Robi R. Repi, S.H., M.Th
Pengusung Jurnalisme Kabar Baik Lewat PERWAMKI

644 dibaca
Robi R. Repi, S.H., M.Th

Beritanarwastu.com. Jurnalisme kabar baik atau jurnalisme damai itu tak akan memberitakan ketakutan, kebencian, konflik, menista orang dan tidak membuat orang murka. Tapi jurnalisme kabar baik harus memberi solusi dan tidak menghakimi. Yesus datang ke dunia untuk membawa kabar baik, dan insan pers harus meneladani karakter Yesus. Hal itu disampaikan Robi R. Repi, S.H., M.Th, moderator sekaligus penggagas diskusi terbatas “Membedah Jurnalisme Kabar Baik atau Jurnalisme Damai” yang diadakan pada medio 2015 lalu di Kafe BPK Gunung Mulia, Jakarta Pusat.

Dalam diskusi itu hadir narasumber Said Damanik, S.H., M.H. (Advokat senior, mantan Plt. Sekjen DPN PERADI dan Penasihat PERWAMKI), Pdt. Dr. Matheus Mangentang (Rektor STT Setia), dan Otniel Sintoro (Jurnalis senior, mantan Pemred Bahana dan Majalah Inspirasi). Mereka ikut membedah jurnalisme kabar baik atau jurnalisme damai. Hadir pula dalam diskusi ini sejumlah pemimpin media Kristen, seperti Paul Makoguru (tabloid Podium.com), Novi Suratinoyo (Mitra Indonesia), Rionaldo Nainggolan (tabloid Gloria), Celestino Reda (salah satu pendiri PERWAMKI) dan Markus Saragih (mantan Ketua PERWAMKI).

Juga hadir Dian Kristine (Sekretaris PERWAMKI), Betty Bahagianty (Bendahara PERWAMKI), Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Jonro I. Munthe, dan sejumlah wartawan dari Bahana, Berita Oikoumene, Inspirasi, Suara Bangsa, Blessing.com, Kabarbaik.com, Youth Talent, Majalah Kalam Hidup, Reformata dan lainnya. Bahkan, mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam Pdt. Brigjen TNI (Purn.) Harsanto Adi, M.M. (salah satu Penasihat PERWAMKII) yang dulu menangani media massa di instansinya hadir.

                Ketua panitia diskusi, Markus Saragih yang juga Redaktur Pelaksana Berita Oikoumene menerangkan, acara ini diadakan PERWAMKI sebagai wujud persaudaraan di tengah wartawan Kristen agar bisa saling berbagi informasi, dan tidak ada tujuan untuk menyudutkan media tertentu. Said Damanik yang sudah kenyang makan asam garam di dalam menangani perkara hukum menerangkan, antara wartawan dan pengacara itu beda-beda tipis, dia punya kebebasan, tapi ingat ada undang-undang atau hukum membatasi. “Wartawan harus hati-hati di dalam pemberitaannya, dan ada tanggung jawab kita kepada Tuhan,” ujarnya.

              Pers, seperti ditegaskan undang-undang, kata Said, harus menghargai prinsip demokrasi dan keadilan, serta perhatikan supremasi hukum. “Pers harus pula memperhatikan norma agama, norma-norma kesusilaan dan azas praduga tidak bersalah,” kata Said. Dalam penutupnya, Sekretaris PERWAMKI, Dian Kristine (Didi) menerangkan, melalui diskusi ini, kita diingatkan kembali agar memperhatikan sumber daya manusia (SDM) kita, sehingga kita tahu rambu-rambu pers. “Makanya PERWAMKI melakukan pelatihan jurnalistik, agar wartawan kita semakin berbobot,” paparnya.

Said Damanik memuji diskusi PERWAMKI ini amat baik, dan bisa memberi inspirasi, motivasi, pencerahan hukum, serta bisa mempertemukan antara yang dirugikan dalam pemberitaan dengan pihak media yang memberitakan. “Ini diskusi luar biasa, mirip Indonesian Lawyer Club (ILC). Saya bangga dengan PERWAMKI. Mari jaga kekompakan,” ujar Said yang mantan aktivis FKPPI dan KNPI semasa mudanya.

 “Tim PERWAMKI adalah komunitas intelektual yang senang bertukar pikiran atau berdiskusi. Jadi tak hanya ngumpul saat di jumpa pers,” tutur Robi penggagas acara itu. Mantan anggota Presidium GMNI dan mantan aktivis di Universitas Sam Ratulangi, Manado, itu kini dipercaya pula sebagai Direktur Penerbit Kalam Hidup. Selain itu, ia mantan Ketua PERWAMKI dan kini Wakil Sekum II PGLII. 

Di kalangan aktivis gerakan oikoumene nama Robi Repi sudah tidak asing. Ia dulu dikenal sosok  wartawan tangguh. Sebelumnya, pria yang juga aktivis FUKRI (Forum Umat Kristiani Indonesia) ini pernah berkarya di Majalah Bahana dan Inspirasi. Sejak dulu ia dikenal figur yang yang kerap mengadakan diskusi bersama tokoh-tokoh, apalagi ia pun Wakil Ketua DPD PIKI DKI Jakarta.

Mantan Ketua Umum DPP PIKI, Cornelius D. Ronowidjojo pernah mengatakan, Robi sosok pemuda gereja yang aktif, pekerja keras dan intelektual. Cornelius menilai, Robby cukup sukses memimpin PERWAMKI. Tak ayal, Robi pernah disebut-sebut sebagai calon Sekretaris Umum DPP GAMKI pada 2011 lalu. Pun pada 2015 ia  disebut-sebut calon Sekretaris Umum PGLII. Tak banyak kader PERWAMKI seperti Robi yang giat berorganisasi dan giat menulis. Penggemar babi panggang dang ado-gado ini merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, dan lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 18 November 1973.

Kemampuannya berorganisasi tak diragukan lagi. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Senat Fakultas Hukum Unsrat (1994-1995). Ia pun mantan Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Usaha Majalah Inovasi di kampusnya. Selain itu, ia mantan Ketua Umum UKM Olahraga di Unsrat dan Sekretaris Senat Mahasiswa Universitas (1995-1996) dan pendiri PERWAMKI di Provinsi Jawa Barat.

Pria low profile ini pernah dipercaya sebagai Sekretaris Gema Kosgoro, Manado, dan Sekretaris II KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Manado, Wakil Ketua DPC GMNI Manado (1994-1997) dan anggota Presidium GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Komite Organisasi (1999-2002). Robi yang kini dipercaya sebagai Convocator atau fasilitator FUKRI mengatakan, “Saya sejak mahasiswa sudah dididik agar terampil menulis, sering berdiskusi, terampil bicara dan aktif berorganisasi.”

Berita Terkait