Drs. Jalenson Munthe
Pengkhianatan Yudas Iskariot (Lukas 22:3-6)

3558 dibaca


Beritanrwastu.com. Kata pengkhianatan merupakan sesuatu yang menyakitkan kalau ditujukan pada kehidupan seseorang. Seringkali kita mendengar kata ini, bahkan mungkin kita pernah melakukan pengkhianatan atau dikhianati oleh seseorang. Dalam pengertian bahasa Indonesia pengkhianatan artinya: tidak setia atau tipu daya. Kalau kita boleh melihat kenapa sampai sekarang mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri tidak pernah mau bertemu atau ditemui oleh Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Jawabnya, karena Megawati pernah merasa dikhianati SBY semasa pemerintahannya.

Mungkin kita pernah dikhianati oleh seseorang yang sangat kita cintai, atau kita pernah ditelikung rekan bisnis, sehingga kita menjadi bangkrut. Atau suami berkhianat terhadap istrinya dengan mempunyai istri simpanan, atau anak-anak kita sering berbohong kepada kita. Yang jelas pengkhianatan adalah sesuatu yang menyakitkan, bahkan bisa menjadi akar kepahitan dalam kehidupan seseorang.

Yudas Iskariot pun demikian, pernah mengkhianati Tuhan Yesus Kristus. Kita tahu Yudas Iskariot adalah salah satu dari dua belas murid Yesus yang tadinya cukup dipercaya, karena dia seorang pemegang kas atau bendahara (Yohanes 12:6). Ternyata Yudas tidak cukup kuat menghadapi dunia ini, bahkan kematiannya pun sangat tragis. Nah, yang menjadi permasalahan, mengapa Yudas berkhianat pada Yesus? Dalam hal ini ada dua jawaban yang perlu kita renungkan.

Pertama, Yudas Iskariot tidak waspada atau tak berjaga-jaga terhadap serangan iblis. Di dalam Lukas 22:3 dikatakan, Maka masuklah iblis ke dalam Yudas”. Kata “masuklah iblis” perlu kita garisbawahi, menunjukkan Yudas memberi kesempatan kepada iblis untuk masuk ke dalam hati dan pikirannya. Artinya, Yudas tidak waspada atau berjaga-jaga terhadap iblis yang penuh tipu daya. Kita pun sering seperti Yudas tidak berjaga-jaga terhadap serangan si iblis.

Kita sudah tahu di tempat itu lokasi berjudi, kita mendekatkan diri ke tempat itu dengan sekadar menonton, yang akhirnya membuat kita jatuh. Kita sudah tahu tempat itu adalah tempat wanita-wanita nakal (pelacur), tapi dengan dalih sekadar iseng akhirnya kita jatuh. Kita sudah tahu merokok tak baik bagi kesehatan, dengan kata coba-coba akhirnya kita menjadi ketagihan. Dan banyak lagi contoh kehidupan yang pernah kita alami ketika kita coba-coba melawan iblis dengan kekuatan kita, dan akhirnya kita jadi jatuh.

Iblis sangat jeli melihat peluang untuk mendapatkan mangsanya. Iblis sangat tahu kelemahan-kelemahan seseorang, termasuk Yudas, yang sangat cinta uang. Pengkhianat lazimnya selain cinta uang, juga sangat ambisius meraih jabatan tertentu tanpa mau mengukur kemampuan dirinya. Pengkhianat juga cenderung meraih jabatan tertentu tanpa melihat apakah ada orang yang disakitinya. Yang pasti pengkhianat terjerumus karena mamon (kepentingan sesaat).

Lewat kelemahan itulah iblis memperdaya Yudas, sehingga ia mau menjual Yesus (Sang Sumber Kebenaran dan Juruselamat Manusia) dengan 30 uang perak kepada para Imam (Matius 26:15). Kita pun sering, seperti Yudas yang mau menghalalkan segala cara demi uang dan jabatan. Uang ternyata mempunyai daya tarik tersendiri, bahkan ada bahasa yang berkata, “Uang bisa mengatur segala sesuatunya”.

Uang bisa menjadi sumber kenikmatan dan kehancuran bagi seseorang ketika ia tak bisa mengendalikan dirinya. Saya punya pengalaman menarik ketika saya naik bus sepulang dari kerja. Waktu itu saya melihat kondektur bus ini lagi menghitung uangnya sampai beberapa kali, dan secara tak sadar saya turut menghitungnya dalam hati. Dan yang paling membuat saya kaget dan merasa lucu, ketika saya memperhatikan di sekitar tempat duduk saya, ternyata mata penumpang lainnya tertuju juga kepada si kondektur. Dalam hati saya berkata, luar biasa daya tarik uang itu.

Kedua, Yudas tidak mensyukuri apa yang sudah ada dalam kehidupannya. Di dalam Lukas 22:4 dikatakan. “Lalu, pergilah Yudas kepada Imam-Imam kepala untuk berunding”. Kata “Berunding” di sini menunjukkan adanya persekongkolan yang tidak baik antara Yudas dengan Imam kepala. Di sini kita bisa lihat bahwa Yudas adalah seorang yang ambisius, menghalalkan segala cara demi tujuannya. Seringkali kita seperti Yudas yang tidak pernah merasa puas dalam hidup ini, kita ingin ini, ingin itu tanpa pernah merasa cukup.

Saya juga pernah mengalami ini ketika baru berkeluarga. Saya sangat berharap punya kendaraan roda dua. Setelah saya dapatkan itu, timbul lagi keinginan, yaitu mendapatkan kendaraan roda empat. Setelah saya dapat itu, muncul lagi keinginan lain, ingin mobil yang mewah dan rumah mewah yang membuat saya tak merasa puas dalam hidup ini. Secara tidak sadar kita sering mengalami yang demikian, apalagi dalam kehidupan sehari-hari. Dan kesuksesan seseorang selalu diukur dari hartanya. Hal inilah yang sering membuat keimanan banyak orang Kristen jatuh bangun dan tidak bertumbuh.

Ada banyak orang Kristen sekarang ini yang berkhianat kepada Yesus, karena jabatan, popularitas, wanita dan uang. Dan itu bisa kita lihat di masa-masa sulit sekarang. Orang cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya tanpa merasa takut, apakah itu bertentangan dengan firman Tuhan. Nah yang menjadi pertanyaan pada kita, apakah kita juga bisa berkhianat kepada Yesus? Atau, apakah seorang bapak, ibu, pejabat, pengusaha, sintua, pendeta atau yang lainnya bisa berkhianat kepada Yesus?

Jawabnya, bisa, apabila ia tidak mensyukuri kehidupannya. Demikian juga Yudas jatuh ke dalam dosa, karena ia tidak mensyukuri kehidupannya. Sekadar tahu, antara “pahlawan” dan “pengkhianat” itu beda tipis. Kalau pahlawan adalah mereka yang berani berubah total, karena ia menghargai nilai-nilai moral dan menjaga integritas. Sedangkan pengkhianat adalah orang yang menghalalkan cara demi uang atau jabatan.

Nah, yang menjadi prinsip dalam hidup ini supaya kita tidak mengkhianati Yesus adalah, tetap waspada dan berjaga-jaga terhadap tipu daya iblis (Matius 26;41), dan mengucap syukurlah dalam segala hal (1 Tesalonika 5:18). Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Berita Terkait