Ronald Simanjuntak, S.H., M.H. Pengacara Senior yang Selalu Menjaga Integritas

96 dibaca
Ronald Simanjuntak, S.H., M.H. Selalu andalkan Tuhan.

Beritanarwastu.com Hidup ini adalah kesempatan dan pilihan. Maka kesempatan dan pilihan itu bagaimana menjalani seturut rencanaNya. Paling tidak itulah sikap hidup advokat/pengacara senior Ronald Simanjuntak, S.H., M.H. Pria kelahiran Desa Adian Padang, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, 26 Oktober 1960 ini adalah anak kedua dari 9 bersaudara. Delapan laki-laki dan satu perempuan. Anak dari Guru Malon Simanjuntak dan Erika boru Sianipar. Ayahnya seorang kepala sekolah, selalu mendidik mereka berpengharapan dan selalu berjuang. 

        “Saya masih ingat nasihat ayah, harus saling menopang di antara kakak-adik. Jika anak pertama sudah  selesai kuliah dan mendapat pekerjaan, membantu adik-adiknya, demikian selanjutnya,” kisahnya. Tenyata, dengan cara itulah kakak-beradik 9 bersaudara ini bisa menempuh gelar sarjana. “Gaji orangtua tak cukup. Tetapi kami bisa semua sarjana, karena beliau mendidik untuk saling peduli, saling membantu,” ujarnya. 

         Sejak masih kanak-kanak, Ronald anak cerdas dan agresif. Sejak sekolah dasar dirinya selalu mendapat ranking kelas. Karena agresif, menjelang remaja di SMP sampai SMA, ada perubahan dalam dirinya. Dia sering bolos sekolah. SMA saja lima kali pindah sekolah. Orangtuanya tak mau pendidikannya gagal, maka untuk mengatasinya, Ronald dipindah-pindahkan sekolah. Ada nasihat yang tak pernah lekang di benaknya pesan ayahnya, bahwa membimbing anak-anak seperti mengikuti aliran sungai. Asal terus diikuti, maka satu saat dia akan sampai kepada tujuannya. Demikianlah ayahnya membimbing.

Setelah pindah-pindah sekolah, akhirnya dia menamatkan sekolah dari SMA Kampus FKIP Nommensen, Pematang Siantar. Di sekolah ini ia mengalami perubahan. Dirinya mulai tersadarkan, memahami tak ada yang dapat mengubah dirinya, kalau bukan dari dirinya sendiri. Selulus sekolah menengah atas, dia melanjutkan kuliah ke Bandung.

          Di sana dia mendapat beasiswa dari DIKTI. Kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, dan menjadi mahasiswa teladan. Padahal, sembari kuliah dia pun bekerja, mencari tambahan dana, karena kiriman orangtuanya tak cukup. Jadilah Ronald sampai tiga tahun menjadi office boy. “Saya melihat hidup di kampung itu sangat memprihatinkan. Saya tak mau hidup di kampung, maka harus berusaha maksimal untuk bisa survive di kota,” katanya.

         Kegigihan dan usaha yang maksimal tersebut dipetiknya. Dia lulus lumayan cepat dengan nilai memuaskan, lalu pindah ke Jakarta melamar kerja. Dia diterima di perusahaan asing. Salary-nya di atas gaji standar, dan mendapat fasilitas. Luar biasanya, baru tiga bulan bekerja di perusahaan tersebut, bosnya memberikan fasilitas, mobil. Bukan hanya itu, dirinya kerap mendapat penugasan perusahaan untuk mengikuti training ke luar negeri.  Di perusahaan asing itu dia hanya bekerja tiga tahun, sebelum kemudian membuka usaha dengan rekan-rekannya. Kariernya terakhir sebagai General Manager pada PT. Yulisem Jaya Raya (1987-1990). Saat itu dirinya sudah menikah dengan gadis pujaannya yang dulu satu sekolah di Pematang Siantar dan kuliah di Bandung. 

        Di kemudian hari sebagai orang yang makin matang dari segi pengalaman dan usia, Ronald menemukan bahwa hidup perlu keseimbangan. Ia bekerja dan melayani. Hidup yang kita hidupi harus juga melayani. Tak seluruh hari-hari disibukkan untuk mengejar fulus. Bahwa rezeki yang diterima tak semua diteguk sendiri. “Saya melupakan hal-hal sifatnya melayani. Saya tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia,” paparnya.

            Sebenarnya  saat masih aktif bekerja dia sudah aktif untuk menangani beberapa perkara hukum. Walau waktu itu belum mendapat kartu izin menjadi pengacara. Tahun 1993, dia menjadi pengacara, namun baru di tahun 1994 dia dilantik menjadi advokat oleh Menteri Kehakiman berdasarkan rekomendasi Ketua Mahkamah Agung.

          Begitu ditabalkan menjadi pengacara ia membuka kantor sendiri dengan nama Ronald & Associate di Jalan Veteran Nomor 2, Jakarta Pusat. Dari Jalan Veteran pindah sewa kantor ke Tomang Raya No. 25, Jakarta Barat, dengan dibantu dua pengacara. Dari sana membeli ruko untuk kantor di bilangan Jatinegara, Jakarta Timur. Kemudian hari membeli kantor lagi di M.T. Haryono Square, dan sampai sekarang dia berkantor. 

         Di perjalanannya sebagai pengacara, di kemudian hari ia kuliah lagi untuk mendapatkan Master Hukum dari Universitas Pelita Harapan (UPH). Sejak menjadi pengacara ia aktif mengikuti berbagai Pendidikan Instruktur Penyuluhan Hukum. Aktif juga di organisasi pengacara. Pernah menjadi pengurus DPC IKADIN Jakarta Barat, Depinas SOKSI Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia dan DPP IKADIN Bidang Hubungan Luar Negeri. Sekarang di PERADI yang terfaksi di ketiga organisasi, dirinya tetap diminta sebagai penyuluh untuk calon-calon pengacara muda.

          Selain itu, dia aktif di organisasi bisnis. Pernah Sekjen Jenderal Forum Komunikasi Perdagangan Bursa Komoditi (1989-1992). Dan pernah Managing Director PT. Mita Yasa Investama (1991-2003). Aktif advokat sembari Managing Director PT. Karimun Aromatics yang bergerak di bidang Perkebunan Kelapa Sawit dan Pabrik CPO dari tahun 2007 hingga sekarang. “Saya merasakan dalam bisnis bahwa latar belakang saya di bidang hukum itu sangat mendukung,” ujarnya.

          Ronald menikah dengan Rosmaida boru Girsang setelah berteman hampir 9 tahun pada tahun 1988. Dari pernikahan itu Tuhan karuniakan tiga anak. Pertama, Paul, lahir tahun 1989. Lulus S1 dari UGM Yogyakarta. Lalu mendapat gelar S2 dari dua universitas ternama, Universitas Indonesia dan Universitas Leiden, Belanda. Kedua, seorang perempuan, lahir tahun 1991 namanya Hana Chovicha boru Simanjuntak. Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta. Ketiga perempuan lahir tahun 2004. Namanya Kerenhapuch boru Simanjuntak. Saat ini menempuh SMP di sekolah internasional SMP Brighton Cibubur, Jakarta Timur.

          “Istri saya itu seorang yang sangat sederhana. Selalu percaya suami, demikian juga saya kepadanya,” ujar jemaat di Gereja Suara Kebenaran Injil (GSKI) Rehobot, gereja yang digembalakan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, itu. Pada tahun 2007 istri yang sangat dikasihinya dipanggil Tuhan, karena kanker hati. Namun, ia memilih tak menikah lagi. Sepeninggalan istrinya, dia menutuskan single parent, mengasuh ketiga anaknya tanpa pasangan.           Cara untuk jangan terjerumus dalam rupa-rupa yang tak baik, Ronald telaten tiap pagi bersaat teduh. “Kita jangan lupa Tuhan,” jelasnya.

           Ronald tegas membatasi diri dengan berbagai hal yang bisa merusak reputasi yang dibangunnya. Maka dengan ia tak lagi membuat atau menerima janji pertemuan di luar jam kantor. Baginya, lebih baik pulang ke rumah. Di rumah dia bisa berinteraksi dengan anak-anak, bisa  leluasa membaca buku untuk menambah pengetahuannya, kalau tidak dia menonton atau mendengarkan khotbah. Ronald juga tak lupa untuk melayani, dia sadari melayani itu memurnikan hidupnya. 

Berita Terkait