Said Damanik, S.H., M.H.
Percaya Santet Sebuah Persepsi yang Mundur

560 dibaca
Said Damanik, S.H., M.H.

Beritanarwastu.com. Hampir semua suku yang ada di Indonesia punya kepercayaan terhadap hal-hal bernuansa magis atau kepercayaan pada sesuatu yang supranatural. Dalam istilah hukum disebut religio magic atau keyakinan pada magis. Adalah fakta, dulu nenek moyang kita sebagian sudah beragama, misalnya menganut Kristen, Katolik atau Islam, tapi sebagian lagi belum beragama, dan menjalankan kebiasaan adat zaman dahulu atau hukum tak tertulis. Di mana hukum adat itu merupakan rangkaian kegiatan yang telah dilakukan masyarakat hukum adat yang berulang-ulang, dan telah ditentukan sebagai kegiatan rutin saat itu.

Demikian disampaikan praktisi hukum senior, Said Damanik, S.H., M.H. yang juga mantan Ketua Bidang Pengayoman Anggota DPP Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) dan aktivis gereja dari GPIB Immanuel, Kota Bekasi, Jawa Barat. Menurut pengacara dan pejuang HAM ini, kalau di daerah Sumatera Utara (Sumut) masih ada orang yang percaya pada santet atau begu ganjang, itu merupakan akibat dari kurangnya penghayatan pada adanya Tuhan sebagai penguasa di bumi ini. Menurut Said yang juga Penasihat Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI), ada satu kebiasaan masyarakat di pedesaan saat ini, yakni menyembah atau percaya pada alam semesta.

“Misalnya, datang ke kuburan-kuburan tua, tempat-tempat keramat atau yang bersifat takhyul. Termasuk percaya pada begu ganjang. Di mata kuliah ilmu hukum pun ada dipelajari soal kepercayaan masyarakat hukum adat,” ujarnya. Sehubungan dengan adanya korban begu ganjang, yang dibakar hidup-hidup karena dituding memelihara santet atau begu ganjang, kata Said, itu tak mencerminkan orang di sana beragama. “Ini pelanggaran HAM,” ujar Ketua Umum Panitia HUT Emas Alumni Universitas Katolik Atmadjaya, Jakarta ini.

Sehubungan dengan kasus yang memilukan atas kasus begu ganjang ini, Said menegaskan, pertama, kalau kita sudah beragama dan percaya terhadap Tuhan, maka yang harus kita percayai adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. “Kalau kita di Kristen, kan, percaya pada Tuhan Yesus,” ujarnya. Kedua, kita harus mematuhi hukum positif yang berlaku di tengah bangsa ini. “Kalau ada kelompok masyarakat yang percaya pada begu ganjang, itu sebenarnya persepsi atau kebiasaan yang mundur jauh ke belakang. Apalagi kalau mereka sudah beragama dan berpendidikan, masa percaya lagi pada kuasa setan,” tegas mantan Plt. Sekjen DPN PERADI dan kini Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI ini.

 

Kita Harus Lebih Percaya Pada Kuasa Tuhan

Di era sekarang yang semakin modern, ujar Said, kita harus lebih percaya pada kuasa Tuhan. “Kita pun harus realistis dan rasional. Kekuatan yang harus kita percayai, satu-satunya haruslah kekuatan Tuhan. Dan apabila ada masalah yang terjadi, harus dilihat juga fakta dan buktinya. Soal santet, kan sulit dibuktikan. Jadi kalau ada efek samping atau efek negatif dari seseorang atau kelompok masyarakat, proses hukumnya amat sulit. Dan ini yang kemudian membuat orang jadi emosi dan bertindak anarkis,” paparnya.

Menurut Said, ia tak habis pikir, kok di era modern ini masih ada saja orang yang percaya pada kekuatan takhyul. “Memang yang namanya setan atau santet ada di bumi. Tapi kita harus lebih percaya kepada kekuatan Allah, karena Dilah penguasa dan pencipta bumi dan segala isinya. Kehidupan kita ini seharusnya bermakna bagi keluarga, masyarakat dan Tuhan. Jangan sampai terjadi tindakan anarkis, apalagi sampai membunuh sesama, karena isu begu ganjang,” terang salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” ini.

Said pun mengimbau pemerintah, tokoh agama dan pemuka adat agar memberi pencerahan terhadap masyarakat, sehingga tidak mudah diprovokasi orang-orang tertentu untuk bertindak anarkis, karena isu begu ganjang. “Jangan sampai kita disesatkan dengan isu-isu takhyul. Makanya, di gereja-gereja, mesjid atau sekolah-sekolah harus disosialisasikan tentang isu begu ganjang yang menyesatkan ini, agar masyarakat makin cerdas dan tidak mudah diprovokasi,” papar Said yang juga pengajar ilmu hukum di Unika Atmadjaya, Jakarta. MN   

Berita Terkait