Pdt. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.H., M.Pdk: Kasus Audrey Kegeraman Kita Semua, Tegakkan Hukum

415 dibaca
Pdt. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.H., M.Pdk dalam sebuah pelayanan.

Beritanarwastu.com. Tagar (tanda pagar) “Justice  For Audrey”,  menjadi viral dan trending topik di awal April 2019 ini di jagat maya. Kasus kekerasan pada anak di bawah umur itu tiba-tiba mencuat di bumi khatulistiwa Pontianak, Kalimantan Barat. Saat itu, sebanyak 12 anak di bawah umur dan masih duduk di bangku SMA melakukan aksi kejam, keji dan sadis terhadap seorang remaja putri berusia 14 tahun bernama Audrey.

Kegelisahan ini pun dirasakan tidak hanya para pemerhati sosial, politikus, artis, pendidik dan pakar hukum, akan tetapi juga ranah gereja dan keagamaan. Dan Gembala Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Manna 2 Bandung, Jawa Barat, Pdt.  Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.H., M.Pdk  merasa tersentuh melalui kejadian ini. Dan salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” ini sangat prihatin dengan kejadian Audrey

“Kita harus bersabar dan memberikan kepada pihak-pihak yang akan memprosesnya. Sebagai gembala gereja saya mengimbau untuk menjadikan hal ini pelajaran berharga bagi para orang tua, anak remaja putri, guru sekolah minggu, lembaga pemuda gereja untuk aktif menanamkan kebaikan dan kebajikan yang Tuhan inginkan,” ujar Pak Gembala GKKI Manna 2 yang juga Ketua DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Wilayah Jawa Barat, dan praktisi hukum berjiwa muda ini.

Pendiri Forum Bhinneka Tunggal Ika dan Ketua Umum Asosiasi Hamba Tuhan Indonesia ini menekankan kepada anak- anak muda agar melakukan hal-hal yang sehat dan bermanfaat, dalam menggunakan sosial media. “Gunakan sosial media sebagai sarana yang positif membangun karakter anak muda yang disukai oleh teman, sahabat dan orang banyak, lakukan pelayanan yang rutin untuk menghindari tindakan anarkis dan keji dalam berteman,” terang putra kelahiran Tanah Karo yang merasakan keprihatinan yang menimpa Audrey.

Sejalan dengan yang diterangkan Bapak Gembala GKKI Manna 2 kejadian Audrey pun bermula dari sebuah komentar status di media social (Medsos), mengenai asmara orang ketiga, yaitu mantan pacar kakak sepupu Audrey memuat sebuah status di sosial media, dan dikomentari juga oleh Audrey yang membuat tersinggung salah satu pelaku, yang tak lain adalah pacar resminya yang sekarang. Tak pelak, hal ini mengundang api amarah dan niat menghabisi kakak sepupu Audrey dan Audrey sendiri.

Pada Jumat siang,  29 Maret 2019 beberapa orang anak SMA menjemput Audrey dan sepupunya, untuk membicarakan hal-hal mengenai status tersebut. Awalnya perlakuan para pelaku masih baik dan seolah ingin menyelesaikan masalah, ternyata di tengah jalan tepatnya di Jalan Sulawesi, Kota Pontianak, Audrey dan sepupunya diberhentikan dan dipukuli tanpa ampun dengan cara membenturkan kepala ke aspal, menendang perut dan dada berkali-kali, dan masih diseret tubuh Audrey yang lunglai hingga ke sebuah Taman Akcaya. Tak selesai sampai di situ, seorang pelaku dengan bengis  merusak kemaluan Audrey dengan sadis, hingga terjadi iritasi dan pembengkakan di bagian dalam kelaminnya.

Teriakan Audrey dan rintihan kesakitan Audrey siang itu seolah tak ada yang mendengar, betapa keji 12 orang anak perempun masih SMA itu menghabisi Audrey hingga terkapar lunglai. Audrey adalah seorang anak SMP Negeri 17, Kota Pontianak, berusia 14 tahun yang masih belia diserang dengan 12 orang perempuan berusia 16 tahun yang masih di bawah umur. Selesai melakukan tindakan keji dan sadis tersebut para pelaku masih mengancam akan melakukan lebih sadis lagi apabila hal ini dilaporkan kepada orang tuanya dan polisi.

Oleh karena itu, setelah seminggu kejadian Audrey baru berani mengatakan kepada orang tuanya mengenai kejadian yang menimpa dirinya, dan segera diproses melalu jalur hukum. Dan tak disangka setelah kasus ini bergulir ke ranah hukum dan sosial media ada lebih 3 juta petisi ditandatangani untuk tagar #justiceforaudrey. Semua berkomentar, semua netizen mengutuk keras perbuatan keji anak perempuan di bawah umur yang melakukan tindakan keji tersebut.

Mulai dari pengacara kondang Dr. Hotman Paris Hutapea, S.H., artis, dan penyanyi Indonesia geram dengan kasus yang menimpa Audrey. Keadilan pun dituntut dan tidak melakukan pembiaran walau terhadap anak usia di bawah umur mereka tetap menginginkan peradilan anak, agar terjadi efek jera bagi para pelakunya, "Dari hasil pemeriksaan, akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi," kata Kapolresta Pontianak Kombes Muhammad Anwar Nasir, pada Rabu (10 April 2019) seperti dikutip sejumlah media.
           Terhadap ketiga tersangka dikenakan Pasal 80 ayat (1) UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara. Anwar Nasir mengatakan, sesuai dengan UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dilakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Tak hanya itu, dikutip laman Jawapos, Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji geram dengan kejadian yang berada di wilayah Pontianak ini. Menurut Midji, usia para pelaku yang masih di bawah umur tidak lantas melepaskannya dari sanksi-sanksi hukum. Perbuatan itu sudah sangat luar biasa dan bisa dimintai pertanggungjawabannya.

“Ini akibat selama ini selalu berbicara pelaku tindak pidana adalah di bawah umur, sehingga sepertinya pelaku lebih dilindungi dari pada korban. Saya tidak mau seperti itu, harus adil. Jangan di bawah umur lalu mau melindungi pelaku, tidak boleh, kasihan korban,” ujarnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Muhadjir Effendy seperti dilansir detik.com pada Kamis (11 April 2019) langsung berangkat menuju Pontianak untuk mengetahui kejadian sebenarnya, yang terjadi dan segera akan mengambil tindakan apabila sudah dilakukan pengecekan pada lapangan.

Dan orang nomor satu di Indonesia, Presiden RI Joko Widodo dalam akun Instagramnya pun mengecam keras kejadian ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedih dan marah atas kasus pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak, Audrey.  Jokowi mengatakan, perundungan, apalagi penganiayaan fisik, jauh dari nilai-nilai yang dipunyai bangsa Indonesia.
"Usulan revisi terhadap regulasi yang berkaitan dengan anak-anak itu satu hal, tapi yang paling penting lagi adalah budaya kita, etika kita, norma-norma kita, nilai agama kita, semua tidak memperbolehkan adanya perundungan, apalagi penganiayaan fisik," kata Jokowi dalam akun Instagram-nya, @jokowi, pada Rabu (10 April 2019).

Hukum mulai akan ditegakkan bagi siapapun tanpa terkecuali anak di bawah umur sekalipun akan menghadapi peradilan anak. Dan semua orang di mata hukum sama untuk menghindari pelanggaran hukum yang mengatasnamakan anak di bawah umur.

“Saya sebagai Gembala Gereja, Ketua DPD Asosiasi Pendeta Jawa Barat, pendiri Forum Bhineka Tunggal Ika, Ketua Umum Asosiasi Hamba Tuhan Indonesia dan juga praktisi hukum sangat prihatin dengan kejadian Audrey ini. Saya berharap hukum ditegakkan dan untuk menghindari pelanggaran hukum yang dilakukan orang dewasa dengan menggunakan media, anak-anak sebagai pelakunya, dan untuk membuktikan negara, agama dan manusia berjalan beriringan untuk suatu tujuan hidup yang mulia, semoga Tuhan memberkati keluarga Audrey, dan memberikan pengampunan bagi para pelakunya” tutup Pdt.  Lukas Kacaribu. NG

Berita Terkait