Pdt. Rahmat Basukendra, MAPS Orang Kristen Harus Optimis Hadapi Tahun Baru 2019

250 dibaca
Pdt. Rahmat Basukendra, MAPS.

Beritanarwastu.com. Saat ini yang kita lihat di dalam kehidupan kita adalah versus. Ada yang baik versus yang jahat. Ada yang putih versus yang hitam. Dan di negara kita ini sekarang kita melihat ada masalah hoax (berita bohong), ada kasus korupsi, dan di situ ada pejabat dan kepala daerah terlibat, lalu ada masalah narkoba. Dalam menyikapi masalah ini kita jangan hanya terfokus melihat yang buruk atau jelek. Namun sebagai orang beriman kita mesti melihat bahwa ketika terjadi bencana alam, lalu kita lihat ada solidaritas dari masyarakat yang begitu baik. Juga ketika ada kasus korupsi, lalu ada kampanye antikorupsi. Demikian pula saat ada masalah atau bahaya narkoba, ada diadakan ceramah-ceramah dan diskusi yang begitu baik untuk mencegah bahaya narkoba. Sedangkan soal hoax itu, harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum. Demikian disampaikan Pdt. Rahmat Basukendra, MAPS ketika menyampaikan refleksinya atas kondisi dan situasi negeri ini ketika bangsa ini berada di ujung tahun 2018.

           Pendeta yang melayani di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pamulang, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, ini menerangkan,  di zaman dulu di tengah bangsa Israel telah ada pula berbagai tantangan kehidupan dan kesukaran hidup. Dan ketika ada masalah terjadi para nabi selalu menyuarakan suara kenabian. Makanya ada ditulis: Carilah Aku maka engkau akan hidup. Dalam hidup ini kita memang harus terus mencari Tuhan dan selalu mengandalkanNya. Tentu perilaku-perilaku yang jelek atau buruk di masa lalu jangan diikuti. Sekarang, katanya, kita berhadapan dengan era digital. Dan pengaruh digital itu begitu kuat di tengah masyarakat, namun kita harus bisa menghadapi era digital atau era media sosial (Medsos) ini dengan terus menjalin relasi sosial yang semakin baik dengan sesama.

          Berbicara mengenai Natal yang kita hadapi sekarang, menurut Master of Arts in Peace Studies dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta ini, Natal itu juga berarti miracle atau keajaiban. Natal yang berasal dari kata Natalis, itu berarti kelahiran. Dan saat kita melihat sebuah keluarga mendapatkan kelahiran anak, itu mereka sesungguhnya mendapatkan mukjizat. "Ketika ada anak lahir dan manusia mendapatkan keturunan, itu berarti ada keajaiban. Di dunia ini selalu ada mukjizat, dan itu artinya Tuhan selalu hadir menyertai kita," papar suami tercinta Tritan Andyani yang punya dua anak, Savael Dipoyudo (12 tahun) dan Shevuel Sabarana (8 tahun) ini.

            Pdt. Rahmat menerangkan, ia membaca di sebuah media bahwa ada anak-anak muda bunuh diri di Jepang, karena tak sanggup menghadapi tekanan dalam hidupnya. Mereka terus bekerja tanpa ada lagi istirahat, sehingga kehilangan semangat hidup lalu bunuh diri. Dan tak ada lagi kenikmatan tidur yang mereka rasakan. "Jadi di negara maju seperti Jepang pun ada masalah, meskipun secara ekonomi mereka lebih baik, namun anak-anak mudanya ada yang tidak bisa hidup wajar dan tidak bahagia," ujarnya. Menurutnya, meskipun secara ekonomi negara Jepang dan Korea Selatan lebih bagus dari Indonesia, namun soal kebahagiaan belum tentu negara maju yang merasakan kebahagiaan itu. "Kita lihat di Indonesia, saat orang naik kereta api lalu mereka menggunakan gadget atau HP, mereka bisa tertawa menikmati kebahagiaannya," pungkasnya. Jadi saat kita merayakan Natal pun kita harus berupaya agar bisa bersyukur dan bahagia, karena Natal itu sebuah keajaiban yang patut disyukuri.

          Katanya, ia sangat terkesan dengan tulisan Rasul Paulus yang tertulis di 1 Korintus 13:1-13 tentang iman, pengharapan dan kasih. "Jadi ketika kita akan meninggalkan tahun 2018 dan memasuki Tahun Baru 2019 kita mesti tetap optimis dan berpengharapan. Iman Kristen itu mengajak kita agar jangan takut. Selama seseorang itu masih punya iman, maka ia akan punya pengharapan. Dan dalam menghadapi kehidupan ini kita harus mengenakan kasih. Sehingga sifat-sifat dunia seperti amarah, dendam, iri hati dan dengki dan egois harus kita singkirkan. Ketika ada kasih maka akan ada kerukunan," terangnya.

             Presiden RI Jokowi saat hadir di acara Kongres Ke-36 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) 2018 mengatakan, kerukunan itu sangat penting. Dengan mengenakan kasih maka akan lahir kerukunan, dan itulah modal kita di dalam membangun kehidupan, termasuk di dalam membangun bangsa. Berbicara tentang tips menghadapi Tahun Baru 2019, Pdt. Rahmat menerangkan, ketika kita memasuki Tahun Baru 2019, sesungguhnya Tuhan sudah berkata: Kamu tak akan berjalan sendiri. "Meskipun ada tantangan kehidupan, kesukaran hidup, bencana alam termasuk masalah hoax atau ada persoalan dalam keluarga, tetaplah yakin bahwa ada Tuhan yang beserta kita. Kita jangan selalu bawa perasaan (baper), namun tetaplah optimis. Kalau kita selalu bawa perasaan atau pesimis, maka sulit kita bergerak maju. Kita harus bawa perdamaian (baper) dalam kehidupan ini. Hidup kita mesti kita serahkan agar selalu dituntun atau dikuasai oleh Tuhan, bukan dikuasai oleh uang atau kekuatan duniawi.

          Pdt. Rahmat pun memberikan ayat yang meneguhkan kepada jemaat dari Filipi 4:13 yang berbunyi segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia (Tuhan) saat kita akan menghadapi Tahun Baru 2019 ini. "Jangan andalkan kekuatan kita di dalam menjalani kehidupan ini, tapi dekatkanlah diri kita kepada Tuhan. Kita harus terus berupaya agar Firman Tuhan atau Alkitab menjadi bacaan utama kita dalam kehidupan segari-hari. Dan kita harus terus berdoa dan berjaga-jaga. Selagi kita masih hidup kita harus terus berjaga-jaga dan berdoa. Dan kerjakanlah keselamatan kita, dan keselamatan itu akan membawa kita ke dalam kerajaan surga. Dan kita harus berupaya terus agar hidup bijaksana dalam kehidupan sehari-hari. LK


Berita Terkait