Perjalanan Hidup Seorang Senator Tangguh, Nasionalis dan Religius

449 dibaca


Beritanarwastu.com. Buku berjudul “Djasarmen Purba, S.H.-Hidup Adalah Ibadah: Anak Holang Bangkei” setebal 494 halaman ini, adalah otobiografi seorang anak bangsa yang menarik, menyentuh dan penting dibaca, terutama generasi muda. Pasalnya, dalam buku yang ditulis St. Ir. Jannerson Girsang, penulis senior dan cendekiawan terkemuka asal Medan ini, ada dimuat kisah nyata perjalanan seorang senator yang sudah mengalami pahit getirnya kehidupan, hingga ia sukses di panggung politik. Djasarmen Purba yang merupakan anggota DPD-RI dari Provinsi Kepulauan Riau adalah seorang aktivis gereja, pengusaha, mantan anggota DPRD hingga namanya muncul di panggung politik nasional sebagai anggota DPD-RI yang disegani. Dan dia seorang yang tekun berdoa dan percaya pada kuasa Tuhan.

Siapa sangka, Djasarmen Purba yang kini figur sukses pernah tidur beralaskan tikar di rumah kontrakan, lalu berbulan-bulan lamanya ia nyaris kehilangan semangat hidup karena kasus yang melilitnya, karena ia ditipu. Namun Djasarmen adalah seorang Kristen yang taat. Ia percaya bahwa hidup ini anugerah dan dikendalikan Tuhan. Dan rancanganNya adalah damai sejahtera. Hidup ini, bagi Djasarmen, pun harus mengasihi, dan ia mampu mengasihi penabrak putra sulungnya, Nino, yang meninggal dalam sebuah kecelakaan.  

               Dalam tulisan pengantarnya, Djasarmen Purba yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2015 Pilihan Majalah NARWASTU” menuliskan, hidup saya mengalir saja, seperti sungai. Selain bekerja dengan tekun, saya mendoakan pekerjaan saya agar selalu diberkati Tuhan, mengandalkan dan menaruh harapan kepada Tuhan menuju arah yang sudah ditentukanNya. Sebagaimana ayat kesayangan saya, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan dan yang menaruh harapan pada Tuhan” (Yeremia 17:7). Dengan mengandalkan Tuhan, saya dimampukan bersyukur dalam segala situasi, mampu melintasinya dengan suka cita. Saya mampu mengucap syukur pada masa hidup dalam zona nyaman maupun zona darurat.

            Akhirnya, saya merenungkan kehidupan saya selama bertahun-tahun dan berkesimpulan “Hidup Adalah Ibadah.” Hidup harus dilalui dengan rasa syukur dengan berpikir, bertindak sesuai dengan kehendakNya. Itulah sekilas penjelasan tentang buku ini, Hidup Adalah Ibadah:  “Anak Holang Bangkei.” Dalam menjalankan kehidupan, kita diajar menghitung hari-hari kita. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). Otobiografi ini adalah sebuah usaha saya menghitung hari-hari kehidupan selama 70 tahun, memperoleh hati yang lebih bijak lagi untuk menjalani akhir hidup saya.

             Saya teringat akan kata-kata bijak scripta manent verba volant: Yang tertulis akan abadi, yang terucap lenyap. Pengalaman pribadi saya yang sedemikian panjang mungkin penting bagi anak, cucu dan pembaca sekalian. Semua tentu akan hilang kalau tidak dituliskan. Menulis sebuah otobiografi, ternyata tidak sesederhana seperti yang saya bayangkan. Selama kurang lebih setahun saya dan saudara Ir. Jannerson Girsang bekerja keras untuk mewujudkannya. Puji Tuhan, buku ini telah dapat kita baca saat ini. Terbitnya buku ini merupakan anugerahNya dan benarlah keyakinan saya dengan kesabaran dan penyerahan diri semua bisa terwujud.

          Buku ini merupakan kisah kehidupan saya selama 70 tahun. Tidak mudah memilih dari sekian banyak kisah untuk dimasukkan ke dalam buku ini. Ingin semua rasanya dikisahkan, tetapi ruang dan waktu yang terbatas tidak memungkinkan menyajikan semua secara lengkap. Buku ini bukan untuk mengagungkan pribadi saya, justru untuk menunjukkan pertolongan Tuhan buat saya. Saya menuangkan penggalan-penggalan kisah yang saya ingat. Yang pasti sebagian kisah hidup yang saya sudah lalui tidak bisa saya ingat atau tidak sempat saya ceritakan dalam buku ini. Untuk itu, saya juga menyertakan kenangan-kenangan dari keluarga, teman-teman sejawat saya tentang apa yang mereka lihat dan rasakan tentang kehadiran saya di tengah-tengah mereka.

           Terima kasih kepada saudara Jannerson Girsang yang menuliskan kembali kisah yang saya ungkapkan dan catatan-catatan lepas yang saya berikan, demikian juga mewawancarai puluhan nara sumber dan meramunya menjadi kisah menarik dalam buku ini. Puji syukur, akhirnya dapat diterbitkan persis di hari syukur ulang tahun saya. Tanpa ketekunan dan kecintaan beliau menulis, saya kira buku ini tidak akan tersaji seperti ini. Secara khusus saya mengucapkan terima kasih untuk isteri tecinta, orang yang setia setiap saat mendukung saya dalam penulisan buku ini.

              Penghargaan tentu juga saya sampaikan kepada semua putra, putri, menantu, serta keluarga besar saya, yang mendukung penulisan dan penerbitan buku ini. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua nara sumber yang bersedia menuliskan kesan dan pesannya pada ulang tahun saya yang ke-70 ini. Waktu, pikiran dan tenaga yang disisihkan sungguh tak ternilai harganya dalam melengkapi kisah-kisah saya dalam buku ini. Semoga kisah-kisah dan perenungan yang saya paparkan serta kontribusi teman-teman dapat berguna bagi anak-anak saya, cucu-cucu saya, serta memberikan inspirasi bagi para pembaca yang budiman. Sama seperti harapan Asma Nadia, seorang penulis novel terkenal, “Kalaupun saya dipanggil Tuhan, buku-buku saya dapat menemani anak-anak saya.”

Buku yang terdiri dari 23 bagian, dan ditulis dengan bahasa yang enak dibaca oleh mantan Rektor Universitas Simalungun (Sumut), Jannerson Girsang ini, juga dilengkapi komentar sejumlah tokoh, mulai dari menteri, gubernur, pakar politik, pimpinan gereja, tokoh masyarakat, kaum awam dan keluarga dekat. Buku yang diterbitkan Yayasan Genggam Padi Raya ini, sekali lagi, penting dibaca, lantaran mampu menginspirasi dan memotivasi, serta meneguhkan iman bagi pembaca, terutama umat Kristiani. LK

Berita Terkait