Pdt. Jimmy Jackson Iskandar Rasakan Natal Setiap Hari

164 dibaca
Pdt. Jimmy Jackson Iskandar

         Beritanarwastu.com.  Tahun ini negeri tercinta Indonesia berduka, karena musibah bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah, seperti di Lombok, Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Belum sirna rasa duka itu, kecelakaan pesawat terjadi pula, dan menewaskan 189 penumpang di Teluk Karawang, Jawa Barat. Kejadian tersebut tentu memberikan perenungan tersendiri bagi setiap kita. Apalagi bulan ini umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Natal. Namun sayang, banyak orang yang memaknai Natal tidak lebih sebagai sebuah seremonial tanpa arti yang dalam. 

         Dan, fenomena tersebut terus terjadi dari waktu ke waktu. “Sebetulnya yang harus koreksi diri itu kita sendiri (Nasrani). Kenapa Natal dibuat sedemikian spesial dibandingkan ibadah raya lainnya. Bisa jadi karena manusia terpengaruh dua tradisi, ulang tahun dan Natal. Memiliki makna yang sama, yakni sama-sama sebagai sebuah perayaan ulang tahun. Nah, tugas gereja untuk mengembalikan makna ini, bahwa bukan perayaannya, tetapi esensi dari Natal itu sendiri, mengenai tujuan Yesus datang ke dunia untuk apa. Jadi itu merupakan tugas gereja,” tegas Pdt. Jimmy Jackson Iskandar di kantornya di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

        Menurut pendeta yang menggembalakan jemaat di Gereja Murid Yesus ini, arti Natal sesungguhnya harus dirasakan setiap hari. Memang tidak ada satu ayat pun yang membuktikan Natal itu di bulan Desember. “Bukan waktunya, tapi kita harus ambil apa makna dari Natal, sehingga dapat dirasakan setiap hari, bukan momennya,” terang suami dari Mela Febrina ini mengingatkan.

         Di tahun ini beberapa musibah terjadi di negeri ini. Mulai dari gempa bumi, tsunami, KM Sinar Bangun di Danau Toba tenggelam hingga pesawat jatuh. Tentu saja kejadian tersebut menimbulkan duka yang dalam bagi masyarakat Indonesia. Terlebih untuk keluarga yang kehilangan harta benda dan sanak saudaranya. Mengenai musibah yang terjadi, pendeta yang merupakan anak didik rohani dari Pdt. DR. Jusuf Roni itu mengatakan, Tuhan selalu memberikan yang baik.

         Sudah pasti ada satu tujuan ketika persoalan diizinkan terjadi, termasuk bencana. Di sini manusia harus peka akan pesan Tuhan di sana. Dan sudah pasti kita harus berdoa dan tidak boleh pesimis. Tuhan itu penuh kasih. Terjadinya bencana bisa juga karena ulah dari manusia sendiri, dan bukan serta merta murni dari Tuhan. Tapi, karena kesalahan manusia itu sendiri,” kata Pdt. Jimmy bijak.

          Bumi pun kini telah gersang karena sifat manusia yang ingin mengejar keuntungan, tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkannya. Misalnya, kurang menjaga lingkungan dengan baik. Atau mengeruk kekayaan di dalam perut bumi, seperti mineral, emas, batu bara, timah dan lain sebagainya. Sehingga bumi menjadi rusak. Jika bencana sudah terjadi, maka ujung-ujungnya Tuhan yang disalahkan. Bahkan, menganggap Tuhan itu jahat. Padahal, dalam firmanNya dikatakan, Dia adalah Tuhan yang baik dan kasih setiaNya sampai selama-selamanya. “Dari kecil kita dikotakkan bahwa kadang kala Tuhan itu jahat. Contohnya, kalau makan harus dihabiskan. Kalau tidak nanti Tuhan marah. Kita dididik orang tua bahwa Tuhan itu pembawa hukuman kejam. Kita tahu kalau Tuhan itu penuh kasih,” tukas ayah dari Vanessa E. Jackson dan Gabrielle A. Jackson ini semangat.

         Kebaikan Tuhan yang dialami Pdt. Jimmy bisa dirasakannya hari lepas hari. Dan biasanya menjelang tahun baru ia melakukan refleksi iman beserta jemaatnya yang rata-rata adalah kaum prasejahtera. “Dulu setiap tanggal 31 kami bikin sebuah pohon yang banyak rantingnya. Di situ kami tulis cita-cita atau impian yang belum tercapai di sebuah kertas dan dimasukkan ke dalam amplop. Dulu salah satu cita-cita saya adalah membaptis istri. Saya melihat di kehidupan pribadi mengenai janji Tuhan, ‘Engkau akan naik dan tidak akan turun. Ketika mengimani, maka itu akan terjadi. Bahwa apa yang Tuhan tetapkan dan imani langkah-langkah hidup ini. Tuhan yang akan menetapkan dan itu pasti akan digenapi,” kata Pdt. Jimmy mengisahkan kesaksian hidupnya dengan mimik bahagia.

          Bisa menjangkau banyak jiwa termasuk bisa melayani di kalangan mahasiswa dan para profesional adalah harapan bagi pendeta yang lahir di Jakarta, 29 September 1970 ini. Selain itu, ia memiliki harapan yang lain untuk kedua putrinya yang akan dibawanya dan juga istrinya untuk berziarah ke Israel saat Natal nanti. “Mencintai pekerjaan Tuhan supaya mereka tahu betul bahwa Alkitab itu bukan dongeng, dan mereka bisa melihat seperti itu dengan situs-situs yang ada,” ucapnya berharap. BTY

Berita Terkait