Film “Toba Dream”
Sarat Pesan Moral dan Nilai Kerukunan

1289 dibaca


Beritanarwastu.com.Ada potret kerukunan beragama, pesan-pesan spiritual dan moral, pemandangan Danau Toba yang indah di Balige (Sumatera Utara), adat budaya Batak Toba yang khas, bahaya narkoba, korupsi dan konflik antara orangtua dan anak, lagu-lagu Batak yang menyentuh dan ada puji-pujian kepada Tuhan dilantunkan di gereja. Itulah yang terlihat di film yang tergolong terpuji dan layak jadi tontonan keluarga, yakni Toba Dream ini. Film yang ide ceritanya dan dimotori Letjen TNI (Purn.) T.B. Silalahi ini hendak menyampaikan ke publik atau penonton, bahwa dari keluargalah lahir anak-anak yang baik dan bermoral.

Dan dari keluarga pula bisa lahir anak pemberontak, kalau orangtuanya terlalu keras atau otoriter. Film yang dibintangi sejumlah selebriti terkenal, seperti Mathias Muchus, Jajang C. Noer, Vino G. Bastian dan Marsha Timoty ini, sebenarnya ceritanya sederhana. Namun karena sutradara Benny Setiawan dan diarahkan T.B. Silalahi berhasil menyusun alur cerita dengan baik, dan mampu memancing emosi, sehingga penonton enggan untuk meninggalkan tempat duduk, karena penasaran dengan cerita selanjutnya.

Ceritanya mengenai Sersan Tebe (Mathias Muchus), seorang anggota TNI (Kristen) yang idealis, disiplin, patriot dan cinta keluarganya. Setelah pensiun Tebe memboyong keluarganya pulang ke sebuah desa di pinggiran Danau Toba, karena mereka tak bisa lagi menempati rumah dinas. Namun, salah seorang anaknya, Ronggur (Vino G. Bastian) memberontak, apalagi ia di Jakarta harus meninggalkan pacarnya, Andini, seorang gadis Jawa dan Islam. Ronggur karena tak tahan hidup di desa apalagi ia rindu kepada Andini, ia balik lagi ke Jakarta. Singkat cerita di Jakarta ia mulai hidupnya dengan jadi sopir taksi, lalu terjerambab jadi gembong narkoba hingga jadi kaya raya.

 Putra Tebe lainnya, Sumurung masuk sekolah tinggi teologia, dan ia jadi pendeta. Lalu anak perempuannya Taruli, masuk ke SMA Soposurung, Balige. Konflik makin memanas karena Tebe tak bisa berdamai dengan Ronggur, meskipun Ronggur sudah mendadak kaya raya. Akhirnya, terbongkarlah topeng Ronggur, bahwa dia membunuh rekannya sesama gembong narkoba. Ronggur kemudian tewas oleh timah panas dari rekannya sesama gembong narkoba. Dalam cerita ini ada pula diceritakan soal Sumurung setelah jadi pendeta sempat mengingatkan abangnya Ronggur agar membuka hati dan menerima Yesus masuk di dalam hatinya.

Tak hanya itu, dalam Toba Dream ini ada diceritakan tentang toleransi beragama orang Batak. Ronggur yang Kristen tetap menerima istrinya Andini yang Islam dan anaknya, Coky berdoa dengan cara Islam. Pasalnya,  Ronggur tidak pernah memperhatikan kehidupan rohani istri dan anaknya, yang tadinya sudah mau masuk Kristen. Di akhir cerita, digambarkan ibadah pemakaman Ronggur di atas sebuah bukit di Danau Toba setelah ia tewas ditembak rekannya gembong narkoba.

Film Toba Dream ini, dengan dukungan peñata musik Vicky Sianipar mampu menggambarkan kehidupan masyarakat Batak Toba yang khas dengan adat istiadatnya, dan semangat juangnya yang tinggi untuk meraih kesuksesan. Penata kamera pun mampu merekam pemandangan Danau Toba yang menakjubkan, sekalipun durasinya cukup singkat. Demikian pula akting para pemain patut diacungi jempol, seperti Jajang C. Noer yang berperan sebagai ompung (nenek) dari Ronggur. 

            Menurut T.B. Silalahi yang juga sering menyutradarai drama Natal nasional di era pemerintahan Orde Baru, film ini pada dasarnya menyampaikan realitas dan fakta soal kehidupan masyarakat di Indonesia. Dan, katanya, ada pesan revolusi mental yang ingin disampaikan film ini ke masyarakat, yakni setiap insan harus berupaya hidup lebih baik dan hidup lebih benar. Pada dasarnya film Toba Dream ini menarik, menyentuh dan sarat nilai-nilai agama serta nilai-nilai kerukunan. Sehingga masyarakat Indonesia tidak rugi untuk menyaksikan film ini bersama keluarga tercinta. TT

Berita Terkait