Pdt. DR. Nus Reimas Bersaksi Setelah 46 Tahun Melayani di Ladang Tuhan

207 dibaca


Beritanarwastu.com. Pada Selasa pagi 22 Januari 2019 lalu, sejumlah jurnalis Kristiani yang tergabung di PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia), termasuk Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos menghadiri diskusi terbatas dengan pemuka gereja aras nasional, Pdt. DR. Nus Reimas tentang media massa, pelayanan dan kesaksian hidup di gedung LPMI Lantai 3, Menteng, Jakarta Pusat. 

                 Dalam perbincangan akrab itu, Pdt. Nus Reimas yang juga Pembina Majalah NARWASTU dan Penasihat PERWAMKI banyak memberikan motivasi dan inspirasi kepada para jurnalis muda ini. "Hidup ini adalah pergumulan, namun kita harus selalu berpengharapan bahwa yang selalu mencari Tuhan di dalam hidupnya akan selalu dituntunNya," ujar Ketua Majelis Pertimbangan PGLII dan Ketua Dewan Pembina LPMI, yang akrab dipanggil Pak Nus dan kakek dari dua cucu ini.

              Pdt. Nus Reimas yang pada 21 Januari 2019 lalu, merayakan hari ulang tahun ke-46 pelayanannya, juga banyak berkisah tentang hidupnya yang sejak kelas 2 SMP sudah ditinggal ibundanya yang dipanggil Tuhan ke sisiNya. Dia tak pernah menyangka akan berangkat meninggalkan kampung halamannya di Tual, Maluku, menuju Jakarta, hingga ia kemudian menjadi pendeta atau tokoh agama yang diperhitungkan di negeri ini. "Saya sejak dulu tak pernah digaji di LPMI untuk melayani, namun Tuhan cukupkan apa yang saya butuhkan. Bahkan berkatNya luar biasa. Apa yang tak pernah dilihat mata dan didengar oleh telinga diberikanNya kepada setiap orang yang selalu berharap kepadaNya," paparnya.

              Lebih dari tiga jam Pdt. Nus Reimas bersaksi, sembari kaum muda ini bertanya jawab dan sharing. "Sebelum bertemu dengan orang lain, bertemulah dulu dengan Tuhan lewat doa-doamu agar Tuhan selalu membimbingmu dan memberi kenyamanan dalam aktivitas sehari-hari. Jangan lupakan persekutuan dengan Tuhan, karena Tuhan tak akan melupakan orang yang setia kepadaNya," pungkas mantan Ketua Umum PGLII dua periode dan salah satu Pembina LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) ini.

             Usai berbincang akrab sembari menikmati teh hangat plus roti kering dan tempe, kaum muda ini diajak Pdt. Nus Reimas bersantap siang di kafe Megaria lantai 2, Menteng, yang hanya 10 menitan berkendaraan dari kantornya. "Wartawan itu harus mencerahkan dan mencerdaskan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa ini. Tokoh kita Pak Jonathan Parapak pada 1990 silam pernah mengatakan saat kami berdiskusi: 'Barang siapa yang menguasai media, maka dia akan menguasai dunia.' Itu memang benar," ujar Penasihat FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU) ini. 

           "Sekarang banyak orang di dunia ini, pikiran dan perilakunya dikendalikan berita-berita di media, termasuk berita hoax yang bertebaran di media sosial. Sehingga wartawan harus cerdas, dan harus selalu mengisi hati dan pikirannya dengan firman Tuhan supaya selalu menyebarkan kabar baik yang menyejukkan dan bermanfaat bagi banyak orang lewat berita-beritanya. Pikiran kita mesti dikendalikan firman Tuhan, sehingga tekunlah menyembah Tuhan," cetusnya di sela-sela santap siang. 

           Menurutnya, profesi atau pelayanan di media massa itu sangat penting. "Sehingga kita harus bersyukur dan setia jika sudah aktif di media. Tapi wartawan Kristen juga harus mengembangkan diri. Selain terampil menulis, selalu tekun bersekutu atau menyembah Tuhan, juga harus cerdas menjalin relasi dengan tokoh-tokoh Kristen. Dan kembali saya ingatkan, beritakanlah kabar baik. Kabar baik itu adalah damai sejahtera, suka cita, kebenaran dan kedamaian. Sumber kabar baik itu adalah Tuhan. Kalau kita selalu memberitakan kabar baik, maka Tuhan akan tersenyum. Dan orang di sekeliling kita akan senyum kepada kita," cetusnya bijaksana.

         Pdt. Nus Reimas pun menyinggung tentang adanya saat ini sejumlah media cetak Kristen yang tutup, lalu berubah jadi media online. "Karena pengaruh atau perkembangan teknologi, ada banyak media cetak tutup, termasuk media Kristen. Padahal media cetak pun pengaruhnya masih kuat. Ketika kita menghadapi tantangan, datanglah pada Tuhan dan sembah Dia, minta hikmatNya. Dalam hidup ini jangan sesekali lupa melihat ke atas, sembahlah Tuhan," tegas Hamba Tuhan yang sudah menerbitkan buku perjalanan hidupnya berjudul “Orang Kecil yang Dipakai Tuhan”, yang disusun pada Oktober 2011 lalu oleh Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos dan tim itu.

          Dikatakannya lagi, dalam hidup yang penuh tantangan dan pergumulan ini teruslah memotivasi diri dan kembangkan diri, serta yang utama cari Tuhan sebelum melakukan segala sesuatunya. "Kita tidak tahu bagaimana 5 atau 10 tahun lagi kehidupan kita, apalagi dengan perkembangan teknologi ini. Yang pasti hidup kita harus selalu bergantung kepada Tuhan. Orang yang selalu bergantung kepada Tuhan, pasti hidupnya akan selalu dikendalikan dan ditolongNya," terang Hamba Tuhan yang termasuk dalam "20 Tokoh Kristiani 2006 Pilihan Majalah NARWASTU" ini.

            "Ketika Majalah NARWASTU mengadakan ibadah Natal dan Tahun Baru 2019 bersama tokoh-tokoh Kristiani, tema yang kami angkat adalah 'Kami datang untuk menyembah Dia (Matius 2:2).' Orang Majus adalah orang kaya dan pintar, namun mereka dengan rendah hati datang menyembah Tuhan Yesus yang baru lahir di kandang domba. Mereka memberikan emas dan mur kepada Tuhan. Dan Tuhan mengontrol perjalanan mereka, dan mereka tidak datang lagi menghadap Raja Herodes yang punya niat jahat. Itu artinya, orang yang selalu setia, rendah hati dan mau menyembah Tuhan pasti diperhatikan Tuhan," tukasnya. TU

Berita Terkait