Saat Anggota Pengurus FORKOM NARWASTU Kunjungi Ahok

• Oleh Ir. Albert Siagian, M.M. 447 dibaca


             BERITANARWASTU.COM. Hari Selasa, 18 Juli 2017 kemarin saya punya pengalaman langka. Langka karena saya masuk ke area Mako Brimob Depok, Jawa Barat, dan pengalaman langka juga ketika saya akan menengok seseorang yang bernama Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok. Iya, saya menengok Ahok. Awalnya sempat bingung juga ketika masih di ruang tunggu, bingung karena kira-kira apa saja yang mau kita bicarakan, dan bingung juga ketika nyatanya (mungkin) saya melihat Pak Ahok berbeda dengan yang selama ini saya pernah lihat dan bertemu langsung.

             Ketika kami dipanggil masuk ke ruangan pertemuan, di pintu kami disambut ramah oleh Bu Vero dan di belakangnya ada Pak Ahok dengan senyuman khas nya menyapa, "Ayo, silakan masuk." Setelah kami masuk, kami duduk dalam sebuah meja melingkar. Pak Ahok langsung menyambut kami dengan sebuah cerita yang ringan tapi penuh makna. Mulai dari suasana hati beliau ketika pertama kali masuk di sana, soal berat badan hingga ke soal rohani.

            Di situlah akhirnya beliau menemukan ketenangan sesungguhnya. Ketika beliau mencoba menenangkan hati dengan berpikir positif, selama itu juga berkali-kali berbagai perasaan muncul. Akhirnya, beliau menemukan sebuah ayat yang tertulis dalam Mazmur 42:12, "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!", sejak itulah akhirnya beliau menemukan sebuah ketenangan yang sesungguhnya karena berasal dari DIA.

           Dalam perjalanan rohaninya, Pak Ahok juga mendapatkan sebuah perenungan dari ayat yang tertulis dalam Yesaya 30:15, "...dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. Di tengah percakapan, saya sampaikan bahwa saya adik kelasnya mbak Fifi (adik sekaligus pengacaranya Pak Ahok) dan beliau jawab, “Iya, kita pernah ketemu beberapa kali, kan.” Sebuah ingatan yang tajam dari Pak Ahok. Makanya saya tidak asing, tambahnya, dan beliau tanya lagi kenal Fifi dari mana, dari Boedoet ya. Dan saya jawab, iya Pak saya dari Boedoet, dan saya juga mimpin sebuah group relawan. Dijawab, terima kasih. Salam iya untuk teman-teman, sambungnya.

           Tidak terasa akhirnya waktu berkunjung untuk kami sudah habis, sebelum bubar dan menaikkan sebuah doa penutup. Beberapa teman mencoba meminta tanda tangan Pak Ahok di buku, di foto dsb, tapi akhirnya saya memilih Pak Ahok untuk membubuhkan tandatangannya di saku kemeja yang saya gunakan saat itu. Setelah bersalaman masing-masing, akhirnya kami pun keluar ruangan kembali.

           Secara pribadi saya mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa dari seorang Ahok. Beliau sangat mengerti yang namanya kehendak Tuhan, dan beliau memaknainya bahwa saat ini adalah waktunya beliau untuk "di-charge" kembali oleh Tuhan. Saat ini, beliau memiliki waktu yang cukup untuk menulis, membaca dsb sebagai pengisi waktu luangnya termasuk membalas langsung surat-surat dari para penggemarnya. Bahkan, menurut beliau, saat ini malah waktunya sudah terasa kurang karena kegiatan-kegiatan tersebut. 

          Hmmm, rasanya sulit iya, sebagai manusia biasa ketika kita dalam posisi sangat terjepit dan tidak mengerti akan situasi kondisi yang menerpa kita tetapi kita masih mampu menerimanya dengan mengatakan, iya inilah kehendak Tuhan atas hidup saya. Iya, itulah Ahok.

            Ahok bukan superman. Ahok bukan siapa-siapa dan Ahok sama dengan kita. Tapi keintiman beliau dengan Tuhan, mungkin itulah yang membedakan kita, sehingga dia mampu mengerti kehendak Tuhan. Saya belajar banyak dari pertemuan singkat tersebut. Sehat selalu untuk Pak Ahok, sukses juga untuk Pak Ahok dan keluarga.

 

·         Penulis adalah anggota pengurus FORKOM NARWASTU, mantan pimpinan relawan Basuki-Djarot dan mantan Wakil Ketua Umum DPP GAMKI.

Berita Terkait