Nah, Ini Dia Figur yang Layak Menjadi Ephorus HKBP

1059 dibaca
Cendekiawan dan pejuang HAM, T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.PdK.

beritanarwastu.com. Pendeta tetaplah manusia biasa yang punya kekurangan, namun mereka pun punya kelebihan. Mereka juga Hamba Tuhan yang menurunkan berkat Tuhan kepada jemaat. Demikian juga calon-calon Ephorus Gereja HKBP (Hurian Kristen Batak Protestan) yang kini sedang bertarung sengit di Sinode Godang HKBP pada 12-18 September 2016 ini di Seminari Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut), mereka figur yang punya kekurangan dan kelebihan. Mereka tetap gembala jemaat yang kita harapkan bisa meniru teladan Tuhan Yesus sebagai Gembala yang Baik.

Demikian diungkapkan cendekiawan terkemuka dari HKBP yang juga pejuang HAM, T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.Pd.K kepada NARWASTU. Advokat/pengacara senior yang dikenal vokal dan berani ini, selama ini giat mencermati figur-figur pemimpin di HKBP. Makanya, pria yang juga Ketua DPD PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) DKI Jakarta dan Penasihat LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Pers Indonesia ini mengharapkan agar yang terpilih di Sinode Godang HKBP adalah ephorus yang berjiwa melayani, mau hidup kudus dan tidak terkontaminasi dengan kekuatan ekonomi dan politik di negeri ini.

                “Pdt. Dr. Robinson Butarbutar selama ini aktif melayani di luar negeri, dan jaringannya bagus, serta tak terdengar hal-hal negatif terhadap dirinya, serta punya kerohanian yang cukup baik. Pdt. Robinson layak jadi Ephorus HKBP, namun dia harus bisa membawa HKBP agar lebih modern dan tidak terkontaminasi dengan kekuatan eksternal di luar HKBP. Pdt. Dr. Darwin Tobing pun berpeluang besar untuk menang. Dia lama di HKBP dan tahu persoalan di HKBP. Namun apakah dia punya paradigma baru untuk meningkatkan pelayanan dan citra HKBP. Itu mesti mereka jawab dengan hatinya,” ujar calon Doktor Ilmu Tata Pemerintahan dan Dosen Luar Biasa bidang hukum bisnis  di Universitas Trisakti Jakarta, ini.

                Jose Silitonga yang giat juga mengadvokasi warga gereja yang ditindas dan didiskrimansi ini, berpendapat, calon-calon Ephorus HKBP mesti banyak berdoa. “Tanyalah dengan jujur ke hati nurani, apakah memang mereka mau jadi Ephorus HKBP karena panggilan atau karena dorongan kekuatan eksternal di luar HKBP,” pungkas Penasihat Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) yang pernah mengadvokasi masyarakat yang terlibat konflik antaretnis di Kalimantan Tengah (2001) itu.

         “Mereka mesti sempatkan waktu bersaat teduh untuk berbicara dengan Tuhan lewat doa dan membaca FirmanNya. Tuhan bisa menggerakkan para peserta Sinode Godang untuk memilih pemimpin yang baik tanpa perlu diberikan uang saku atau janji-janji manis. Kita harus jaga kekudusan di HKBP agar jangan ada money politics. Kita pun harapkan dan doakan agar jangan ada politisi tertentu yang ingin memanfaatkan pimpinan HKBP baru nanti untuk kepentingan Pemilu 2019, pilkada atau pencalegan. Pemimpin gereja mesti berperan menyuarakan suara nabiah dan mau mengkomunikasikan nilai-nilai moral ke publik,” pungkas pria yang tahun 2013 lalu sempat disebut-sebut sebagai calon Bupati Tapanuli Utara.  

          “Rusak gereja yang kita banggakan ini (HKBP) kalau ada yang main kotor dengan iming-iming uang. Para mantan Ephorus HKBP pun harus berani dan mesti tegas bicara agar jangan ada yang membuat HKBP seperti partai politik. Ini organisasi agama Kristen yang diberikan Tuhan untuk menjadi berkat di Indonesia,” ujar peraih award sebagai “Pahlawan Bumi Pilihan Walhi (2003)” dan salah satu “Tokoh Pejuang Kristiani 2007 Pilihan NARWASTU” ini. TR

Berita Terkait