Peran Keluarga Menghadapi Bahaya Narkoba

629 dibaca


Beritanarwastu.com, Tidak ada seorangpun yang ingin menjadi pecandu (drug addict). Tapi, sekali ia mencoba obat-obatan tersebut mungkin hanya ingin tahu atau coba-coba, tapi pada akhirnya ia terjerat untuk waktu yang lama. Rasa ketagihan pada obat-obat terlarang (narkoba) bagaikan berada pada maze (penyesatan). Pengguna seperti berputar-putar di dalamnya sebelum lolos ke dunia selamat.

Yang harus dipahami tentang kecanduan obat-obatan ini adalah bahwa obat-obat bius dapat mengubah alam bawah sadar kita. Ini sebenarnya diciptakan untuk membunuh rasa sakit atau berfungsi sebagai painkiller. Jadi, apabila seseorang memerlukan atau tertarik pada obat-obatan ini, sebenarnya ada “suatu rasa sakit” yang dideritanya yang membuatnya tidak nyaman. Ini dapat terjadi pada siapa saja pada segala usia, misalnya, remaja yang putus cinta atau mungkin seorang lelaki dewasa yang frustrasi dengan rumah tangga, pekerjaan atau hidupnya yang tidak bahagia.

Ada banyak teori yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba, tergantung dari tingkat-tingkat ketergantungan. Pertama, dari sisi keluarga: (a) ada gap antara orangtua dan anak atau kurangnya perhatian, (b) keluarga yang retak, (c) keharmonisan atau kebahagiaan tidak tampak, (d) keluarga yang sibuk/tidak ada waktu, (e) salah satu anggota keluarga adalah pemakai.

Kedua, dari sisi pemakai: (a) perasaan rendah diri, merasa tidak dihargai, dipuji dan diakui, (b) ingin mencoba. Ketiga, dari sisi lingkungan: (a) pengaruh atau tekanan dari teman, (b) lingkungan masyarakat/sekolah, (c) mudah diperoleh, (d) alat negara lemah. Keempat, dari sisi spiritual. Artinya ia jarang beribadah yang mengakibatkan nilai moral dan spiritualnya menipis.

Kemudian, berikut ini adalah tingkatan orang-orang yang jatuh pada pemakaian obat-obat terlarang. Pertama, rayuan (enticement). Dunia mempunyai berbagai macam cara untuk merayu kita. Rayuan dapat datang dari TV, bioskop, majalah atau teman. Dosa membujuk kita untuk jatuh dengan embel-embel enak dan puas. Hawa pun jatuh pada dosa karena rayuan iblis untuk memakan buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 3:4-6).

Kedua, mencoba. Setelah termakan oleh rayuan iblis, maka orang mulai mencoba. Sebabnya, jangan sesekali bereksperimen dengan obat-obat terlarang, karena sekali mencoba maka seseorang tidak dapat melepaskan diri dari situ. Makanya, jangan beri kesempatan pada iblis.

Ketiga, menyukai (enjoyment). Apabila seseorang sudah sampai pada tahap menyukai, maka ia dalam keadaan bahaya, karena ia mulai menikmati “enaknya” mengkonsumsi obata-obat tersebut dan menyukainya. Obat-obat tersebut sepertinya memecahkan persoalan. Penggunanya merasa lebih baik, karena sepertinya ia lebih dapat menghadapi hidup ini. Ada persoalan sedikit yang dihadapinya, maka obatlah yang dicarinya.

Obat-obatan menjadi berharga baginya. Ia secara bertahap menjadi tergantung pada obat-obat tersebut. Di sinilah ia terperangkap. Keempat, diperbudak (enslavement). Dalam tahap ini obat telah menjadi sesuatu yang terpenting dalam hidupnya. Ia telah diperbudak dan obat menjadi “tuan” dalam hidupnya. Yang ada dalam pikirannya ialah, bagaimana caranya mendapatkan obat untuk dikonsumsi. Biasanya orang yang sudah berada dalam tahap ini, kehilangan penguasaan diri untuk mengontrol pemakaiannya, dan ia benar-benar sudah menjadi seorang pecandu.

Obat menjadi sesuatu yang terpenting dalam hidupnya. Ia akan selalu membutuhkan obat-obatan hanya supaya dapat hidup normal. Kelima, kematian (death). Apabila seorang sudah diperbudak oleh obat-obatan, organ-organ tubuhnya mulai mengalami kerusakan. Kasus yang banyak dijumpai pada drug addict (pecandu) adalah penyakit TBC. Hepatitis B, C, HIV/AIDS, jantung, lever, ginjal dan gangguan jiwa (paranoid). Alkitab mengatakan, upah dosa adalah maut (Roma 6:23).

(Tulisan ini adalah karya almarhum Dr. Erwin Pohe yang pernah dimuat di NARWASTU).

Berita Terkait