Lukman Astanto, S.E., M.A.
Populerkan Buku “Sejarah Penebusan” di Indonesia

1590 dibaca
Lukman Astanto, S.E., M.A.

Beritanarwastu.com. Pria kelahiran Banda Naira, Maluku, 14 Februari 1971, ini pada awalnya tak pernah berpikir untuk aktif di gereja dan pelayanan pendidikan. Saat masih mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Atmadjaya, Yogyakarta, ia pernah aktif di persekutuan mahasiswa, namun pada saat itu naluri bisnisnya mulai muncul, sehingga ia fokus berbisnis. Menurut Lukman Astanto, S.E., M.A. saat mahasiswa, ia menilai Alkitab kurang masuk akal, dan ia kurang percaya kepada kuasa Tuhan.

            Lantaran kurang percaya pada kebenaran Alkitab, Lukman pernah pula dicap radikal. Meski demikian,  Lukman yang lahir dari keluarga yang awalnya kurang taat dengan ajaran Kristen tetap mencari keberadaan Tuhan.

Hingga suatu ketika, pada 1998 ibunda Lukman terserang kanker rahim.  “Kami anak-anaknya tentu ketakutan kehilangan orangtua. Dokter memvonis, ibu kami hanya bisa hidup enam bulan lagi, karena kankernya sudah ganas. Saat itulah kami berharap belas kasihan Tuhan Yesus,” kenang anak kelima dari tujuh bersaudara itu.

            Setelah mendapat informasi dari sejumlah hamba Tuhan, Lukman dan keluarganya meminta tolong kepada hamba Tuhan asal Korea Selatan, Pdt. Abraham Park yang juga pendiri Gereja Presbiterian. Pdt. Abraham Park selain dikenal piawai menyampaikan Firman Tuhan, ia pun banyak mendoakan orang sakit hingga sembuh. Dan Lukman sendiri berjemaat di Gereja Presbiterian Bukit Sion Indonesia, Jakarta.

Ketika ditelepon untuk mendoakan ibundanya, Pdt. Abraham Park mengatakan, “Tidak apa-apa itu sakitnya. Asal ia percaya kepada Yesus pasti sembuh”. “Hanya itu yang disampaikan Pak Abraham Park. Saat itu ibu saya belum percaya Yesus. Sebelumnya ibu sudah menjalani kemoterapi, tapi kami hentikan. Sejak berkomunikasi dengan Pdt. Abraham Park, ibu mulai sering baca Alkitab,” terangnya.

Suatu saat ibunya membaca cerita Injil (Alkitab) tentang seorang perempuan yang sembuh dari pendarahan hebat setelah memegang jubah Yesus. “Kami percaya tak ada yang terjadi secara kebetulan kalau ibu saya membaca ayat itu. Pasti ada maksud Tuhan. Lambat laun ibu mulai rajin berdoa. Hingga suatu ketika saat kontrol penyakit ke dokter, dokter bilang, ‘Ini mukjizat, kankernya bersih’. Padahal sebelumnya dokter sudah angkat tangan bahwa kankernya ganas. Dan ia sembuh,” tuturnya terharu.

Lukman dan saudara-saudaranya kembali membawa ibunya untuk mendapat opini pembanding dari dokter lain. Kembali dokter yang didatangi mengatakan, kankernya bersih. “Kami makin percaya bahwa Tuhan itu ada dan luar biasa. Ibu saya memang sudah dipanggil Tuhan pada tahun 2010 yang lalu, tapi bukan karena sakit kanker, tapi karena sudah tua,” terangnya. Lantaran merasa berhutang atas kebaikan Tuhan terhadap keluarganya, Lukman melayani di Gereja Presbiterian Bukit Sion Indonesia. Ia pernah jadi guru sekolah minggu, song leader, dan ketua pemuda. Di berbagai ibadah keluarga, ia sering berbicara kasih Tuhan. “Saya ini berhutang kepada Tuhan, makanya saya melayani Dia,” pungkasnya.

             Ia pun membentuk Yayasan Damai Sejahtera Utama untuk melayani di bidang pendidikan. “Jadi saya tak hanya melayani di gereja,” ujar Lukman yang sejak medio 2011 hingga kini giat mengadakan seminar dan menerbitkan buku best seller, yaitu Sejarah Penebusan karya Pdt. Abraham Park. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Yayasan Damai Sejahtera Utama bersama PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada 2011 lalu sudah menerbitkan buku Sejarah Penebusan. Di berbagai kota, seperti Jakarta, Malang dan Manado, mereka sudah mengadakan seminar bersama hamba-hamba Tuhan untuk membedah buku yang menyita banyak perhatian teolog dan pemimpin gereja itu. Buku Sejarah Penebusan ini, di mata Ketua Umum PGLII Pdt. DR. Nus Reimas adalah sebuah buku yang sangat bagus.

Segala sesuatu yang baik perlu diketahui banyak orang. Buku Silsilah di Kitab Kejadian (Seri 1 dari buku Sejarah Penebusan) karya Pdt. Abraham Park, D.Min, D.D. adalah buku luar biasa. Buku ini ditulis di sebuah gunung setelah ia lama membaca Alkitab, lalu berdoa, kemudian dengan inspirasi dari Roh Kudus ia menulis buku itu. Buku ini adalah sebuah karya mukjizat. Banyak teolog menilai buku ini luar biasa. Makanya, kami bersama Pdt. Dr. A.A. Yewangoe (Saat itu: Ketua Umum PGI) dan Pdt. Robinson Nainggolan (saat itu: Ketua Harian PGPI) membuat kata sambutan, karena kami anggap buku ini bermanfaat untuk dibaca umat,” ucap Pdt. Nus Reimas saat mensosialisasikan buku itu bersama Lukman Astanto, pada 2011 lalu di Jakarta.

Lukman yang sehari-harinya juga merupakan pengusaha, sekarang hidupnya lebih damai sejahtera sejak aktif melayani. “Dalam bisnis itu ada banyak godaan, seperti keserakahan dan tak ada rasa puas. Namun kalau kita aktif melayani dan selalu menyerahkan apa yang kita lakukan kepada Tuhan, maka kita akan damai sejahtera. Kalau kita sudah aktif melayani tentu kita harus tampil beda. Percuma kita aktif melayani tapi masih menipu orang,” tegas ayah tiga anak, Devi S. Astanto, Solomon Astanto dan Lois Astanto, serta suami tercinta Hera Muchtar ini.

Hidup sebagai orang Kristen, kata Lukman, kita memiliki sandaran yang pasti, yaitu Tuhan Yesus Kristus. “Kalau kita ada tantangan atau kesulitan di dalam hidup ini, ada tempat pengaduan kita lewat doa, yaitu Tuhan Yesus. Kalau kita bersukacita, kita bisa menaikkan pujian syukur kepada Tuhan. Itulah indahnya hidup orang Kristen. Jangan sesekali khawatir untuk membagi waktu untuk pelayanan Tuhan. Tidak ada orang yang melayani Tuhan jadi hidup miskin. Kalau kita sudah bersama Tuhan, dalam hidup ini pun kita akan mengandalkan Dia,” paparnya.

Berita Terkait