Jefri Kadang, S.E.
Merangkul Generasi Milenial dengan Nilai-nilai Kristen

2935 dibaca
Jefri Kadang, S.E. (Koordinator Departemen Mahasiwa GKPB Fajar Pengharapan, Bandung).

BERITANARWASTU.COM. Pria asal Indonesia Timur ini patut diacungi jempol, karena peduli pada persoalan dan aktivitas kaum muda gereja. Di Sinode GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru) MDC (Masa Depan Cerah) dan GKPB MDC Fajar Pengharapan, Bandung, ia giat memotivasi kaum muda, misalnya, lewat acara “Image Leadership Summit.” Acara ini diadakan selama empat hari, dan pada 2016 lalu diadakan di Jakarta, dan 2017 di Bali, serta diikuti 120 orang kaum muda gereja di lingkungan GKPB MDC yang disiapkan jadi calon-calon pemimpin. 

Lalu pada 2017 mereka pun mengadakan “Global Youth Leadership Summit” yang dikuti 700-an pemuda dari berbagai gereja. Acara ini diikuti kaum pelajar dan mahasiswa. Dan mereka diajak agar bisa menyikapi perkembangan dunia dan kemasyarakatan dengan dasar nilai-nilai Kristen. Menurut Koordinator Departemen Mahasiwa GKPB MDC Fajar Pengharapan, Bandung, Jefri Kadang, S.E., geliat anak muda kini tengah berkobar. Ketertarikan para kaum muda di pelbagai bidang, seperti olahraga, teknologi, science, seni budaya dan lain sebagainya menandakan mereka energik, pontensial dan terbuka pada hal-hal baru.

Itu pula yang dilakukan oleh GKPB MDC Fajar Pengharapan, Bandung, yang sudah mengadakan sejumlah event besar, salah satunya Sync Youth Conference yang dilaksanakan pada Agustus 2017 lalu. “Kami mengadakan Sync Youth Conference yang bukan seperti pelayanan atau KKR biasa. Kami lihat ada kegelisahan anak muda. Dalam arti, kalau mereka panggil dengan millenials, mereka sedang ingin melakukan sesuatu melalui calling-nya dari Tuhan. Ada yang ingin ke pemerintahan, ada yang ingin melakukan sesuatu yang sosial dan berdampak ke masyarakat, ada pula yang ingin terjun ke pendidikan dan lain sebagainya. Nah, bagaimana mereka bisa mencapai hal itu, dan apa yang dibutuhkan. Di sinilah kami coba pertemukan dengan orang-orang yang sudah berhasil di bidangnya,” terang Jefri Kadang. 

Salah satu pembicara di acara tersebut adalah Edho Zell. Dikenal sebagai ikon anak muda dan tengah digandrungi melalui karya-karyanya sebagai Youtuber. Dalam sharing bersama sang kreator spesialis video lucu dan parodi itu, dipesankan agar peserta bisa melihat dan terinspirasi dengan rekam jejak sang Youtuber. Alasan lain, menurut Jefri, generasi milenial adalah generasi yang pintar luar biasa, melek teknologi dan tahu keadaan sosial. Mereka mengetahui segala sesuatu, dan punya energi. Akan tetapi, kendalanya ke mana dan siapa orang yang bisa dihubungi serta langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan itu.

Katanya, menurut statistik, yang ada justru Indonesia sedang mengalami bonus demografi. “Artinya jumlah anak muda semakin bertambah dibandingkan populasi yang lebih tua dan anak kecil, puncaknya tahun 2020. Jumlah anak muda yang smart dan passionate dengan hal sosial. Kemudian tahu apa yang semestinya dilakukan itu menjadi tantangan gereja untuk memperlengkapi mereka, termasuk karakter dan kerohaniannya. Sehingga mereka bukan menjadi beban bagi masyarakat, tapi menjadi modal di masyarakat,” tegas lulusan Universitas Kristen Maranatha, Bandung, ini.

 Jefri Kadang yang punya satu anak dari istri Tetty Ruth Lumban Tobing, menilai tantangan itu  merupakan kesempatan yang dianggapnya sebagai golden moment untuk gereja. Ia berpendapat, anak muda yang cerdas dan melek teknologi sudah seharusnya diwadahi gereja, dan jangan mengajar surga terus, tetapi bukan kerajaan surga. “Kita perlu bergerak, dan ada sesuatu yang dicontoh. Misalnya, masalah sosial bagaimana melakukan gerakan daur ulang. Ada gereja yang concern dengan masalah tersebut. Nah, ini harus difasilitasi,” jelasnya.

 Tanpa ingin menghakimi gereja, menurut pria kelahiran Gorontalo 40 tahun lalu itu, jika ada gereja yang kurang meresponi tantangan itu, ia sangat mengerti bahwa setiap gereja memiliki pergumulan masing-masing. “Tapi sekali lagi, kalau tak diberi ruang untuk anak-anak muda ini kumpul, dan tidak diberi waktu untuk berinvestasi dalam kehidupan mereka, suka atau tidak suka, mereka akan mejadi leader atau pemimpin. Suka atau tidak suka, akan ada orang yang akan meneruskan gereja dan akan memimpin, dan bisa jadi mereka. Tapi mereka tidak mengerti nilai-nilai gereja. Dan visi dan misi awal itu bisa menjadi kendala luar biasa untuk kelanjutan bagi gereja. Saya pikir gereja besar atau kecil semestinya bersinergi untuk bisa membawa masalah ini sesuai kekuatan gereja masing-masing,” tukas Jefri.

 Jefri menjelaskan, anak-anak muda itu menyukai hal-hal rohani. Hanya saja gereja membekukan dengan pola-pola tertentu. Sebut saja untuk format doa harus sesuai dengan pakem yang dianut generasi sebelumnya. Maka ketika tidak sesuai dengan format yang ada dianggap sesat dan tak berkualitas. “Padahal intinya sama. Mereka tahu cuma dipaksakan metode lama kepada mereka. Anak muda itu menolak cara, bukan isi,” tukas Jefri memberi contoh generasi sebelumya yang lebih menyukai membaca Alkitab menggunakan manual book dan bukan handphone.

Pria yang juga anggota Komisi Peningkatan Kualitas Gereja di Majelis Pusat Sinode GKPB ini berharap agar gereja tak lagi menunggu bola, melainkan menjemput bola. Dengan kata lain, kata pria yang berperan menyukseskan “Global Youth Leadership Summit” ini, sudah seharusnya gereja menghampiri anak muda. “Bisa melalui olahraga, seni musik dan entrepreneurship,” ujar Jefri yang ketika menggelar “Global Youth Leadership Summit” bersama timnya, karena mampu mengadakan acara yang menggalang ratusan pelajar dan mahasiswa Kristen, mendapat penghargaan dari Amerika Serikat, yaitu Excellence Award dari Witlow Creek Association. “Dengan begitu, kita bisa membagi nilai-nilai kekristenan. Sehingga mereka tahu kalau ada firman Tuhan juga dalam berbisnis, berolahraga dan bidang lainnya yang bisa mereka terapkan. Akhirnya pelan-pelan bisa menjadi bagian di dalamnya,” ungkap Jefri. BTY

Berita Terkait