karya tertulis ini sudah menunjukkan adanya kesungguhan tersebut, dan dalam membuat makalah pengantar penulis justru tidak ingin ‘merusak’ kandungan buku ini, tulis Gus Dur.

             Sedangkan Prof. Jalaluddin Rachmat menulis, “Apa yang diketengahkan oleh Tjajadi Nugroho barangkali secara prinsip tak jauh berbeda dari ide pokok para pelopor terdahulu. Namun demikian, kejujuran dan keterbukaan yang dikemukakan oleh seorang Tjahjadi Nugroho, cukup melegakan. Sebagai agamawan, ia mencoba menemukan solusi dalam menyelesaikan konflik kemanusiaan yang berkepanjangan ini. Dalam konteks globalisasi, Tjahjadi Nugroho mencoba menawarkan sebuah reformasi institusi keagamaan.”

             Ditulis lagi di buku ini, “Agama Kekuasaan dan Kekuasaan Agama sebuah tulisan yang menantang kita untuk memperbaharui sikap beragama dan sikap politik umat beragama menghadapi globalisasi. Beranikah Anda mempercayai Kitab Suci sebagai sumber kebenaran? Atau beranikah Anda melepaskan Kitab Suci sebagai dasar moral? Globalisasi akan membawa damai sejahtera di dunia atau kiamat?

            Dalam tulisan Bab II di halaman 34-35 ada ditulis, tiap pembaca sejarah kiranya akan takjub – atau paling tidak heran – menyaksikan bahwa pola suksesi menurut sebuah nubuatan yang diberikan enam ratus tahun sebelum tarikh Masehi. Ketakjuban ini mendorong kita untuk bertanya, apa maksud Allah memberitahukan semuanya ini? Dan mengapa Ia menyingkapkan semua rahasia sejarah itu melalui Daniel?

           Kesadaran sejarah, menurut Agnes Heller (1982:4), adalah jawaban terhadap pertanyaan fundamental, “Dari mana kita datang? Siapakah kita? Ke mana kita pergi? “Allah menyingkapkan sejarah kepada umat manusia melalui Kitab Suci karena Ia ingin memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan fundamental itu. Ia memilih para nabi untuk menyampaikan segala rancangan-Nya bagi umat manusia. Rancangan itu tidak acak, melainkan sesuai dengan suatu gambaran besar rencana Allah.

           Kitab Suci mendobrak kesadaran waktu yang siklis dari bangsa-bangsa yang hidupnya dialasi mitos. Dunia mitos tidak mengenal sejarah. Baginya hidup seperti lingkaran yang tidak ada awal dan tidak ada akhir, terus berputar seperti roda. Ia tidak memilah masa lampau, dari masa kini, atau masa depan. Dan dalam dunia mitos, tugas manusia adalah melebur ke dalam lingkaran (siklus) itu dengan melakukan berbagai ritus. Dengan ritus-ritus itu, manusia masuk ke alam kekekalan, dan bertindak seperti aktor-aktor dalam mitos.

               “Bangsa-bangsa di sekeliling Israel berpikir dengan cara mitologis, siklis. Akan tetapi, Allah Israel mengajarkan umatNya kesadaran yang berbeda. Di dalam Kitab Suci, waktu bukan lingkaran, namun seperti garis lurus. Artinya, sejarah memiliki awal dan akhir. Waktu yang lampau tidak mungkin diulang kembali. Masa lampau bukan masa kini, dan masa kini bukan masa depan. Ini tidak berarti bahwa masa lampau itu lenyap. Ia tetap ada menjadi landasan bagi masa kini. Sementara itu, masa depan adalah kemungkinan-kemungkinan, bagaimana persisnya peristiwa esok tidak ada yang tahu,” tulisnya.

                Oleh karena itu, ditulis lagi, peristiwa dan perbuatan setiap manusia pada setiap zaman punya andil untuk menuju kepada ujung sejarah. Sejarah punya tujuan. Setiap penggalan masa adalah sebuah kemajuan kreatif menuju suatu takdir (destiny)  di depan sana.  Melalui nubuatan, Allah mempertunjukkan kepada kita kilasan-kilasan ujung sejarah. Bagi agama-agama keturunan Abraham, sejarah bergerak dari peristiwa penciptaan, kepada kejatuhan manusia ke dalam dosa, kemudian penebusan, dan terakhir adalah Hari Penghakiman atau Hari Akhir atau Kiamat (the doomsday). Buku ini, sekali lagi menarik dan penting dibaca, meskipun kita diajak berpikir serius untuk memahaminya. Buku ini diterbitkan Sadar Publications. KT

Berita Terkait