PELKESI Pelayanan Kesehatan Secara Holistik

1028 dibaca


 BERITANARWASTU.COM. Setiap pekerjaan yang baik tentu datangnya dari Allah. Dan banyak orang yang menerima panggilan hidupnya melalui profesi yang digelutinya. Itu pula yang dirasakan oleh Irawaty Manullang, SKM., MARS yang menduduki jabatan sebagai Direktur Eksekutif PELKESI (Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia). Perempuan yang murah senyum ini mendedikasikan dirinya di PELKESI untuk menyampaikan shalom Allah dan memberikan pelayanan kesehatan yang utuh dan menyeluruh (holistik) sesuai dengan visi dan misi lembaga tersebut. 

 Berawal dari beban yang sama untuk melakukan misi dalam pelayanan kesehatan dari para tokoh yang concern terhadap bidang tersebut didirikanlah PELKESI pada 17 September 1983 di Balige, Sumatera Utara. Setelah sebelumnya diadakan pertemuan di Tomohon, Jakarta dan Balige. PELKESI kini tersebar di seluruh Indonesia yang dibagi dalam lima wilayah kerja. Wilayah I meliputi Sumatera kecuali Lampung, dengan Sekretariat di Medan. Wilayah II meliputi Lampung, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat, dengan sekretariat di Bandung.

Wilayah III meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, NTT dengan sekretariat di Yogyakarta. Wilayah IV meliputi Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan Timur, dengan sekretariat di Tomohon. Wilayah V meliputi Papua dan Papua Barat. Sedangkan pusatnya ada di Jakarta. 

 Dengan pembagian lima wilayah kerja tersebut PELKESI memiliki keanggotaan yang terdiri dari 73 rumah sakit Kristen, 56 klinik, 20 institusi pendidikan kesehatan Kristen yang meliputi Fakultas Kedokteran, STIKES, Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan dan anggota perorangan.  “Untuk memperkuat anggota, ada tiga program utama yang kami fasilitasi, yaitu, pertamapelayanan perumahsakitan seperti capacity building tenaga kesehatan. Kedua, pelayanan kesehatan primer basisnya ke masyarakat secara umum konteksnya adalah jemaat (gereja) yang diintegrasikan dengan pelayanan unit yang ada,” ujarnya.

Di sini bagaimana PELKESI mendorong rumah sakit untuk memberikan pelayanannya kepada masyarakat. Ketiga, Pelayanan tanggap bencana. Seperti bencana tsunami di Aceh dan akhir-akhir ini Gunung Sinabung. PELKESI memberdayakan rumah sakit para anggotanya untuk mendirikan pos kesehatan baik di tengah lokasi bencana atau mobile. Untuk dana operasional ada hak dan kewajiban dari tiap-tiap anggota PELKESI. Jadi ada iuran yang besarnya disesuaikan dari masing-masing unit pelayanan. Untuk menjalankan program bagi anggota, saya bersama-sama pengurus PELKESI menggalang kemitraan baik lokal misalnya ke Kementerian Kesehatan, BKKBN dan lainnya maupun mitra luar negeri agar dapat melakukan tiga program tersebut secara maksimal,” jelas istri dari Nimrod Lumbantobing kepada Majalah NARWASTU.

 

 

 

Memberi Pelayanan Terbaik

Memberikan yang terbaik dan memuaskan merupakan bagian dari pelayanan yang dilakukan oleh PELKESI. Untuk itu, pada bulan Oktober 2016 lalu atas undangan dari Pastor Aart van Beek para anggota Pelkesi yang berjumlah 14 orang terdiri dari dokter,  perawat, pendeta, dan administrasi mengikuti program pelatihan pendampingan holistik bagi kelompok marginal di Sacramento dan San Fransisco, Amerika Serikat. Selama 18 hari di negeri Paman Sam tersebut para anggota PELKESI mengunjungi sejumlah rumah sakit, lembaga-lembaga sejenis LSM, tempat khusus kaum difabel dan homeless yang diberdayakan.

“Ada enam isu yang akan kami tindaklanjuti setelah program yang kami dapat dari sana, di antaranya yaitu, mengenai Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), KDRT, Difabel, HIV-AIDS dan sebagainya. Dan kita akan merancang pelatihan khusus untuk trauma healing kemungkinan pada Maret 2017 sebagai salah dari enam isu tersebut,” terang ibu dua anak ini bersemangat. 

 Dari kunjungan tersebut bukan saja menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang kesehatan dan pelayanan, tapi di situ para anggota PELKESI juga dibekali mengenai kemampuan untuk mendengar secara dalam (deep listening) agar bisa berempati terhadap orang yang dilayani.  “Jadi istilahnya anda hadir dalam diam ‘show up and shut up.’ Jadi bukan kita yang bicara melainkan pasien tersebut sehingga dia merasakan kehadiran kita. Dua hal itu yang diperlukan untuk memulihkan seseorang dan itu yang harus kita tanamkan,” tukasnya.

Selain itu, ada kenangan yang tak terlupakan, menurut Irawaty, yakni ketika melihat secara langsung ada satu gereja yang terbuka dan khusus untuk kaum homeless yang rutin, tidak saja memberi makan dan tidur secara gratis tapi juga bagaimana membangun persekutuan secara bersama-sama.  

 Sebelum bertolak ke Amerika Serikat PELKESI juga tengah menerapkan Clinical Pastoral Education, yaitu pelatihan untuk bisa berdamai dan menerima keberadaan akan dirinya. Di sini seseorang dibongkar dan ditelusuri kehidupan dia yang sebenarnya sampai pada akhirnya dia menemukan sesuatu yang membuat dia tidak bisa lebih untuk melayani orang lain. Seperti yang dituturkan oleh Irawati bahwa dari pelatihan tersebut ada salah satu perawat yang nyaris ingin mengundurkan diri, karena menilai pekerjaan yang dilakukannya adalah sia-sia. Setelah mengikuti kelas Clinical Pastoral Education (CPE) ia mengurungkan niatnya, sebab pekerjaanya itu merupakan panggilan hidupnya. 

 Pelatihan yang diikuti dengan kelas terbatas itu, yakni hanya 8 peserta dan lama belajar selama 70 hari dan tinggal di sebuah asrama Rumah Sakit PGI Cikini. Dalam training diberikan berupa teori dan praktik. Training yang dibandrol dengan harga Rp 6 jutaan (termasuk makan kecuali hari Minggu/piket) barangkali dianggap cukup mahal. Dan itu juga menjadi kendala terutama bagi peserta dari daerah. “Untuk sementara kami memang memprioritaskan peserta dari daerah. Kisaran biaya tak dipungkiri sebagai salah satu kendala. Tapi nilai itu tidak seberapa dibandingkan dengan ilmu dan kemampuan yang mereka terima,” ujarnya dengan mimik serius.

 Keberadaan PELKESI yang telah memasuki usianya ke-33 tahun adalah rentang waktu yang cukup panjang. Adanya PELKESI melalui misi dan visinya ibarat mengimplementasikan kasih Allah kepada sesama. Bagi PELKESI sendiri, setiap waktunya adalah perjuangan untuk terus bersama-sama untuk menyadarkan akan pentingnya kesehatan, dan ini yang kerap diabaikan oleh gereja. Misalnya, mensosialisasikan BPJS untuk bisa masuk ke gereja-gereja dengan kewajiban warga untuk membayar iuran dan berhak mendapatkan pelayanan kesehatan.  “Nah, kalau gereja mulai bisa bantu itu sangat baik sekali. Walaupun ini membutuhkan effort yang besar tapi kita optimis pasti berhasil,” katanya di ujung wawancara. BTY

 

Berita Terkait