Paduan Suara Kasih Anugerah Gelar Ibadah Syukur

546 dibaca
Ketua PS Kasih Anugerah, Saut Aritonang (kiri) dan tokoh PS The Glorifiers, St. Hardy M.L. Tobing.

 BERITANARWASTU.COM. Menuai kesuksesan dalam memeriahkan acara 100 Tahun Pasca Ompu I Nommensen pada 8 Juni 2017 lalu di Auditorium Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, lewat penampilan paduan suara gabungan, PS (Paduan Suara) Kasih Anugerah, PS Glorifiers dan PS Ex NKHBP Sudirman Medan, tentu memiliki makna tersendiri bagi setiap mereka yang terlibat. Atas kesuksesan dan kelancaran acara tersebut, maka diadakan kebaktian pengucapan syukur di kediaman Saut Aritonang (Ketua PS Kasih Anugerah) di kawasan Kramat, Jakarta, pada Sabtu, 17 Juni 2017 lalu.

Lagu Hidup Kita yang Benar menjadi lagu pembuka pada acara ibadah syukur di sore hari itu. Suara merdu menggema memenuhi ruangan yang cukup luas di rumah tersebut. Bait demi bait dari setiap lagu dikumandangkan, tak terkecuali kesaksian dari Sortaria Panjaitan (PS Anugerah) yang menyanyikan lagu May the Good Lord Bless and Keep You. Dan Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Linda Silaban yang diambil dari Kitab Mazmur 111:1-9 di acara itu.

Pendeta dari Gereja HKBP Ciganjur, Jakarta, yang juga merupakan anggota koor gabungan itu menerangkan bahwa Tuhan selalu memelihara setiap ciptaanNya. Makanya tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, termasuk kesuksesan dan kelancaran saat tampil pada acara 100 Tahun Pasca Ompu I Nommensen.  Talenta yang berasal dari Tuhan mesti kita beri yang terbaik untuk memuliakan namaNya. Oleh karena itu, kita mesti senantiasa untuk bersyukur, dan itu mesti menjadi satu gaya hidup  yang harus dilakukan tiap-tiap waktu.

 Selain diingatkan untuk senantiasa tetap bersyukur, buah kesuksesan yang dicapai melalui penjualan tiket 90% ludes terjual juga disambut bahagia sekaligus tidak disangka-sangka oleh St. Drs. Hardy Tobing selaku Ketua Pelaksana Panitia.  “Semua karena penyertaan Tuhan dan kami sama sekali tidak menyangka bahwa antusias dari masyarakat Batak, bahkan warga HKBP di luar ini ada yang membeli. Dan kami sangat mengapresiasi sekali dan sangat gembira,” kata Hardy Tobing yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU dengan senyum sumringah.

Di sisi lain, sebagai conductor, Arta Tambunan mengapresiasi acara yang berjalan sukses itu. “Semua karena kemurahan Tuhan dan dukungan doa dari semua pihak. Walaupun penampilan kami jauh dari sempurna, tapi kami sangat bersyukur atas berkatNya,” pungkasnya. Semua bisa dicapai selain karena campur tangan Tuhan juga didasarkan atas rasa  kesatuan yang kuat antaranggota sekaligus memiliki semangat untuk melayani.

Seperti yang dikatakan oleh suami Ida Simbolon yang bernaung di tiga paduan suara tersebut, diakuinya setiap orang memiliki semangat dan jiwa melayani yang tinggi. Jadi untuk menyatukan dengan yang lain tidak mengalami banyak kendala. Hampir semua rata-rata punya jiwa yang sama, dan mereka berkontribusi dan menjunjung komitmen yang tinggi.  Hal senada diungkapkan oleh Ketua PS Kasih Anugerah, Saut Aritonang.

”Tiap-tiap orang sudah memiliki tingkat kesadaran yang sangat tinggi. Sebab rata-rata usianya sudah 60 tahun ke atas dan yang paling rendah kalau dirata-rata sih PS Kasih Anugerah sendiri, dan Ex. NHKBP Sudirman. Jadi empatinya sudah sangat tinggi. Jadi bukan sebagai anggota yang menunggu, jadi masing-masing sudah punya inisiatif, apalagi dari tahun 1978 kami sudah berteman, jadi sudah tahu sama tahu,” ujar Saut Aritonang.

 

 

Kaum ibu yang giat melayani dalam paduan suara gerejawi. 

 

 Sebagai Ketua PS Kasih Anugrah, Saut Aritonang yang meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dari Christo Panggabean mengalami pasang surut layaknya sebuah organisasi pada umumnya. Namun, anggota jemaat Gereja HKBP Jalan Jambu, Jakarta, ini mengatakan, kepengurusan yang dipimpinnya itu lebih banyak mengedepankan silaturahmi antara teman dengan teman. Dan tidak dalam organisasi yang sangat kaku. “Jadi lebih banyak persaudaraan dalam kasih Yesus. Inilah aturannya tidak ada AD/ART yang tertulis secara rinci tujuan utamanya memuji Tuhan,” pungkasnya.

 Dalam perjalanannya yang panjang, ketiga paduan suara gabungan ini tak pernah mencetuskan diri dalam konsep money oriented atau komersial. Memuji dan memuliakan namaNya sampai raga di kandung badan merupakan komitmen yang dipegang setiap anggotanya. Menapaki sekelumit cerita dari kisah terbentuknya PS Kasih Anugerah yang awalnya bernama PS Anugerah, paduan suara ini terbentuk tahun 1976 lalu dan  diprakarsai oleh Christo Panggabean, Oloan Napitupulu, Robert Nainggolan dan Mindo Lumban Gaol. Paduan suara yang dibentuk oleh para pria berusia antara 30-40 tahun itu memiliki visi dan misi melayani Tuhan melalui pelayanan puji-pujian pada ibadah, baik yang ditentukan maupun yang diminta.

“Jadi makin lama makin berkembang, dan ibu-ibu ikut bergabung. Jadi sekitar tahun 80-an ibu-ibu diikutsertakan, kemudian berkembang lagi, dan kita sudah melaksanakan konser-konser dengan musik. Karena butuh banyak orang akhirnya anak-anak kita ikutsertakan. Makin banyak pelayanan kita, akhirnya kita ajak NHKBP naposo bulung (pemuda) di gereja HKBP Menteng. Tapi, sebelum diikutsertakan anak-anak kita sempat melayani juga di Singapura untuk jemaat kita di Indonesia Gereja Presbyterian,” terang Mindo Lumban Gaol.

 

Dalam perjalanannya, ada sejumlah anggota PS Kasih Anugerah yang memisahkan diri dan membentuk paduan suara lain, seperti, PS Exaudia, PS Glorifiers dan PS Natania. Kendati demikian, para anggota paduan suara yang biasa menyanyikan lagu-lagu Pdt. Pensilwally, L. Pohan, dan Gorga tersebut tetap memiliki ikatan persaudaraan dan persahabatan yang kuat.

Acara syukuran yang juga menggelar nonton bersama rekaman acara 100 Tahun Pasca Nommensen pada 8 Juni 2017 lalu itu, membuat acara tersebut kian terasa semarak dan penuh dengan kegembiraan. Di ujung wawancaranya, St. Hardy Tobing berharap bahwa kiranya semangat untuk melayani terus tetap ada dalam sebuah kebersamaan merekaBTY

Berita Terkait