PP PMKRI Siap Mengawal Tahun Politik

209 dibaca
Suasana pengukuhan yang mengusung tema “Bertolaklah Lebih Dalam” itu diawali dengan misa syukur yang dipimpin oleh Ketua KWI, Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. di markas besar PMKRI, Menteng, Jakarta Pusat, pada 18 Maret 2018.

BERITANARWASTU.COM. Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) telah berhasil melaksanakan proses suksesi kepemimpinan secara demokratis dan damai yang ditandai dengan seremoni serah terima jabatan dan pengukuhan Ketua Presidium PP PMKRI periode 2018-2020, Juventus Prima Yoris Kago dari Ketua PP PMKRI periode 2016-2018, Angelius Wake Kako. Seremoni pengukuhan yang mengusung tema “Bertolaklah Lebih Dalam” itu diawali dengan misa syukur yang dipimpin oleh Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. di markas besar PMKRI, Menteng, Jakarta Pusat, pada 18 Maret 2018.

Mgr. Ignatius Suharyo, Pr. dalam homilinya menegaskan, PMKRI harus membangun gerakan atas semangat dan idealisme perhimpunan yang menjangkarkan dirinya padanya nilai-nilai kekatolikan. “Idealisme perhimpunan dan nilai-nilai kekatolikan harus menjadi dasar dari seluruh arah gerak PMKRI ke depan,” ujarnya.  Mgr. Ignatius  Suharyo  berharap agar PMKRI tetap berjalan baik dan mengedepankan semangat toleransi dalam negara Indonesia yang majemuk dengan berlandaskan nilai-nilai ideologi negara bangsa.

Dalam acara pelantikan PP PMKRI periode 2018-2020 tersebut hadir beberapa organisasi-organisasi Katolik, seperti WKRI, FMKI, ISKA, Vox Point, Pemuda Katolik, dan juga hadir organisasi kemahasiswaan dan organisasi lain, seperti kelompok Cipayung plus (HMI, GMNI, PMII, LMND, KAMMI, HIKMAHBUDHI, Pemuda Tionghoa) dan segenap elemen lainnya.

Lebih lanjut, Mgr. Suharyo mengharapkan agar PMKRI mampu meneladani semangat “sisa-sisa Israel” di pembuangan yang, meski mengalami penderitaan dan penyiksaan, tetap setia kepada perintah-perintah Allah dan hidup berdasarkan ajaran-ajaran serta moralitas unggul yang diwarisi oleh leluhur mereka (Kebijaksanaan 2: 1a.12-22). Menggunakan teori creative minority Arnold Toynbee, Mgr. Suharyo menyebut “sisa-sisa Israel” itu sebagai minoritas berdaya cipta—bukan dalam dikotomi mayoritas versus minoritas—yang mampu mempengaruhi masyarakat banyak dengan standar moralitas ilahi yang mereka gunakan. Mereka adalah sekelompok kecil orang yang tetap berpegang pada nilai dan moralitas leluhurnya di tanah pembuangan.

“Sisa-sisa Israel itu adalah creative minority yang mempertahankan nilai dan moralitas leluhur mereka dan mereka adalah kelompok yang dapat bertahan dari segala penderitaan”, ujarnya. Dalam konteks Indonesia, PMKRI diharapkan mampu menjadi creative minority yang tetap berjalan dalam terang nilai-nilai, idealisme, serta moralitas Katolik di tengah bangsa yang majemuk ini.

 

PMKRI  dan Semangat Kebangsaan

Jalan panjang perhimpunan telah menjadikan PMKRI sebagai organisiasi kemahasiswaan yang terus melahirkan kader-kader intelektual dengan semangat ke-Katolik-an yang tersebar di seluruh bumi Indonesia. PMKRI tetap mengibarkan semangat persatuan dan cinta akan tanah ideologis.

Harapan terhadap PMKRI untuk terus merawat marwah persatuan bangsa pun sempat diutarakan oleh Presiden Jokowi ketika membuka Kongres ke-30 PMKRI di Palembang. Dalam pidato pembukaannya di depan ribuan massa kader PMKRI,  Jokowi mengatakan, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, terdiri dari 714 suku dengan jumlah penduduk 260 juta. Harus dikelola dengan hati dan semangat yang besar. Karena itu segenap komponen bangsa diajak untuk merawat bangsa Indonesia dengan semangat toleransi, kasih, dan damai

Ketua Presidium PP PMKRI periode 2018-2020, Juventus Prima Yoris Kago dalam sambutannya di depan para senior, alumni dan seluruh undangan yang hadir  pada acara pelantikan tersebut, Juventus mengatakan, dengan tersebarnya kader PMKRI di seluruh pelosok negeri ini merupakan konsekuensi logis bahwa PMKRI akan terus merawat semangat persatuan. Di era milenial ini PMKRI akan berbenah diri menjadi organisasi milenaial sesuai tuntutan zaman. PMKRI tidak boleh bersikap eksklusif. PMKRI harus terbuka. Dalam arah gerak perhimpunan PMKRI tidak boleh kaku.

Menghadapi tahun politik Juventus mengharapkan agar PMKRI selalu siap menghadapi segala kemungkinan terburuk yang mencederai semangat persatuan. PMKRI harus menjadi garda terdepan untuk menjaga semangat persatuan. ’’Momentum tahun politik adalah momentum penting bagi PMKRI untuk mengawal konstelasi politik di republik ini. Kembali melihat ke dalam (refleksi) kemudian bertolaklah lebih dalam.  Menjadi 200 manusia, 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia. Segala kegaduhan yang tejadi pada bangsa Indonesia dengan opini yang menyesatkan yang keluar dari kontekske-Indonesia-an asdalah menjadi tanggung seluruh warga perhimpunan. Kita akan mengawal tahun politik ini agar berjalan dengan damai dan aman,’’ ungkapnya. KT

Berita Terkait