Hojot Marluga
NARWASTU Tak Menyebarkan “Aroma Amis”

2086 dibaca
Hojot Marluga

Beritanarwastu.com. Media sangat kuat mempengaruhi. Saat saya menulis buku Sang Apostel Batak: Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen yang diterbitkan Jala Permata, 2011, kebetulan salah satu yang memberi endorsement, Bang Jonro I. Munthe, pendiri Majalah NARWASTU (Januari 2010). Namun, yang mau saya jelaskan ialah, saat saya menulis buku tersebut, saya menemukan data, sebelum Nommensen muda meneguhkan hati  menjadi pemberita Injil di Tanah Batak, Nommensen membaca artikel di satu media yang terbit di Nordrad, Jerman. Pengaruh dari membaca artikel itu membuatnya rindu menjadi zending ke Tanah Batak, Sumatera Utara.

Begitulah kekuatan media, media sebagai arena komunikasi dan penyebaran informasi. Majalah NARWASTU sebagai media Nasrani pasti juga menyebar pengaruh bagi pembacanya. Kata “Narwastu” sebagaimana kita tahu adalah minyak wangi, sejenis bau-bauan yang dibuat dari akar serai wangi. Sebenarnya, Narwastu juga sama dengan jenis minyak nila yang dulu tumbuh subur di daerah Barus, Tapanuli Tengah. Narwastu adalah minyak yang amat mahal, kita bisa telusuri ceritanya di Alkitab (Markus 14:3).

Bila bicara media Kristen, bagi saya, paling tidak harus dipilah dan dibagi lagi. Paling tidak ada empat kategori media Kristen. Ada media diterbitkan oleh sinode atau lembaga gereja. Terbit hanya untuk konsumsi internal, pasarnya pun hanya kalangan sendiri. Misalnya, Suara HKBP dan Majalah Imanuel, media yang diterbitkan Sinode HKBP. Sudah jelas pasarnya hanya jemaat dan pendeta HKBP. Majalah Berita Oikoumene yang diterbitkan PGI. Majalah Penyuluh diproduksi Sinode Pusat GBI. Suara Injili media yang dilahirkan pengurus PGLII, dan yang lain. Kategori kedua, media yang terbit berkala, eksis secara bisnis media. Ada berita, ada iklan display (bukan hanya iklan ucapan), ada sirkulasi. Media kategori ini konsisten terbit, misalnya: Majalah Bahana, Inspirasi, Reformata, Gaharu,  dan beberapa media lain.

Kategori ketiga, media online, misalnya, Jawaban.com, Podium.com yang lain. Kategori kempat, media yang dikerjakan seorang sendiri. Tak punya rasa sensitif pada pembacanya. Terbit sesuai pesanan saja. Jenis ini ibarat kapal selam, bisa muncul tiba-tiba dan bisa tiarap alias tak terbit tiba-tiba, tetapi wartawannya terus menjalankan pekerjaan media. Media jenis ini berjibun. Paling tidak ada puluhan di Jabodetabek. Saya mengamati dan menilai, Majalah NARWASTU masuk pada kitaran kedua. Media yang eksis, bertanggung jawab moral bagi pembacanya. Tak semau perut terbit atau tidak. Saya tahu NARWASTU lahir dengan reputasi yang jelas. Merangkak dari bawah, menghadirkan produksi terbitannya berkala dan konstan.

Ada di setiap buku Kristen, di korportase gereja dan agen-agen tertentu.  Artinya, sirkulasi pendistribusian NARWASTU jelas, bisa dilihat secara kasat mata. Di poin ini, saya salut dengan orang yang berjuang dari bawah, menjadi wartawan sekaligus “pebisnis” media. Paling tidak saya ingin meniru mereka. Jauh sebelum saya kenal Bang Jonro, tahun 2000-an, saya sudah sering baca tulisan-tulisannya di Majalah Bona Ni Pinasa. Dia pernah, setahu saya menjadi kontributor di majalah warga Sumut tersebut. Saya sendiri, belakangan setelah dia lebih aktif di majalah Kristen, saya bergabung dengan Bona Ni Pinasa. Di kemudian hari berganti nama menjadi majalah Tapian. Dari Tapian saya ke harian Batak Pos dan terakhir berlabuh di tabloid Reformata sebagai redaktur pelaksana.

Sejak di Bona Ni Pinasa, puluhan tahun lalu, hubungan saya dengan bang Jonro cukup intens. Amatan saya sebagai junior, salah satu kekuatannya adalah keinginan NARWASTU tetap eksis sebagai media Kristen. Bicara keinginan, jelas, hal itu merupakan kekuatan, insting yang tertanam pada jiwa Bang Jonro, sebagai awalnya hanya wartawan, kemudian hari menjadi pemilik NARWASTU. Mengingat bahwa memang, jurnalis adalah tugas panggilan mulia yang harus mengutamakan idealisme. Namun, untuk bisa eksis di media tak boleh hanya idealisme. Bang Jonro, sadar hal itu, tak boleh hanya idealisme semata yang ditunjukkannya.

Saya salut dengan dia, dan tim redaksinya yang telah berjuang keras untuk menerbitkan NARWASTU bisa eksis seperti sekarang ini. Walau, memang harus diakui, NARWASTU media yang tak pernah keras menyentil. Saya kira ini pilihan, menelusuri jalan lain. Memberitakan yang baik-baik. Saya melihat NARWASTU tak kehilangan fungsinya sebagai media: tetap mengedukasi, mengkritisi cara halus dan menghibur. Jalan yang dipilihnya, itu tadi, memberitakan lewat jalan bahasa santun. Bukan dengan sarkasme. Sudah tentu, apa yang dipilihnya adalah cara untuk eksis tanpa kehilangan fungsi.

Adagium pemberitaan bagi pekerja media menyebut: Bad news is good news. Berita buruk adalah berita yang baik. Karena memang, berita buruk selalu laku di pasaran. Pengalaman saya sebagai jurnalis media Kristen, jika tema yang kita angkat berita amis, akan laku keras. Oplahnya akan naik, dan pasti dicetak lebih dari jumlah cetakan eksemplar biasanya. Sebaliknya, jika beritanya tak ada aroma amis, edisi itu tak laku besar. Sirkulasi akan mengeluh soal respons pasar yang tak banyak digubris pembeli. Saya kira NARWASTU juga mendapat data banyak tentang bau amis, topeng segelintir pendeta. Tetapi dipilah-pilah, tak semua diberitakan. NARWASTU memakai naluri eksis dan  aman, mana yang berita yang bisa diberitakan yang tak merugikan umat Kristen.

                  Memang, berita buruk itu ibarat amis, bau busuk. Selalu saja terhendus oleh hidung pekerja media Kristen. Kasus dan berita negatif, gereja dan hamba Tuhan amat banyak diketahui teman-teman wartawan. Memang, ada media yang sengaja mengangkat bau amis itu, dibuat bombastis agar oplahnya naik. Tetapi, tak sedikit media menutup-nutupi aroma busuk itu, walau maunya menyengat, tetap sengaja, pura-pura tak tahu agar dapat pulus. NARWASTU lain, saya melihat tak menyebarkan aroma amis. Barangkali dari pertimbangannya tadi, apakah pemberitaan itu bisa menjadi bumerang untuk umat Kristen?

 

Jurnalis Entrepreneur

Bang Jonro, memiliki naluri atau kepekaan entrepreneur. Paling tidak di kalangan Kristen di Jabodetabek, hanya dia yang bisa eksis membuat acara pemberian penghargaan kepada "21 Tokoh Kristiani" yang tiap tahunnya digelar. Saya tahu, ada yang pro dan kontra soal itu. Saya setuju dengan pendapatnya, bahwa ajang itu versi Majalah NARWASTU, bukan pilihan media A, B atau C. Saya kira orang yang menyindir acara itu, terutama dari media Kristen lain, ada, bagi saya, mereka itu orang-orang yang iri. "Iri tanda tak mampu." Kalau mampu buat apa iri? Justru apa yang dilakukannya harus diapresiasi. Uniknya, orang-orang yang suka menyindir sering juga datang ke acara NARWASTU, dan banyak wartawan tak mau melewatkan momen itu, karena memang dihadiri sejumlah tokoh Kristen terkenal.

Dia berorientasi kepada kebutuhan pembaca Kristiani. Menggarapnya dari berbagai sisi, termasuk mengajak banyak  penasihat dari berbagai latar belakang, baik pemimpin gereja, mantan anggota DPR-RI, pengacara, profesional, jenderal purnawirawan dan pengusaha untuk ikut gabung ke NARWASTU. Memang, harus diakui umat Kristen ini terpilah-pilah oleh aliran dan organisasi gereja yang tak gampang semua dimasuki pekerja media Kristen. Maka untuk masuk di sisi aman, usahanya tentu, mesti bisa beradaptasi.

Pengelola media mesti pintar-pintar menempatkan diri pada pembaca, tokoh-tokoh dan pengusaha Kristen. Tak banyak jurnalis berjiwa entrepreneur seperti dia. Dan hanya hitungan jari entrepreneur media Kristen yang bernaluri jurnalis, paling tidak rekam jejaknya ada di media. Sebagai pengelola NARWASTU yang pernah mengalami dinamika, Bang Jonro mau bersusah payah memadukan spirit entrepreneur sekaligus memilah-milah jurnalis dan sisi bisnis.

Dia tahu benar memadukan tanggung jawab redaksi, mensinkronisasikan dengan bagaimana mendapatkan iklan, mendapatkan pelanggan dan mendistribusi media agar tak mandeg. Sekali lagi, NARWASTU memilih jalan aman. Memberitakan yang positif  (seperti mottonya: Menyuarakan Kabar Baik) dan menihilkan berita gosip dan kontroversi. Tak seperti media yang lain, sarkasme, kasar memberitakan, bahkan terkesan menyerang dan menghancurkan figur tertentu yang tak disukai. Memvonis melebihi hakim. Bersuara lantang, merasa sebagai nabi. Mestinya, media Kristen jangan dijadikan sebagai pistol, alat menembak.

Sebaliknya, NARWASTU memilih menjadi media penyebar bau harum, sebagaimana namanya membawa kesejukan. Juga mengangkat nilai-nilai positif dari seseorang, tak seperti yang lainnya cenderung mencari sisi negatif figur tertentu. NARWASTU nampaknya tak memilih sikap: Menyebar bau amis orang lain. Saya kira, prospek NARWASTU besar ke depan sebagai media Kristen amat terbuka lebar. Barangkali tak semua pembaca setuju dengan pernyataan saya. Brand NARWASTU sudah terbangun di kalangan Kristen. Bicara NARWASTU, yang terbangun di benak orang ialah seorang Jonro.

Namanya sudah "brand identity" telah terbangun. Tak perlu lagi bereksperimen. Tinggal bagaimana mempertahankan brand dan menjaga konsumen. Mengutif penyataan Jokowi, sarannya dalam membangun brand pada satu pelatihan entrepreneur.  “Jika brand sudah terbangun, manajemen customer menjadi penting,” ujar Jokowi.

Alasan itu, saya tak berlebihan. Paling tidak sebagai jurnalis yang sudah puluhan tahun di media Kristen, nama NARWASTU identik dengan nama Jonro. Sejak tiga kali terjadi dinamika internal dalam manajemen Majalah Narwastu (2003), Narwastu Pembaruan (2009), hingga ia mengendalikan manajemen NARWASTU pada awal Januari 2010 namanya tetap diingat banyak orang bagian Narwastu. Ia mulai dari nol, dari wartawan, redaktur pelaksana, pemimpin redaksi (Pemred) hingga pemimpin umum/pendiri NARWASTU dengan manajemen baru sekarang ini. Akhirnya, saran saya tak menggurui, sebagai junior saya hanya berpesan agar NARWASTU tetap eksis, mesti siap dikritik. Sebab semua media besar, pengusaha besar, menghadapi kritik dengan bijaksana.

Kritik suntikan nutrisi agar imun pada kemajuan. Agar bisa eksis bertahan sebagai media Kristen di tengah berjubelnya media-media sejenis. Harapan saya, tetap menjaga stamina menulis, netralitas pemberitaan, tak menyinggung pihak tertentu dan tak terkesan memihak satu pihak. Satu lagi, NARWASTU harus terus membuka diri, memberi ruang untuk penulis-penulis yang mulai mekar, sekali lagi agar brand identity terbangun. Menghindari pemberitaan yang merugikan umat Kristen, saya setuju. Bang Jonro, Anda guru saya. Sekali lagi maju terus NARWASTU. Bravo.

Berita Terkait