Pilihan Cawapres RI Bagi Petahana

• Oleh: Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. 268 dibaca
* Penulis adalah pemerhati politik dan perburuhan serta Ketua Umum Vox Point Indonesia.

Beritanarwastu.com. Kurang dari 40 hari pendaftaran Capres dan Cawapres RI untuk Pilpres 2019,  namun belum nampak tanda-tanda munculnya pilhan Jokowi, sang petahana. Beberapa nama, seperti Cak Imin dari PKB, Romy dari PPP, Moeldoko, Sri Mulyani, Susi Pujiastuti, Mahfud M.D., Puan Maharani, Airlangga Hartarto, bahkan Anies Baswedan masuk dalam bursa cawapres untuk Jokowi. Sejauh ini, belum ada yang benar-benar mengerucut. 

 

Hal ini bisa dimaklumi karena potensi chaos sangat besar apabila Jokowi salah menentukan figur yang tepat.
Peta koalisi yang sudah terbentuk bisa berubah dan tentu saja petahana tidak akan mengambil risiko yang melemahkan. Ada beberapa partai koalisi yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Bisa disebutkan misalnya PKB, yang tanpa malu-malu menyodorkan Cak Imin sebagai pendamping Jokowi di 2019, juga Romi dari PPP dalam berbagai kesempatan juga telah menyatakan kesediaannya sebagai pendamping Jokowi.

 

 

Yang masih malu-malu adalah Golkar walaupun lewat tokoh senior Golkar sudah terang benderang menyebutkan nama Ketua Umum Golkar yang sekaligus juga Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Tidak kalah menariknya, Puan Maharani juga menjadi calon dari PDIP yang siap mendampingi Jokowi. Jadi ada empat partai pendukung pemerintah  dari 6 partai pendukung kalau PAN dianggap abu-abu yang memberikan ketua partainya menjadi pendamping Jokowi.
            Bukan hal yang mudah bagi sang petahana memutuskan calon cawapresnya dari partai- partai tersebut di atas. Kekhawatiran partai yang tidak terpilih kemudian membentuk koalisi baru atau bergabung menjadi penantang petahana juga cukup besar. Kalau berhitung lebih cermat, koalisi lawan petahana dengan tersisa empat partai akan lebih sulit membentuk koalisi yang ketiga apabila dibandingkan masuknya partai pendukung akibat kekecewaannya ke koalisi lawan petahana. Misalnya 1 atau 2 partai yang kecewa dan kemudian bergabung ke koalisi lawan petahana, maka kemungkinan ada 3 capres peluangnya menjadi terbuka lebar.

 

Mencermati peluang cawapres bagi petahana, peluang ketua partai menjadi cawapres menjadi kecil. Kebutuhan Jokowi akan cawapres adalah sosok yang bisa menaikkan elektabilitasnya, yang dapat mengambil pemilih di luar pemilih fanatiknya. Ada beberapa pertimbangan sosok yang diharapkan dapat menjadi pendampingnya. Pertama, Airlangga Hartarto, sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang dari hasil Pilkada 2018 cukup memperoleh nilai baik dan partai yang relatif semakin solid patut diperhitungkan. Namun yang perlu ditelaah lebih dalam, apakah figur ketum tersebut juga kuat di akar rumput.

Kedua, Romy, sebagai Ketua Umum PPP yang relatif lama dilanda prahara. Soliditas partainya juga masih belum teruji. Akan sulit bagi Romy untuk dapat mengangkat elektabilitas Jokowi. Ketiga, Cak Imin, sebagai partai representasi ormas terbesar di Indonesia, NU, mempunyai cukup peluang untuk menjadi pendamping petahana. Hanya saja ada beberapa kendala yang perlu dipertimbangkan. Keempat, Puan Maharani, sosok yang masih belum banyak pengalaman. Kelima, Moeldoko, dapat menjadi alternatif apabila pihak seberang GN. Keenam, Prof. Mahfud MD, sosok yang perlu diperhitungkan kehadirannya karena dapat merupakan tokoh yang netral, representasi dari umat Muslim. Sehingga perpaduan Jokowi-Mahfud dapat dianggap nasionalis religius.

Ketujuh, Tuan Guru Bajang (TGB), tokoh muda yang baru saja menyatakan dukungannya ke Jokowi. Dapat menjadi alternatif karena TGB dianggap pernah menjadi bagian dari garis keras. Kedelapan, Dr. Sri Mulyani, sebagai representasi profesional, SM dapat menjadi alternatif yang baik. Tetapi saat ini Jokowi lebih memerlukan tokoh yang dapat memberikan penambahan elektabilitas dari sekadar tokoh yang ahli di bidang tertentu. Kesembilan, Chairul Tanjung, sebagai tokoh pengusaha dan kehadirannya diharapkan dapat menjadi pintu masuk partai tertentu yang dekat dengan CT. 

Dari berbagai masukan, maka sosok Mahfud MD, TGB, Moeldoko, Chairul Tanjung diharapkan dapat menjadi alternatif pendamping Jokowi (JKW) tanpa merusak soliditas partai pendukungnya. Pilihan cawapres yang tepat akan menjadikan petahana menjadi makin kuat dan calon lawan akan berhitung lebih cermat. Dan tentu saja pemimpin yang berkualitas adalah dambaan seluruh rakyat agar Indonesia sejahtera bukan cuma slogan kosong belaka.

Berita Terkait