Pdt. Wilfred Soplantila
Peduli Menginjili Pemuda dan Mahasiswa

625 dibaca
Pdt. Wilfred Soplantila

Beritanarwastu.com. Pemuda merupakan salah satu pilar penting dalam sebuah bangsa. Keberadaan dan peran pemuda tentu saja memberikan dampak yang signifikan bagi kemajuan sebuah negara. Maka pemuda yang identik dengan sifat labil  haruslah dibina dan diarahkan guna menjadikan mereka sebagai generasi yang berkarakter dan berintegritas. Terhadap tugas mulia itu, Komisi Pemuda dan Anak PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia) ternyata punya kepedlian yang cukup tinggi.

Atas dasar itulah World Evangelical Aliance (PGLII-nya dunia) setahun lalu telah mengadakan Sount East Asia Youth Ministry Consultation atau Konsultasi Pelayanan Pemuda PGLII se-Asia Tenggara di Jakarta. Acara yang pertama kali diadakan di Indonesia itu, dihadiri oleh perwakilan pemuda dari beberapa negara, seperti Filipina, Singapura, Inggris, Kanada dan Amerika Serikat. ”Ini sebuah konsultasi atau sharing guna mendengarkan beban masing-masing  negara, bukan hanya pemudanya, tapi juga pembina pemudanya,” kata Ketua Komisi Pemuda dan Anak PGLII, Pdt. Wilfred Soplantila yang punya peran penting dalam pengadaan acara itu.

 Pdt. Wilfred yang murah senyum ini selama ini juga dikenal pelayan senior di LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia). Ia punya kepedulian tinggi dalam melayani kaum muda, termasuk mahasiswa dari berbagai kampus di kota-kota di seluruh Indonesia. Bahkan, wartawan Kristen yang tergabung di PERWAMKI (Persekutuan Wartawan Kristiani Indonesia) pernah mengundangnya untuk menyampaikan Firman Tuhan, karena ia dinilai seorang Hamba Tuhan yang tahu dengan dunia wartawan, terutama wartawan Kristen. 

”Kita lihat sekarang banyak kaum muda frustrasi. Itu bisa dilihat dari hasil survei yang dilakukan di Asia Tenggara pada 2010-2012 lalu, dan populasi pemuda sangat banyak bermasalah. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi gap antara pemuda dengan orangtua. Dan pelayanan terhadap pemuda sangat penting. Karena itu, gereja harus bisa menyiapkan sumber daya untuk menolong mereka,” ujar pria yang dikenal piawai sebagai pembaca acara atau MC ini. Suami tercinta Reva Rosanna ini punya dua anak, Kezia Rafinska dan Karen Raynalda.

 Menyoroti pelayanan terhadap pemuda, katanya, bukan rahasia umum lagi bahwa kini banyak gereja yang kurang menaruh perhatian terhadap anak muda. Kalau pun ada, hanya gereja-gereja tertentu yang mengadakan kegiatannya secara rutin. Dan itu pun jarang dilakukan untuk menolong pemuda agar bangkit, karena mereka adalah generasi masa depan. “Kita harus memberikan semangat kepada pemuda. Gereja harus siap menolong atau memberikan solusi terhadap masalah kepemudaan,” tukas Bendahara Leading The Way untuk Indonesia ini.

Bersama tokoh gereja nasional yang juga Ketua Dewan Pembina LPMI, Pdt. DR. Nus Reimas, Pdt. Wilfred pun dilibatkan untuk ikut aktif mengasuh pelayanan lewat media elektronik, yakni TV Al-Malacootsat, sebuah stasiun televisi dari Timur Tengah yang sejak Maret 2014 lalu telah langsung menyiarkan program pengajaran Alkitab lebih dari 40 orang pengajar selama 24 jam sehari dengan subtitling bahasa Indonesia. Pdt. Wilfred adalah lulusan Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta. Kini ia dipercaya sebagai Ketua Pelayanan Virtual/Digital Ministry di LPMI. Pria kelahiran Semarang, 5 Agustus 1961 ini mulai melayani sejak 1988 di LPMI, dan anggota jemaat Gereja GPIB Surya Kasih Pondok Kopi, Jakarta Timur, ini ditahbiskan sebagai pendeta di GKRI Mangga Besar.

         Pdt. Wilfred menyampaikan, pada dasarnya TV Al-Malacootsat  bertujuan untuk memberitakan kasih Yesus Kristus dan pengharapan kepada Tuhan. “Materi siarannya, seperti khotbah-khotbah, talk show, dan pendeta yang tampil sudah dikenal dan teruji kemampuan teologianya, termasuk Hamba Tuhan dari Indonesia seperti Pak Pdt. Nus Reimas bicara di televisi itu. Yang disampaikan bukan yang mempertentangkan ajaran agama, tapi ajaran Kristus atau kasih. Ajaran Kristus adalah jawaban,” kata Wilfred dalam sebuah diskusi bersama wartawan Kristen.  

Kemudian saat menyampaikan renungan di acara ibadah Natal-Tahun Baru 2014 bersama wartawan Kristen yang tergabung di PERWAMKI pada awal 2014 lalu di Gedung LPMI, Jakarta, Pdt. Wilfred menuturkan, wartawan Kristen harus selalu menebarkan kedamaian kepada dunia. “Wartawan Kristen harus beda dengan wartawan dunia,” papar Ketua Panitia “3 Malam KKR Bersama Dr. Michael Youssef, Ph.D” yang dihadiri pula oleh penyanyi rohani Arab terkenal dari Mesir Nagieb Labib di Istora Senayan, Jakarta, pada medio 2013 lalu.

                Menurutnya, ketika ada kesukaran hidup, orang sering merasa kehilangan damai di dalam hidupnya. Karena itu, katanya, wartawan Kristen harus bisa menjadi pembawa damai di tengah  bangsa ini. “Tantangan wartawan Kristen dalam pekerjaannya memang berat, namun kalau Tuhan beserta kita, maka segala sesuatunya akan terasa ringan dikerjakan,” ujar pria yang kerap diutus LPMI ke luar negeri dalam rangka tugas pelayanan itu.

                Supaya kita bisa jadi pembawa damai, kata Pdt. Wilfred, maka perlu diperhatikan, pertama, kita harus berdamai dengan Allah. Dulu Raja Saul yang dipilih Allah menjadi raja di Israel menjauh dari Allah, sehingga ia sering merasakan ketidakdamaian di dalam hidupnya. Ketika Raja Daud muncul, ia selalu khawatir dan gelisah. “Ketika kita berdamai dengan Allah, maka akan ada kekuatan baru dalam menghadapi setiap tantangan atau kesulitan. Ketika kita berdamai dengan Allah, maka tak ada lagi ketakutan saat kita berhadapan dengan segala tantangan kehidupan,” ujarnya. Kedua, berdamai dengan diri sendiri. Kita jangan hanya mengandalkan kekuatan atau pikiran sendiri di dalam kehidupan ini, namun kita mesti andalkan Tuhan. “Para pemimpin, termasuk wartawan, akan sukses kalau ia selalu mengandalkan Tuhan, dalam hal ini tekun berdoa dan membaca Alkitab serta taat terhadap Firman Tuhan,” papar Pdt. Wilfred, yang juga peduli melayani orang-orang “terpinggir” itu. Ketiga, kita harus berdamai dengan sesama, agar masyarakat dan bangsa bisa melihat kasih kita. 

Berita Terkait