Drs. R. Yosef Ari Wibowo
Pembina Pemuda Katolik dan Ketua DPP KNPI

828 dibaca
Drs. R. Yosef Ari Wibowo

Beritanarwastu.com. Drs. R. Yosef Ari Wibowo, bukan sosok yang asing lagi di kalangan aktivis gereja, terutama di kalangan Katolik. Soalnya, ia adalah mantan aktivis PMKRI, dan dua periode ia dipercaya sebagai Bendahara Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik di era Natalis Situmorang. Selain itu, di partai politik bernafas Kristen, Partai Damai Sejahtera (PDS) ia pernah punya jabatan strategis, yaitu Wakil Sekjen DPP PDS, lalu periode berikutnya naik menjadi Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi DPP PDS.

Pria ramah berpenampilan tenang ini dulu juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Peace dan News Damai Sejahtera (NDS)-nya PDS, dan media internal “Partai Salib” itu. Tak ayal, kalau posisinya itu membuatnya sering dijuluki juru bicara PDS. Jabatan itu pula yang membuatnya kerap berhubungan dengan para wartawan nasional dan jurnalis Kristen. Yosef, begitu ia akrab disapa, pada 2006 lalu mengikuti Kongres XIII Pemuda Katolik di Ambon, Maluku, dan ia salah satu pimpinan sidang. Yosef yang pernah bersekolah di Seminari Menengah Mertoyudan, kini pun pengurus Paguyuban Gembala Utama (PGU), organisasi alumni sekolah seminari dan pengurus Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia).

Kala itu, Pemuda Katolik selain memilih ketua umum, juga membahas tentang persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Yosef menuturkan, acara tersebut berlangsung dengan baik dan sukses. “Kita harapkan Pemuda Katolik sebagai ormas gerejawi bisa memberi kontribusi bagi Indonesia. Saya bangga dengan perjuangan Pemuda Katolik,” kata Yosef yang asal Yogyakarta dan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung, serta FISIP Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Yosef yang kini juga dipercaya sebagai salah satu Ketua DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), sehari-harinya bekerja sebagai profesional di bidang satelit digital Indovision.

Suami tercinta Dra. Maria Trisusanti Pudyastuti ini beribadah di St. Fransiskus Asisi, Tebet, Jakarta Selatan. Pembina Pemuda Katolik ini menuturkan, di tengah kesibukannya bekerja, ia ingin memberi sesuatu yang bermakna untuk gereja dan bangsa ini. Melalui ormas dan media, ia ingin menyuarakan persoalan anak bangsa, termasuk masalah gereja yang kerap mengalami diskriminasi. Melalui media internal Pemuda Katolik, Pro Ecclesia Et Patria yang diasuhnya, ia kerap menulis mengenai persoalan kebangsaan, gereja dan masyarakat.

“Tulisan-tulisan di media itu, termasuk di media internal gereja, selain bisa membuka mata pembaca, mencerdaskan, membentuk opini publik, juga berpengaruh dahsyat bagi pembaca,” ujar Yosef yang kini pun dipercaya sebagai Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Pimpinan Pusat KIRA (Kristen Indonesia Raya). Katanya, jurnalis jangan bosan menyampaikan informasi-informasi penting ke masyarakat.

“Saya menulis, dulu ikut di parpol dan kepengurusan Pemuda Katolik untuk memberi sesuatu yang bermanfaat bagi gereja, masyarakat dan bangsa ini,” kata figur nasionalis ini. Lantaran giat sebagai aktivis pemuda ia telah berulang kali diutus ke luar negeri bersama tokoh muda Indonesia, termasuk bersama Presiden SBY pernah berangkat ke China. Juga baru-baru ini, ia bersama Komisi Kepemudaan KWI ke Brazil mengikuti pertemuan pemuda Katolik sedunia. Pada perayaan Sumpah Pemuda 2013 lalu, ia pun dipercaya sebagai Wakil Ketua Panitia Seminar Pancasila-UUD 1945 dan Deklarasi Gerakan Kebangsaan bersama tokoh nasional, Jenderal TNI (Purn.) Joko Santoso (mantan Panglima TNI) dan Ponco Sotuwo.

Sewaktu kuliah di Bandung, ia aktif di Senat dan Keluarga Mahasiswa Katolik UNPAD sebagai koordinator di fakultasnya. Dia pun pernah aktif di Paduan Suara Mahasiswa UNPAD. Selain itu, selama enam tahun ia giat di Rotary Club, sebuah organisasi sosial bertaraf internasional. “Saya sempat sebentar menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Bandung,” ujar mantan pengurus FMKI (Forum Masyarakat Katolik Indonesia) dan juga salah satu cucu Pahlawan Nasional I.J. Kasimo (alm.) ini.

Menurut Yosef yang pernah menjadi calon legislatif (caleg) di Pemilu 2009 lalu dari Dapil Jawa Tengah, keikutsertaannya dulu parpol Kristen, semata-mata untuk berjuang bagi kebaikan bangsa ini. Melalui parpol, imbuhnya, ia bisa menyalurkan hobinya untuk menulis dan memotret. “Dan, itu kita publikasikan melalui Peace dan NDS yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, dan dibaca banyak politisi Kristen. Saya sering mengeluarkan uang sendiri untuk menerbitkan majalah Peace,” ujar lelaki yang aktif juga di Komisi Kepemudaan KWI ini.

                Sebagai aktivis pemuda, tak jarang Yosef dipercaya sebagai moderator diskusi bersama tokoh-tokoh nasional dan jadi ketua panitia acara di organisasinya. Katanya, berorganisasi juga membuat pergaulannya makin luas, dan bisa mengenal tokoh-tokoh nasional di Tanah Air. “Berorganisasi juga bertujuan membentuk karakter agar kita jadi nasionalis, sekaligus penganut Kristiani yang menjadi garam dan terang di negeri tercinta ini,” papar pria yang pernah membuat program acara politik di Radio Pelita Kasih (RPK) 96,35 FM Jakarta ini.

                Di Pemilu 2014 ini, katanya, sebenarnya ia ditawari sejumlah parpol nasionalis, termasuk Partai Gerindra untuk menjadi caleg. Namun setelah melalui sebuah perenungan yang cukup lama, ia memutuskan tidak maju menjadi caleg kali ini. Meski demikian, tukasnya, ia akan tetap berupaya melakukan pencerdasan politik lewat organisasi yang ia ikuti, termasuk lewat tulisan-tulisannya serta opininya yang dimuat di berbagai media. “Rakyat harus kita ajak agar berpikir kritis dan cerdas dalam mengikuti Pemilu 2014. Pemilih yang cerdas pasti akan menghasilkan wakil rakyat dan pemimpin yang cerdas pula. Indonesia sekarang menghadapi banyak masalah, seperti kasus moral, korupsi, bahaya narkoba dan kejahatan lainnya, dan kita butuhkan figur-figur yang cerdas, nasionalis dan berintegritas guna membangun negeri ini,” pungkasnya.

Berita Terkait