Move On dari Teori Maslow

• Oleh: Hojot Marluga 135 dibaca
• Penulis adalah jurnalis dan penulis buku.

 

Beritanarwastu.com. Menemukan passion berarti mendekatkan hati, batin kepadaNya, Sumber Kreasi Utama. Perjumpaan itu, tentu menyentuh sisi spiritual. Bukan hanya menyentuh fisik tetapi psikis. Tak saja jasmaniah terjamah, namun rohaniah pun disinggung. Itulah yang membawa diri makin kreatif. Ada kepuasan batin yang tak terbahasakan, yang tak mungkin bisa dihitung dengan materi. Perjumpaan itulah yang membawa keunggulan, unggul dalam berkarya. Artinya, jika sudah menyentuh fisik spiritual akan menjadi motivator terayal dalam diri. Dan itu menjadi kekuatan luar biasa dahsyat.

Iramanya dimulai dari menemukan kesukaan (passion), mengutamakan keabadian tadi terlebih dahulu, yaitu aktualisasi diri, baru berikutnya kebutuhan yang lain menyusul. Sebagaimana dalam (Matius 6:33) dikatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Di sini ada proses yang mesti dilalui. Proses mencari yang abadi dan utama.

Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk itu. Mencari kerajaanNya berarti menempatkanNya sebagai prioritas utama di hidup kita. Ada ketaatan di sana saat mencari keutamaan yang bermakna. Kesadaran tersebut mendahulukan yang sepatutnya lebih dahulu. Menemukan esensi, dengan pencarian menemui Pemberi Hidup. Dan  janjiNya tegas, orang yang mencari keutamaan itu dan menemukanNya, maka akan diberikan juga hal-hal yang lain. Di sini passion sebagai aktualisasi diri, presisi di dalam menanamkan pada diri kemampuan, semampu yang bisa dilakukannya. Jika mengacu pada teori Abraham Maslow tingkatan kebutuhan manusia tentu hal ini bertentangan, menemukan passion sebagai keutamaan. Tak ada singgungan malah beririsan.

Abraham Maslow (1908-1870) yang kita tahu seorang teoritikus yang banyak memberi inspirasi dalam teori kepribadian di jagat ini. Awalnya, dalam teorinya menyebut, bahwa ada tingkatan kebutuhan manusia, dan yang berada di puncak adalah aktualisasi diri. Sebelum menemukan kebutuhan yang tertinggi itu “aktualisasi diri” seseorang mesti terlebih dahulu memenuhi memenuhi kebutuhan dasar, baru kemudian kebutuhan-kebutuhan tingkatan berikutnya. Diawali dari kebutuhan dasar, pangan, sandang dan papan sebelum ke aktualisasi diri.

Baginya, sebelum kebutuhan-kebutuhan di atas tersebut terpenuhi tak mungkin seseorang bisa sampai pada kebutuhan tertingginya, yaitu aktualisasi diri. “Tak ada orang yang miskin materi bisa beraktualisasi.” Nyatanya tak berlaku lagi teori usang itu di era sekarang. Era ini tentu berbeda di masa Maslow, sekarang era globalisasi yang kadang juga disebut era mondialisasi berarti zaman yang di dalamnya terjadi proses mendunia.

Bahkan, generasi sekarang disebut generasi millennial, oleh karena lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet yang berperan besar dalam kemajuan peradaban manusia. Oleh futurolog, Alvin Toffler menyebut gelombang ketiga atau era teknologi informasi di mana yang bercokol adalah kemampuan daya pikiran manusia menggunakan teknologi informasi sebagai kekuatan modal. Maka di era ini sesungguhnya (passion) aktualisasi diri menjadi maha penting. Kesempatan untuk menemukan aktualisasi diri di era ini terbuka lebar.

Orang yang menemukan passion-nya akan lebih berpeluang untuk menjadi smart di bidangnya, oleh karena dibantu teknologi informasi itu. Dan di era ini orang-orang yang menemukan terlebih dahulu passion-nya, kata lain menemukan aktualisasi dirinya, akan eksis berkelanjutan oleh dibantu media publikasi (media sosial). Orang yang eksis selanjutnya kebutuhan yang lain menyusul. Sebenarnya, Maslow di akhir hidupnya menyesal oleh teorinya yang kemudian banyak diadopsi di seluruh dunia. Bahkan, sebelum meninggal dia menunjukkan penyesalannya itu, dan berpesan agar teori tersebut direvisi.

 

Banyak Disalahtafsirkan

Mengapa? Belakangan Maslow baru menyadari bahwa teorinya, kebutuhan fisik (fisiologis) itu tak selalu pertama, justru yang baik adalah memulai dari aktualisasi diri, menemukan passion. Artinya Maslow sadar bahwa teorinya terbalik, dan mungkin di jamannya bisa menjadi kiat hidup eksis, tetapi sekarang telah basi. Sekarang, untuk bisa eksis mestinya pertama dijadikan sumber motivasi seseorang adalah menemukan passion-nya (aktualisasi diri), bukanlah kebutuhan perut. Tetapi kebutuhan kebermaknaan (aktualisasi diri). Kata lain, bila seseorang terlebih dahulu berusaha untuk memuaskan kedahagaan batinnya akan makna di perkerjaan.

Aksinya tak hanya kata-kata, tetapi merasuk di hati menjadi reaksi. Sudah tentu seseorang itu akan berprestasi, berusaha berbuat kemanfaatan yang lebih purna lagi di pekerjaannya. Dan bisa dikatakan, tak pernah orang yang sudah menemukan passion-nya terlebih dahulu, aktualisasi dulu, tak mungkin hidup jadi pengemis, terhinakan oleh karena passion-nya yang tak mampu membutuhi kebutuhan primernya. Tak ada orang yang menemukan passion (bertalenta) kelaparan. Mungkin tak selalu melimpah materi atau kaya, tetapi status sosial akan aktualialisasi yang terpenuhi itu membawa kebahagiaan pada sanubarinya.

Itu juga sebab, teori Maslow yang dulu mengilhami banyak orang justru untuk menjadi tamak. Hanya orang-orang yang punya materilah yang dianggap bisa sampai tingkat aktualisasi diri. Justru teori itu menyesatkan oleh karena selalu mempersoalkan kebutuhan perut yang utama. Sekali-kali bukan berarti tak perlu memikirkan kebutuhan sandang, pangan, papan itu, tetapi jika sudah menemukan passion-nya “aktualisasi diri” akan ada sesuatu yang misteri dan kata sudah lebih dari cukup bisa diterima.

Tetapi orang yang masih terkooptasi belum move on dari teori Maslow akan semakin rakus mencari materi dan kebutuhan perut semata. Harta yang ada masih terus kurang dan selalu kurang. Lupa mencari kebermaknaan hidup, menemukan passion-nya di panggilan hidup di keabadian. Selama ini, seperti yang kerap kita dengar, teori Maslow ini juga banyak disalahtafsirkan oleh orang-orang yang malas, dan menjustifikasi alasannya bekerja hanya untuk kebutuhan fisik semata. Orang menjadi malas mengaktualisasikan diri, menemukan passion-nya makna di kehidupan.

Pada akhirnya potensi atau bakatnya jadi terkubur, dan menuding itu semua karena kemiskinan, atau alasan lain. Padahal itu hanyalah soal sikap dan respon, pilihan menemukan esensi. Jadi, tak tepat jika belum menemukan passion mempersalahkan nasib atau keadaan. Di sinilah perlu sikap, kedewasaan cara berpikir. Maka, orang yang masih beralasan ketiadaan menemukan passion-nya, berdalih oleh latar belakang kemiskinan dan keadaan orangtua yang membuatnya demikian. Itulah sesungguhnya penyakit yang membuat diri takut bertindak, tak berani menemukan passion-nya.


 

Berita Terkait