Jonro I. Munthe, S.Sos
Politik dan Seks

613 dibaca
Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU)

beritanarwastu.com. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media Kristiani beberapa tahun lalu, pakar hukum yang juga mantan Wakil Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Prof. J.E. Sahetapy pernah mengatakan, politik itu sama seperti seks. Politik, katanya, asal dimanfaatkan untuk yang benar, pasti mensejahterakan banyak orang. Jadi politik tidak kotor seperti anggapan banyak orang. Yang mengotori politik hanya orang-orang yang tidak bermoral. Demikian juga seks, katanya, diciptakan Tuhan untuk tujuan baik, asal dimanfaatkan dengan orang yang benar dan tepat.

                Pernyataan J.E. Sahetapy ini tentu saja benar. Soalnya, saat ini masih banyak orang yang alergi dan menganggap politik kotor. Bahkan, ada yang beranggapan setiap orang yang berpolitik adalah orang jahat atau insan berdosa. Padahal, kalau kita simak tujuan politik yang sebenarnya adalah berupaya meraih dan mengelola kekuasaan untuk kesejahteraan banyak orang. Namun, yang banyak terjadi sekarang adalah, politisi memakai politik untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompoknya. Bahkan, mereka tak segan-segan menerapkan politik ala Niccolo Machiavelly yang menghalalkan cara, sehingga merugikan dan menakutkan bagi banyak orang.

                Demikian juga seks, diciptakan Allah sebagai anugerah untuk dinikmati manusia. Di Alkitab di Kejadian 1:28, ditulis, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah…’” Dari tulisan ini bisa disimpulkan bahwa Allah memberkati setiap ciptaanNya, termasuk berhubungan seks (beranakcucu) dan berpolitik (taklukkan dan berkuasa). Dengan demikian, ayat ini kembali mencerahkan kita bahwa Allah memberkati seks dan politik asal dilakukan dengan beretika untuk kemuliaanNya. Dengan kata lain asal dilakoni dengan memegang teguh aturan atau nilai-nilai moral.

                Namun yang kita lihat akhir-akhir ini, seks terkesan tak sakral lagi dan justru makin murah meriah, karena video porno wanita mirip Luna Maya dengan lelaki yang menyerupai Ariel “Peterpan” yang menghebohkan baru-baru ini. Pakar Teknologi Informasi dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Heru Sutadi mengatakan, rekaman video porno tersebut, “99 persen benar Luna-Ariel. Sementara satu persennya hanya merekalah yang tahu…” tukasnya, seperti dikutip tabloid Cek & Ricek edisi Rabu, 9-15 Juni 2010. Video porno yang beredar di jaringan internet, face book, twitter dan media massa itu menjadi heboh, karena keduanya selama ini adalah selebriti yang amat terkenal dan idola banyak kaum muda, namun belum terikat perkawinan.

Selama ini, banyak orang yang mengagumi kesuksesan kedua selebriti muda ini di panggung hiburan, namun sejak video porno mereka beredar luas, cibiran dan hujatan pun ditujukan terhadap keduanya. Lantaran itu pula, hingga tulisan ini naik cetak Polda Metro Jaya memastikan akan menyelidiki peredaran video porno yang amat vulgar memperlihatkan dua manusia sedang bersenggama sembari telanjang bulat berdasarkan Pasal 282 KUHP Tentang Kejahatan Kesusilaan.

Kemudian aksi politisi atau pejabat pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat, baik di panggung Senayan maupun oleh sejumlah partai politik akhir-akhir ini, kita lihat juga amat memprihatinkan. Seperti yang terjadi di Bogor, ada sebuah gereja yang sudah diputuskan menang di pengadilan sebagai sebuah tempat ibadah yang sah, masih tetap disegel. Sehingga gereja tersebut tidak bisa dipakai jemaat untuk beribadah. Di sinilah kita saksikan demonstrasi penguasa yang arogan, yang membuat politik jadi tidak elok sebagai alat untuk mensejahterakan rakyat.

Dalam sejarah Alkitab sudah kita saksikan pula seorang penguasa yang hebat dan perkasa, yakni Raja Daud tersandung kasus seks yang amat memalukan. Dia berselingkuh (berzinah) dengan seorang perempuan jelita Batsyeba, istri dari anak buahnya bernama Uria (2 Samuel 11:1-27). Hubungan terlarang itu akhirnya membuat Batsyeba hamil. Tidak hanya itu, dengan kekuasaannya yang besar, lebih dulu Daud menyuruh prajuritnya Yoab untuk menghabisi Uria agar dia bisa memperistri Batsyeba. Di sini kita perhatikan politik menghalalkan cara digunakan Daud demi kepuasan nafsu purbanya.

Hanya saja, kalau kita baca ayat berikutnya, 2 Samuel 12, 13, 14 dan 15, akibat dosa seks dan dosa politik yang dilakoni Daud, Tuhan tidak tinggal diam. Melalui hambaNya, nabi Natan, Daud ditegur hingga mengaku dosanya (2 Samuel 12:13). Tidak hanya mempermalukan Daud dengan teguran keras, Tuhan pun menimpakan malapetaka terhadap keluarganya atas dosa-dosa Daud (2 Samuel 12:10-11).

Putra Daud, Amnon memperkosa putrinya, Tamar. Lalu Absalom, anaknya yang lain membunuh Amnon. Tak hanya di situ, Absalom pun memberontak terhadap Daud, sehingga kekuasaannya nyaris direbut. Daud pun nyaris putus asa atas tragedi beruntun yang dialami. Dari cerita ini bisa disimpulkan, ternyata akibat dosa seks dan dosa politik yang dilakukan Daud, ada akibat yang harus ditanggung oleh keluarganya, yang tentu saja amat menggetirkan. Melalui cerita ini, kita semua diingatkan supaya jangan menghina Sang Pencipta lewat dosa seks dan politik, karena pasti ada konsekuensi yang akan kita terima pada suatu saat kelak.   

 

Berita Terkait