Pendeta Mundur dari Sinode GBI Hal yang Biasa

575 dibaca
Ketua Umum Sinode GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun (tengah) didamping oleh Sekretaris Umum Sinode GBI, Pdt. Paul Wijaya (kiri) dan Bendahara Umum Sinode GBI, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th (kanan).

Beritanarwastu.com. Membentuk sinode baru dan mundur dari sinode asal merupakan hal yang kini biasa terjadi dalam sebuah lembaga keumatan. Itulah yang dilakukan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th, pendiri Rehobot Ministry, yang mundur dari Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan membentuk sinode baru. Kabar yang sempat membuat gaduh, termasuk informasi yang muncul di media sosial (medsos) tersebut pun membuat Sinode GBI bersikap melalui jumpa pers yang digelar di Graha Bethel Jakarta, pada Selasa, 18 September 2018 lalu.

“Beberapa hari ini ada kegaduhan tentang keluarnya Pak Erastus, yang bikin sinode baru. Beliau mundur karena ada perbedaan secara teologis, tetapi perbedaan ini sudah tidak perlu dipertentangkan. Yang penting adalah sama-sama mengerjakann pekerjaan Tuhan di bidang yang sama,” terang Ketua Umum Sinode GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun yang didamping oleh Sekretaris Umum Sinode GBI, Pdt. Paul Wijaya dan Bendahara Umum Sinode GBI, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th.

Pdt. Erastus Sabdono yang juga sudah menyampaikan kemundurannya dari Sinode GBI melalui surat dan video, ikut juga hadir dalam rapat yang dihadiri MPH, BPH dan BPD GBI itu. Akhirnya diputuskan penundaan pendirian sinode baru, yang mestinya digelar pada 23-26 Oktober 2018, lalu berubah dan akan diadakan pada Agustus 2019 mendatang.

Alasannya, selain bulan Oktober adalah momen untuk kampanye menjelang Pilpres dan Pileg 2019, hal itu juga untuk menghindari atau mengantisipasi gonjang ganjing situasi politik, sehingga menghasilkan hal yang baik. Bagi Sinode GBI, soal mundurnya seorang pendeta dari lembaga keumatan adalah hal yang biasa terjadi. Yang terpenting, gereja harus membawa kesejukan dan membawa damai. BTY

Berita Terkait