PGI Wilayah DKI Jakarta Gelar Diskusi Lima Abad Reformasi Martin Luther

334 dibaca
Para nara sumber dalam diskusi.

Beritanarwastu.com. Dalam rangka memperingati 500 Tahun Reformasi, PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah DKI Jakarta menggelar diskusi di Gereja HKBP Kebayoran Baru, Jalan Hang Lekiu III No. 18, Jakarta Selatan, pada Senin, 27 November 2017 lalu. Diskusi yang dihadiri pendeta dan anggota jemaat ini menghadirkan nara sumber Pdt. Dr. SAE Nababan, L.LD, Pdt. Dr. J.R. Hutauruk, Pdt. Dr. Richard Daulay, Pdt. Dr. Martin L. Sinaga, Pdt. Dr. Anwar Chen, Pdt. Dr. Binsar Pakpahan, dan Pdt. Dr. Binsar Nainggolan. Para pembicara ini, adalah teolog dan pemimpin gereja yang tak diragukan lagi.

Pada kesempatan itu, Pdt. SAE Nababan mengungkapkan, Martin Luther memulai Reformasi setelah membaca dan mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Dia mendapati banyak hal yang diajarkan dan dilakukan gereja bertentangan dengan firman Tuhan. Bahkan, firman Tuhan telah terdesak oleh ajaran-ajaran dogmatis, peraturan-peraturan gereja, keputusan-keputusan sinode dan Sri Paus serta kebiasaan-kebiasaan gerejawi yang berabad-abad lamanya.

“Dia memprotes dengan mengatakan, hanya firman Tuhan yang mempunyai kemutlakan dan kata terakhir atas segala sesuatu. Begitu ngerinya ancaman yang dia lihat, sehingga dengan sangat tajam dan tegas tanpa tedeng aling-aling dia mengatakan, Sola Scriptura, hanya firman Tuhan yang mutlak harus ditaati. Semua dogma, peraturan, keputusan sinode, kebijakan Sri Paus dan kebiasaan-kebiasaan gerejawi harus tunduk kepada firman Tuhan,” kata mantan Ketua Umum PGI dan bekas Ephorus HKBP serta mantan Moderator Dewan Gereja-gereja se-Dunia ini.

Dilanjutkan Pdt. SAE Nababan, merayakan Reformasi masa kini dapat berarti mulai mencari tahun mengapa warga jemaat itu “menghilang”, pindah gereja, jajan rohani, menjauh dari gereja atau mungkin juga murtad. Informasi dari mereka pasti akan membantu memahami apa saja yang harus diperbaharui. Merayakan Reformasi bisa juga membangkitkan kembali cinta kasih gembala kepada domba-dombanya (bdk. Matius 18:12-14).

Peserta diskusi tampak serius. 

Hal senada disampaikan Pdt. Anwar Chen. Menurutnya, perayaan 500 Tahun Reformasi tetap penting dilihat sebagai momentum historis yang selalu mendorong gereja-gereja untuk merefleksi ulang tentang pentingnya pembaharuan gereja. “Pertama-tama ada gejala yang memprihatinkan belakangan ini, bahwa pertikaian-pertikaian internal membuat gereja-gereja disibukkan dengan perebutan kuasa di antara para pemimpinnya. Dengan sistem pemilihan yang mengandalkan demokrasi, pemilihan para pejabat gereja kerap menjadi ajang pertarungan mirip pilkada yang menguras gereja dari sumber-sumber yang mestinya dimanfaatkan untuk mengembangkan tugas dan kesaksian gereja di tengah-tengah masyarakat,” kata Pdt. Anwar.

Sementara itu, Pdt. Binsar Nainggolan melihat bahwa Reformasi Martin Luther secara umum dirasakan relevansinya, baik oleh gereja-gereja secara global maupun oleh gereja-gereja di Indonesia hingga sekarang ini, di antaranya, penghormatan kepada kaum perempuan. Bagi Martin Luther, sakramen baptisan merupakan event yang sentral, di mana Allah menjanjikan akan memberikan anugerah, kasih, pemeliharaan dan makna kehidupan

Dengan demikian, kita mesti menghormati makna kehidupan kaum perempuan. Manusia, laki-laki dan perempuan dibabtis, sehingga manusia dari kedua jenis kelamin itu berada dalam martabat yang sama. Sikap emansipatif ini mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk mentahbiskan perempuan menjadi pendeta, dan belakangan menjadi praeses dan pimpinan gereja.

“Menurut catatan saya, Aguslita Lumentut almarhum, adalah wanita pertama di Indonesia yang menjabat sebagai Ketua Sinode, yakni di GKST. Disusul kemudian oleh Mery Kolimon sebagai Ketua Sinode GMIT saat ini. Beberapa gereja Protestan di Barat sudah lebih dulu memilih kaum perempuan menjadi bishop, misalnya Bishop Maria Jepsen di Hamburg, Bishop Margot Kaessmann di Hanover, dan banyak lagi,” jelas Pdt. Binsar Nainggolan. KT

Berita Terkait