Rektor STT SETIA Bebas Murni dan Nama Baiknya Harus Dipulihkan

748 dibaca
Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th (kiri) bersama kuasa hukumnya, Said Damanik, S.H., M.H. yang juga advokat/pengacara senior yang kini dipercaya sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI. Ada tangan Tuhan menolong yang ditindas.

Hamba Tuhan yang satu ini dua tahun bergumul dalam perkara hukumnya. Sampai akhirnya Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th yang menjabat sebagai Rektor STT Setia bisa bernafas lega, karena Pengadilan Negeri Kota Tangerang, Banten, memutuskan, kalau Ketua Sinode GKSI itu dinyatakan bebas murni dan nama baiknya harus dipulihkan.

Senyum sumringah tanda bahagia tampak jelas pada wajah Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Didampingi oleh advokat/pengacara senior, Said Damanik, S.H., M.H., pendeta berdarah Toraja itu mengadakan jumpa pers bersama tim PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristen Indonesia) di AW Restoran, Kwitang, Jakarta Pusat, pada Kamis, 18 Agustus 2016 lalu. Sebelum memulai acara rona kebahagiaan itu terus menyelimuti wajah orang nomor satu di STT Setia itu.

Pasalnya, persoalan hukum yang membelitnya, yakni tudingan atas tindakan penipuan dan penggelapan yang selama ini dituduhkan “lawan-lawannya”, akhirnya berujung pada kemenangan di pihaknya. Ia dinyatakan bebas murni atas segala sesuatu yang dituduhkan selama ini melalui persidangan yang digelar pada 8 Agustus 2016 lalu di Pengadilan Negeri Kota Tangerang. Hal itu diputuskan dalam persidangan yang diketuai Majelis Hakim Satrio Budiono, S.H. di Pengadilan Negeri Kota Tangerang.

“Puji Tuhan, semua karena anugerahNya, dengan memberikan putusan yang terbaik dari Tuhan untuk Pak Matheus, beliau bebas murni. Bukan hanya itu, nama baiknya juga dipulihkan. Tidak ada sedikit pun menyalahgunakan wewenang keuangan yayasan dan sekolah. Karena beliau tidak pernah bersinggungan dengan soal-soal tehnik administratif keuangan,” jelas Said Damanik yang juga mantan Plt. Sekjen DPN PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) dan kini Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI.

Aura kemenangan sebetulnya sudah terlihat dari Jaksa yang hanya menuntutnya dua bulan. Namun, jika bicara etika Said Damanik yang juga pejuang HAM dan kuasa hukum Pdt. Matheus Mangentang tidak boleh menjanjikan keputusan bebas murni. Kendati demikian, seturut dengan jam terbangnya sebagai advokat/pengacara yang mumpuni tuntutan dua bulan itu adalah terendah.

Menariknya lagi, sesuai dengan waktu yang berlaku sejak keputusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kota Tangerang, diberikan waktu selama 7 hari kepada penggugat untuk mengajukan kasasi/banding. Tapi masa berlaku tersebut telah lewat sehingga putusan itu telah memiliki kekuatan hukum tetap. Bukan tanpa alasan jika akhirnya Pdt. Matheus Mangentang bernafas lega dengan hasil putusan bebas murni dari kasus yang selama ini menguras energy, pikiran dan tenaganya.

Hasil keputusan dari Majelis Hakim yang terdiri dari Satrio Budiono, S.H. (Ketua) dan Suharni dan Ratna (Hakim Anggota) dan Katty (Panitera) merupakan hak dari majelis hakim untuk memutuskan apapun, jadi bebas atau independen. Bahkan, Ketua Pengadilan tidak bisa campur tangan. Sehingga putusan bebas murni dan pemulihan nama baik didasarkan atas fakta persidangan dan bukti-bukti serta fakta yang ada di dalam hukum yang berlaku.

Terlebih lagi, keyakinan hakim yang sarat akan keberanian dan tanggungjawab. “Saya berani katakan, dari 1.000 perkara yang ada hanya lima yang bisa bebas. Rata-rata dihukum, dan ini bukan hanya bebas, tapi juga pemulihan nama baik.  Memang tidak semua pihak mungkin dan saya tidak mau bilang orang perorangan, tapi di sini ada pelajaran berharga, karena tidak semuanya harus dipidakan atau di P-21-kan atau harus divonis hukuman,” tukas Said Damanik yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU” dan salah satu Penasihat PERWAMKI kepada para wartawan.

 

Tak Dendam Kepada Media yang Menjatuhkan Martabatnya

Bagi Pdt. Matheus Mangentang, tentu kemenangan ini merupakan momen yang ditunggu-tunggu. Apalagi, menurut penuturannya, selama hampir enam sampai tujuh bulan menjalani hukuman fisik berupa tahanan rumah. Terlebih lagi, ada oknum yang mengatakan dirinya dipastikan mustahil bebas murni. Belum lagi ada sejumlah media Kristen menyudutkannya lewat pemberitaan yang sama sekali tak berimbang dan menjatuhkan harga dirinya.

“Saya kemukakan, bahwa apa yang saya tahu dan alami tidak betul, tuntutan itu karena dipaksakan. Tapi, pada saat itu saya siap dengan apa yang terjadi. Dan saya bersyukur masih ada hakim yang benar dan jujur. Ini adalah intervensi Ilahi dan masih ada di dunia hakim yang betul melihat aspek tuntutan dengan betul dan tidak salah. Empat kata yang sulit itu adalah pemulihan nama baik, harkat dan martabat serta rehabilitasi nama. Itu yang paling penting dalam keputusan ini,” ujarnya.

Berbicara mengenai media Kristen yang pernah menghembuskan ketidakbenaran melalui berita-beritanya, sehingga sangat menyudutkannya, Pdt. Matheus Mangentang berpendapat, media tersebut tidak obyektif dan tidak lurus memberitakan. Makanya pada medio 2015 lalu Pdt. Matheus Mangentang sudah mensomasi media tersebut, bahkan melaporkannya ke Dewan Pers, karena yang ditulis tidak benar dan cenderung ingin menghabisi nama baiknya.

“Apa yang pernah kami luruskan dari dulu tidak pernah dimuat di media tersebut. Yang dimuat hanya sepihak atau tidak berimbang. Saya bersyukur atas bantuan teman-teman PERWAMKI yang dengan tulus mau memberitakan dengan benar dan penuh kasih. Tidak seperti media yang disomasi itu, yang punya niat tidak baik untuk menjatuhkan harga diri saya. Terlebih kepada Majalah NARWASTU, saya amat bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada pengasuhnya. Majalah ini selalu mendukung dan setia dalam memberitakan seputar kasus hukum yang tengah saya hadapi. Ketika saya dihina, direndahkan dan dijatuhkan harga diri saya, NARWASTU berani tampil menyatakan kasih dalam pemberitaan,” tegas Pdt. Matheus Mangentang

Sudah tentu dari pemberitaan yang tidak benar itu, Pdt. Matheus Mangentang mengalami kerugian yang tak terhingga. Sebut saja mulai dari reputasinya tercoreng, kredibilitasnya yang barangkali diragukan dan nama baiknya yang dipertanyakan dan nyaris mengalami krisis kepercayaan dari publik hingga mitra kerjanya. Apalagi, sebagai Hamba Tuhan yang tengah giat-giatnya merintis bidang pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu dan tinggal di daerah pedalaman sangat terasa dampaknya.  

Kendati demikian, apakah ia akan menuntut balik kepada media Kristen yang telah merugikannya itu? “Saya serahkan kepada kuasa hukum. Tapi kita tidak dendam. Semua hal ini menjadi pertimbangan matang dan pelajaran bagi kita semua. Sebagai Hamba Tuhan saya tidak mau bermanuver. Yang penting sudah menang dan terbukti tidak salah atas tuduhan menipu,” tegasnya.

Sebagai Hamba Tuhan yang kerap berhubungan dengan media massa, sudah barang tentu kejadian yang menimpanya itu menjadi pelajaran yang sangat berharga. Lebih jauh mengenai pemberitaan media Kristen ia berpendapat, ada sejumlah media Kristen yang publikasinya tak didasarkan pada pemberitaan kabar baik yang di dalamnya ada kasih, ketulusan dan kedamaian. Dan media Kristen yang bergabung di PERWAMKI, katanya, cukup bagus mempublikasikan beritanya, dan bisa memilah berita-berita yang benar dan bohong.

 

Ingin Fokus Melayani Anak-anak di Pedalaman

Kebenaran tetaplah kebenaran. Sepintar apapun seseorang dalam upayanya dalam menyelewengkan kebenaran, toh nantinya waktu dengan bijak akan mengungkapkannya, cepat atau lambat. Demikianlah yang dirasakan Pdt. Matheus Mangentang yang kini bisa tersenyum karena menang atas persoalan hukum. Ia sudah 30 tahun malang melintang di dunia kerohanian, tentu bukan waktu sebentar yang ingin ia sia-siakan untuk berbuat sesuatu tidak benar.

Apa yang disangkakan kepadanya selama ini, akhirnya terbongkar bahwa sejatinya tangan Tuhan menolongnya. Amar putusan pengadilan telah menyatakan ia bebas murni, bahkan nama baiknya harus dipulihkan. Kerugian yang dirasakannya berupa nama baiknya yang tercoreng, sekarang lambat laun publik hingga mitra kerjanya bisa melihat bahwa ia adalah Hamba Tuhan yang hanya ingin mengabdikan diri di dunia pelayanan dan pendidikan melalui STT Setia.

Pdt. Matheus Mangentang pun kini tengah berbenah diri, kembali pada aktifitasnya seperti sedia kala. Ia ingin berbuat sesuatu untuk banyak orang, terutama mereka yang tinggal di pedalaman yang haus akan ilmu. “Puluhan tahun saya melayani dan tidak ada niat saya untuk menipu. Justru ingin membantu orang susah, karena anak didik saya hanya bawa plastik dan baju, kemudian kami berikan penghidupan yang layak dan sekolah. Para mitra kerja banyak yang wait and see, seperti Singapura, Amerika dan Australia yang siap mengundang saya. Semua hanya karena anugerahNya,” ucapnya dengan tersenyum. BTY

Berita Terkait