Mukjizat atau Kuasa Tuhan

• Oleh: Pdt. Tjepy Jones Budidharma 424 dibaca
Pdt. Tjepy Jones Budidharma

BERITANARWASTU.COM. Menurut Kamus Umum Bahasa Inggris, arti kata: Miracle atau mukjizat adalah: kejadian yang melawan hukum alam, yang sepenuhnya dilakukan oleh Allah tanpa campur

tangan manusia. Karakteristik mukjizat ini adalah seluruhnya supernatural, dan selalu terjadi pada saat krisis, dengan tenggang waktunya terbatas. Jadi kalau kita mau hidup dari mukjizat kepada mukjizat, itu artinya kita hidup dari krisis kepada krisis, siapa yang mau? Mukjizat adalah bagian dari blessing, di mana rentang waktu blessing adalah kekal.

   Blessing merupakan kombinasi supernatural dan natural serta tidak terpengaruh oleh masa krisis atau tidak krisis. Blessing tidak terbatas pada materi saja, perhatikan dua ayat berikut, pertama, Amsal 10:22,  “BERKAT Tuhanlah yang menjadikan kaya…” Kedua, Ulangan 8:18, “…Dialah yang memberikan kepadamu KEKUATAN untuk memperoleh kekayaan

Dari kedua ayat di atas disimpulkan bahwa blessing adalah power, karena keduanya mengerjakan hal yang sama. Kehidupan orang percaya di dalam Kristus Yesus memiliki kodrat Ilahi, karena rohnya satu dengan Roh Allah (1 Kor. 6:17), yang kemudian berkuasa atas yang natural, yaitu pekerjaan, rumah tangga, pelayanan, dll. Blessing atau power itu sendiri adalah kuasa Allah yang menjadi Firman, seperti dijelaskan dalam Ibrani 1:3 KJV, ”…upholding all things by the WORD of HIS POWER…

Sejak awal penciptaan, Allah menetapkan manusia untuk hidup di dalam Blessing, Kejadian 1:28,Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, dst…” Kita lihat di sini bahwa kapasitas blessing ini ditransfer melalui perkataan Allah kepada Adam untuk berkuasa dan bekerja memelihara Taman Eden, karena hanya manusia yang memiliki kapasitas Allah yang bisa meneruskan memelihara ciptaan Allah.

Blessing yang sama juga ditransfer Allah kepada Nuh untuk berkuasa memperbaharui bumi yang baru saja terkena banjir besar, bangkai di mana-mana, dan kerusakan alam yang dahsyat. Blessing yang sama juga turun kepada Abraham untuk menjadi bangsa yang besar. Jadi blessing tidak tergantung dari keadaan di sekitarnya, karena blessing adalah kekuatan Allah untuk membuat padang gurun menjadi Taman Eden (Yesaya 51:2-3).

Waktu Allah membawa keluar umat Israel dari Mesir, Allah menjanjikan blessing, yaitu menuntun mereka keluar dari Mesir ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Tetapi karena ketidakpercayaan mereka, akhirnya Tuhan mengizinkan mereka masuk padang gurun selama 40 tahun dan di situlah Allah memelihara mereka dengan mukjizat demi mukjizat, Allah memberi makanan roti manna setiap hari dan daging burung puyuh.

Manakala mereka memberontak, maka mereka dipagut ular, tetapi Allah memberi mukjizat kesembuhan dengan memandang kepada ular tembaga yang adalah gambaran Kristus. Inilah kondisi bangsa Israel yang hidup di dalam ketidakpercayaan dan di bawah murka Allah (Ibrani 3:17-19). Mukjizat roti manna itu berhenti pada saat mereka memasuki Tanah Kanaan (Yosua 5:12). Selanjutnya di bawah pimpinan Yosua, bangsa ini berjalan di dalam blessing dan menikmati kemenangan demi kemenangan. Kalau kita membaca Ulangan 28 mengenai janji berkat, kita akan melihat bagaimana blessing yang supernatural bekerja menguasai semua sisi kehidupan yang natural.

Blessing selalu dimulai dari Firman yang adalah Roh. Sekarang Tuhan Yesus adalah blessing atau Firman yang menjadi manusia. Setelah Yesus bangkit dari maut, maka kita orang percaya berada di dalam Dia, dan Kristus sekarang menjadi kehidupan kita (Kol. 3:4). Jadi sekarang, kita di dalam Kristus sebagai pembawa blessing, dan manakala kita sendiri memerlukan mukjizat dalam kehidupan kita, maka blessing di  dalam kita siap melakukannya. Tidak ada yang salah dengan mukjizat, tetapi marilah kita hidup di dalam blessing.

Sekarang setiap orang percaya dapat memberkati kehidupannya, keluarga, pekerjaan, bahkan bangsa dan negara di mana dia tinggal. Jangan pernah keluar kutuk atau cercaan dari mulut kita tetapi berkatilah. Kitab 1 Petrus 3:9-10 menulis,Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”

 

  • Penulis adalah Gembala Sidang GKBI Kasih Karunia, Jakarta.
    Tersedia seri khotbah melalui Youtube oleh Pdt. Tjepy Jones.            

 

Berita Terkait