Rohaniwan dan Pakar Hukum Menyoal Hukuman Mati

453 dibaca


Beritanarwastu.com, Para terpidana mati penyalur (gembong) narkoba yang rata-rata adalah warga negara asing, akhirnya menemui ajalnya lewat eksekusi tembak mati. Sebelum dan sesudah hukuman mati tersebut berlangsung rupanya, itu cukup lama menjadi polemik. Momen itu pun digunakan oleh Ikatan Alumni STT Jafray Jakarta bekerjasama dengan GBI Kapernaum, Yayasan Kasih Cendrawasih dan Tabloid Solafide & sola-fide.com untuk menyelenggarakan sebuah diskusi publik bertajuk “Pro-Kontra Hukuman Mati di Indonesia” di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Senin, 4 Mei 2015 lalu.  

Acara yang diadakan dalam rangka menyongsong peringatan Dirgahayu 70 Tahun Indonesia Merdeka itu menghadirkan beberapa tokoh gereja dan pakar hukum yang didaulat sebagai panelis, yakni Pdt. DR. Yakob Tomatala (Rohaniwan), Prof. Dr. T. Gayus Lumbuun, S.H., M.H. (Hakim Agung MA),  dan Dr. Merphin Panjaitan M.Si (Pengamat politik).

Dalam sesi pembuka, Gayus Lumbuun membeberkan mengenai hukuman mati yang dianggapnya sebagai sesuatu hal yang tidak disukai oleh seorang penegak hukum, dan agar dapat dihindari eksekusi mati itu. Yakni, kata Gayus, bila memiliki peraturan yang baik dan jelas, pejabat hukum yang memiliki integritas yang baik dan teruji, adanya legal culture. Tapi semua bisa terlaksana bila masyarakat memiliki kualitas hidup yang baik dan dibutuhkan pula dukungan gereja dalam hal ini.

Hal yang sama diungkapkan oleh Merphin Panjaitan yang bersikap tidak setuju eksekusi mati.  “Berani menghukum mati seseorang berarti merendahkan martabatnya sebagai manusia dan tak ada satu pun manusia yang berhak untuk mencabut nyawa seseorang,” katanya semangat.

Acara yang dimoderatori Pdt. Yerry Tawalujan  M.Th tersebut berjalan cukup menarik, apalagi saat Pdt.Yakob Tomatala menjelaskan dari perspektif Alkitab. Menurutnya, ada tiga pandangan etis tentang hukuman mati yang diuraikan oleh beberapa pakar, yakni rehabilitasionisme, rekonstrusionisme dan restribusionisme.

Intinya adalah, hukuman mati merupakan keharusan bagi semua kejahatan besar, yaitu yang bersifat menghilangkan nyawa semua manusia, merugikan kepentingan banyak orang dan melawan otoritas negara serta Tuhan Allah, yang bertujuan memenuhi keadilan yang sesungguhnya. BTY

Berita Terkait