Raden Y. Dian Setio Lelono Tokoh Masyarakat Kota Bekasi yang Nasionalis dan Religius

312 dibaca
R. Setio Lelono bersama keluarga.

Beritanarwastu.com. Di kalangan warga Kota Bekasi agaknya pria Jawa bernama Raden Y. Dian Setio Lelono kelahiran Padang, 7 Maret 1953 ini sudah tidak asing lagi. Pasalnya selain dikenal tokoh masyarakat, ia pun pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Golkar Kota Bekasi. Ia juga pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja (Paroki) Katolik Santa Mikhael Kranji, Kota Bekasi, dan Ketua Umum Panitia Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara, Kota Bekasi. Lewat tangan dinginnya pula ia berhasil mendapatkan izin mendirikan bangunan (IMB) untuk kedua gereja besar tersebut.

          Namun dengan rendah hati pria yang akrab disapa Pak Dian atau Pak Setio ini, kalau izin kedua tempat ibadah itu bisa didapatkan dengan perjuangan berat, itu semua karena pertolongan Tuhan dan bimbingan Roh Kudus. Menurutnya, seperti Gereja Santa Mikhael Kranji sudah 14 tahun tak mendapatkan izin. Jadi kalau gereja yang punya umat sekitar 12.000 orang jiwa itu bisa mendapatkan izin, itu semata-mata karena panitia bekerja keras dengan pertolongan Tuhan.

           Pria yang sehari-harinya dikenal seorang pengusaha sukses ini, kini punya dua anak dan empat cucu. Suami tercinta Maria Elizabeth Yarnany Srihartiti ini pada 1972-1976 mengikuti pendidikan teknologi informasi (IT) di Jerman. Kemudian setelah kembali ke Indonesia ia kembali kuliah akuntansi di ASMI, Jakarta. Di kampus itu pula ia dipertemukan Tuhan dengan seorang gadis cantik yang kini sudah menjadi istrinya, Maria Elizabeth Yarnany. Kisah cintanya dengan kembang kampus itu tergolong unik, karena Dian saat itu di kampus terbilang juniornya, sedangkan Maria senior karena lebih dulu kuliah. Makanya sempat dianggapnya Dian anak kecil karena berani mendekati Yarnany. Baru kemudian Yarnany terkejut plus kagum karena pemuda yang mendekatinya adalah lulusan dari Jerman dan usianya pun tiga tahun lebih tua dari dia. "Karena dia menggembleng kami saat perkenalan di kampus dianggapnya saya anak kecil," kenang Dian yang merupakan Presiden Komisaris PT. Lumen Kencana Sakti tertawa tentang sang istri tercinta.

             Berbicara tentang masa kecil dan masa mudanya, Dian dulu adalah seorang yang terbilang nakal namun cerdas. Dan sejak muda dia sudah dididik dengan ajaran-ajaran Kristiani (Katolik) sehingga ajaran itu semakin mendekatkannya pada aktivitas gereja. Suatu saat ia bermimpi berada di sebuah altar gereja. Dalam mimpinya itu ia masih ingat jelas ada pesan Tuhan yang disampaikan agar dia ikut menjaga eksistensi gereja di tengah masyarakat. Dan di mimpi tersebut ia bertemu dengan Pastur Damianus. Pesan Tuhan di dalam mimpinya itu terus diingatnya. "Dari situlah saya merenungkan dan sadar bahwa memang ada persoalan serius banyak gereja di tengah masyarakat, terutama di Kota Bekasi. Lalu dari kegelisahan itulah ada keinginannya untuk membantu mendapatkan izin membangun gereja. "Rasanya Tuhan memberikan talenta bagi saya untuk mendapatkan izin itu," cetus ayah dua anak, Andreas T. Nandiwardhana dan Angelina T. Nirmala ini.

            Menurut Dian, ada banyak tempat ibadah gereja yang sesungguhnya mengalami masalah serius, yakni tak punya izin. "Makanya sering terjadi penutupan tempat ibadah, pembakaran tempat ibadah hingga pemboman tempat ibadah karena dianggap tak ada izinnya. Dan kalau kita simak Peraturan 2 Menteri itu sebenarnya ditulis bahwa cukup 60 sampai 90 orang persetujuan atau tanda tangan dari warga sekitar agar bisa dibangun sebuah tempat ibadah umat Kristiani," terangnya.

             Kemudian setelah berdiskusi dengan Pastur Damianus di Paroki Santa Mikhael Kranji, lalu dibentuk tim kecil dengan anggota 9 orang. Tim inilah yang bertugas untuk mempelajari dan mengevaluasi kenapa belum ada izin gereja mereka, padahal sudah 14 tahun berdiri gereja itu.

             Dari situ kemudian dipelajari karakteristik lingkungan. "Dan saya terjun ke kampung-kampung itu untuk bicara dan menyapa warga. Ternyata mereka baik, dan kita justru terkadang yang eksklusif. Harusnya ada paradigma kita datang untuk menyapa masyarakat sekitar. Dan tak cukup hanya saat Natal dan Paskah saja kita memberikan sumbangan kasih atau sembako terhadap masyarakat sekitar. Dan saya katakan kepada pastur bahwa kita tak cukup hanya bicara izin gereja, tapi juga untuk klinik, rumah tinggal pastur dan karya pastoral," cetusnya.

             Dalam mengupayakan izin dengan meminta persetujuan warga itu, Dian dan timnya yang juga dibantu kaum ibu bekerja tak kenal waktu. "Masing-masing istri dari anggota panitia atau kaum ibu di tim ini dilibatkan, karena mereka bisa memasak atau menyiapkan makanan. Dan sering rapat kami sampai jam 2 dini hari. Dan dalam perjuangan mendapatkan persetujuan itu, ternyata ada banyak liku-liku yang dihadapi, misalnya, ada isu bahwa yang akan dibangun itu adalah gereja terbesar di Asia Tenggara, dan diisukan pula ada Kristenisasi. Dan kami tegas menjawab bahwa itu tak benar,” ujarnya.

            “Untuk itu saya datangi tokoh-tokoh agama dan tokoh masyarakat sekitar untuk menjelaskannya agar mereka jangan termakan isu. Saya katakan kami umat Katolik hanya ingin berdoa dan tak ada gerakan Kristenisasi. Dan puji Tuhan, ada banyak warga yang mendukung kami, dan mengatakan bahwa mereka hanya berdoa kok, kenapa dilarang. Dan ini negara Pancasila. Saya keliling semua kampung untuk mengenal warga sekitar, dan saya tidak memberi uang. Yang saya andalkan adalah doa dan motivasi keprihatinan. Dalam doa saya juga minta campur tangan Tuhan agar Roh Kudus membimbing saya dalam menjalankan tugas ini," paparnya.

 

  

 R. Setio Lelono bersama Presiden RI Ir. H. Joko Widodo.

 

     Menurutnya, ada kekuatan Roh Kudus yang membimbingnya selama ini sehingga berhasil mendapatkan izin bersama panitia. "Saya dan keluarga dari dulu memang rajin berdoa. Dan kepada jemaat pun kami minta agar turut berdoa supaya badai apapun bisa kita lewati. Ada ribuan umat Katolik yang berdoa untuk mendapatkan izin itu. Karena kita butuh tempat yang layak beribadah, dan tak ada tujuan kita untuk Kristenisasi," terangnya. Dan melalui perjalanan panjang, setelah hampir empat tahun, lalu pada 8 September 2004 pun IMB untuk Gereja Santa Mikhael pun mereka dapatkan yang kala itu ditandatangani Wali Kota Bekasi Ahmad Jurfaih dan Ketua DPRD Kota Bekasi Rachmat Efendy.

                 Rachmat Efendy yang kini sudah menjabat Wali Kota Bekasi, ujarnya, adalah seorang nasionalis tulen dari Partai Golkar dan tokoh lintas agama serta menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika. Dia tahu bahwa di Kota Bekasi ada pula suku Batak, Tionghoa, Manado dan orang Kristen lainnya. "Pemikirannya moderen dan sangat nasionalis serta mengayomi warga," katanya. Setelah izin Gereja Santa Mikhael diperoleh, Dian kemudian mundur dari jabatan ketua umum panitia. 

                Sukses mendapatkan izin Gereja Santa Mikhael, kemudian Pastur Dominikus dari Paroki Santa Clara yang sudah mendengar soal mendapatkan izin itu menemui Dian di rumahnya dan sharing tentang mendapatkan izin Santa Clara yang belum diperoleh. "Saya katakan saat itu, kita sebagai umat Kristiani harus terus membaur dengan masyarakat, jangan eksklusif, dan kita jangan merasa lebih hebat," terang mantan Ketua Wilayah Santo Matius di Jaka Permai, Kota Bekasi, selama dua periode yang memimpin 80 kepala keluarga (KK) umat Katolik itu. Yang uniknya Dian justru dipercaya lagi untuk menjadi ketua umum panitia pembangunan untuk mendapatkan izin Santa Clara. Dan Dian tak bisa menolak karena dukungan umat dan pastur kepadanya begitu kuat. Melalui perjuangan yang berat, apalagi ada pula demo-demo dari sekelompok massa terhadap Gereja Santa Clara, pada 28 Juli 2015 gereja ini pun mendapatkan IMB. Jadi diperjuangkan selama 3 tahun. 

          Dian menerangkan, selama ia berjuang untuk mendapatkan IMB itu, ada harga diri yang harus ia korbankan, seperti dicaci maki warga, dituding kafir, dibentak serta ada pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan materi. Dian menerangkan, ketika dia berjuang untuk mendapatkan IMB rumah Tuhan itu, ia tak pernah berpikir untung rugi. "Kita jangan hitung untung rugi dengan Tuhan. Kita percaya saja bahwa dia terus menyertai hidup kita, dan saya bersyukur usaha saya dan keluarga saya selama itu diberkatiNya. Soal berkat itu adalah kebijaksanaan Tuhan," paparnya bijaksana.

             Ketika ditanya Majalah NARWASTU apa pendapatnya mengenai partai politik (parpol) yang akan bertarung di Pemilu 2019 ini, Dian yang senang dengan ayat Alkitab dari Kitab Amsal 4:23, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan" menerangkan, apapun parpolnya mari bertarung dengan jujur, adil dan damai. "Kita mengharapkan Indonesia ini damai sejahtera. Dan semua anak bangsa di NKRI ini harus saling menghargai antarsuku, agama dan golongan. Mari kita tonjolkan Pancasila, UUD 1945, Bhinbeka Tunggal Ika dan NKRI di Pemilu 2019. Saya ini orang Katolik yang berjuang untuk gereja dan Indonesia," ujar Ketua Dewan Pembina PERMAKINDO (Perkumpulan Manggala Katolik Indonesia), Ketua Dewan Penasihat Gema Mandala Berkarya dan Ketua Umum Koperasi Algarindo dan mantan pengurus DPP Kosgoro ini.

            Bicara tentang obsesi, Dian ingin mendirikan sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Yayasan ini diharapkan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mampu tapi berpotensi agar mendapat pendidikan yang layak. "Anak-anak saya berjiwa sosial dan mereka pun peduli pada pendidikan. Pendidikan di tenfah bangsa ini mesti dimajukan, karena sekarang banyak orang susah di negeri ini," papar pria yang pernah menjadi Ketua RT dan Sekretaris RW di daerah tempat tinggalnya itu. Ia juga kini merupakan anggota Partai Berkarya, yang merupakan parpol nasionalis yang visi dan misinya mendukung ekonomi kerakyatan. KL

Berita Terkait