Ramalan Samuel Huntington dan Indonesia

837 dibaca
Oleh: Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU)

BERITANARWASTU.COM. Tahun 2016 ini patut disyukuri, karena 1 Juni sudah ditetapkan Presiden RI H. Joko Widodo sebagai Hari Lahir Pancasila. Dan menurut banyak tokoh nasional, penetapan Hari Lahir Pancasila adalah bentuk penghormatan kepada para pendiri bangsa, sekaligus peneguhan hati terhadap eksistensi Pancasila. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, misalnya, menegaskan, Pancasila merupakan ideologi dasar negara dan falsafah hidup bangsa Indonesia.

                Sekaitan dengan itu pada 1 Juni 2016 lalu, sejumlah ormas sosial keagamaan, pemuda dan mahasiswa, seperti PGI, KWI, PHDI, NU, WALUBI, MATAKIN, GAMKI, GMKI, HMI, PMKRI, KMHDI, GEMAKU, MAPANCAS, GMNI, dan PERWANAS pun menyatakan komitmennya untuk mengawal, mengamankan, dan mengamalkan Pancasila yang merupakan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), demi terciptanya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Komitmen tersebut dibacakan oleh salah seorang perwakilan aliansi pada acara “Indonesia Bersyukur Dalam Rangka Peringatan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila” di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Aliansi ini pun  berterimakasih kepada Presiden RI Joko Widodo yang telah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. “Itu merupakan sebuah keputusan bersejarah dan monumental bagi perjalanan Indonesia agar menghidupkan kembali jiwa dan roh Pancasila sebagai ideologi bangsa, yang harus terus menerus dilestarikan dalam kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan,” demikian ditegaskan di komitmen itu.

Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI), Prof. Dr. Mahfud M.D. di acara itu menegaskan, di tengah keberagaman kita bisa berdiri, karena memiliki Pancasila. Pancasila begitu kokoh mempersatukan kita. Pancasila, ujarnya, begitu kuat karena tumbuh dari bawah, dari kehidupan masyarakat Indonesia ribuan tahun lalu. “Sementara di negara lain, banyak terjadi perpecahan karena agama, warna kulit, dan bahasa. Maka mari kita jaga bersama-sama untuk melawan ideologi lain yang coba menggantikan Pancasila,” kata Mahfud yang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI itu.

              Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR-RI/DPD-RI, Martin Hutabarat, S.H. yang juga mantan aktivis GMKI dari Partai Gerindra pun pernah mengatakan, perekat bangsa ini sehingga tetap utuh, selain Pancasila adalah UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Dan itu pula yang sekarang dilakukan MPR-RI dengan gerakan sosialisasi empat pilar persatuan bangsa itu.  

               “Pancasila harus kita jaga agar bangsa ini tak tercerai berai setelah 70 tahun merdeka,” tegas Ketua Fraksi Partai Gerindra di MPR-RI itu. Martin mengutip pemikiran pakar politik legendaris, Prof. Samuel Huntington, yang sudah meramalkan bertahun-tahun lalu bahwa akan ada tiga negara yang bakal terpecah belah di dunia, yakni Uni Sovyet, Yugoslavia dan Indonesia. “Namanya ramalan, tadinya banyak orang tak percaya. Namun terbukti sekarang, Uni Sovyet terpecah belah menjadi 15 negara, di antaranya Rusia dan Ukrania. Juga Yugoslavia, pecah jadi tujuh negara, di antaranya Kroasia dan Bosnia. Dan hingga kini Indonesia yang masih utuh,” katanya.

                Kalau Indonesia masih utuh dan bersatu, tidak seperti Uni Sovyet dan Yugoslavia, itu sesuatu yang luar biasa. “Jadi Indonesia masih bisa bersatu, itu harus kita syukuri. Ada negara besar pecah karena persoalan suku, ras, golongan dan persoalan kesejahteraan. Dan Indonesia masih utuh hingga sekarang. Padahal sejak Reformasi bergulir sempat dulu diprediksi bahwa Indonesia akan pecah, namun nyatanya tokoh-tokoh bangsa kita masih ingin tetap bersatu, dan itu luar biasa. Makanya banyak duta besar negara lain, kalau kita bertemu, selalu mereka katakan, Indonesia luar biasa karena tetap bersatu. Dulu Kerajaan Sriwijaya bisa bertahan 400 tahun, lalu pecah. Kemudian Kerajaaan Majapahit bertahan 170 tahun, lalu pecah juga,” terangnya.

                “Sehingga kalau Indonesia masih bisa bersatu, itu mukjizat dan anugerah dari Tuhan,” paparnya. Indonesia, katanya, unik, kalau kita lihat di Aceh masyarakatnya berpakaian sangat tertutup, sehingga sulit dikenali. Sedangkan masyarakat Papua berpakaian seadanya. Itulah budaya di Indonesia yang luar biasa, namun tetap bersatu. “Sehingga kita patut bersyukur, karena Tuhan begitu baik kepada negeri ini. Hingga kini tak ada tokoh bangsa dari daerah yang minta agar merdeka. Indonesia bersatu karena Pancasila,” paparnya.

Pancasila, kata Martin, diperlukan untuk persatuan bangsa ini. Persatuan harus kita jaga agar jangan negeri ini hancur berkeping-keping. Pendapat Martin itu benar adanya. Kita bersyukur, karena bangsa ini memiliki ideologi Pancasila. Dan seperti ditulis di Mazmur 103:22, “Pujilah Tuhan, hai segala buatanNya, di segala tempat kekuasaanNya. Pujilah Tuhan, hai jiwaku.” Meskipun saat ini Indonesia masih mengalami darurat narkoba, darurat korupsi dan darurat terorisme, kita mesti tetap syukuri kebaikan Tuhan itu. Harus pula terus kita serukan kepada pemerintah, dan sembari doakan agar dengan “pedangnya” pemerintah bisa mengatasi setiap kejahatan dan ketidakadilan di negeri ini. Semoga. Jonro I. Munthe, S.Sos.

Berita Terkait