Djasarmen Purba, S.H.
Senator yang Peduli Rakyat dan Giat Melayani di Gereja

622 dibaca
Djasarmen Purba, S.H.

Beritanarwastu.com. Djasarmen Purba, S.H. yang lahir di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut), 5 Agustus 1947,  adalah pelayan rakyat atau anggota DPD-RI (Senator) yang kini cukup menonjol di Gedung Senayan. Selain sering diundang berbicara di forum diskusi dan seminar, pria yang aktif melayani di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) ini aktif membangun dialog dengan masyarakat, baik melalui media sosial, seperti Face Book, maupun televisi lokal. Seperti di akun Face Book-nya, Djasarmen yang juga tokoh masyarakat Simalungun, kerap menggaungkan kata-kata inspiratif dan motivasi.

                Menurut Perutusan Sinode Bolon dan Anggota Majelis Gereja GKPS periode 1995-2000, 2000-2005, 2005-2010 dan 2010-2015 ini, “Di Face Book saya menjalin komunikasi dengan rakyat lewat investasi kata-kata. Tujuannya memberikan inspirasi dan motivasi kepada rakyat.” Tak ayal, kalau Djasarmen yang dikenal juga pengusaha properti yang sukses dan tokoh Kristen di Kota Batam cukup disegani.

                Djasarmen sudah dua periode terpilih menjadi anggota DPD RI, yaitu 2009-2014 dan 2014 hingga 2019. Ini membuktikan, Djasarmen adalah tokoh nasionalis yang berpengaruh di daerahnya. Dalam karier politiknya ia pernah menjadi Ketua DPC PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa) Kota Batam, namun karena PDKB tak lolos verifikasi pada akhir 2003 lalu oleh KPU, ia masuk ke PNI Marhaenisme, dan kemudian terpilih jadi anggota DPRD Kota Batam 2004-2009.

                Pada 2005-2008 ia dipercaya sebagai Ketua DPD PNI Marhaenisme Provinsi Kepulauan Riau, dan ketika terpilih sebagai wakil rakyat di DPRD Kota Batam, Djasarmen termasuk wakil rakyat yang peduli membela kepentingan rakyat. Bahkan, bersama LSM ia aktif mengkritisi kebijakan-kebijakasan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Pernah anggota dewan di Kota Batam dalam beberapa tahun mendapat tunjangan komunikasi, namun setelah dicek, ternyata tunjangan itu tidak sesuai dengan konstitusi, lalu Djasarmen yang pertama kali mengembalikan dana tunjangan komunikasi yang bukan haknya itu ke kas Pemerintah Daerah.

                Itulah bukti bahwa ia prorakyat dan ingin menjadikan politik sebagai wadah pelayanan, bukan wadah untuk kepentingan diri sendiri. Selama berkiprah sebagai anggota DPRD Kota Batam, berbagai tantangan, termasuk upaya untuk menggusurnya oleh lawan-lawan politik sudah dialaminya, namun karena ia politisi yang “moralis” upaya itu tak berhasil, malah di PNI Marhaenisme ia “dipromosikan” sebagai pimpinan di tingkat provinsi.

                Djasarmen terjun ke dunia politik berawal saat reformasi bergulir, ia bersama sejumlah rekannya di LSM Dewan Pemantau Otonomi Daerah (DPOD) aktif mengkritisi penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah daerah, lalu dipublikasikan di media massa. Dari situlah ia didorong oleh para sahabatnya agar terjun ke partai politik, dan saat itu PDKB yang dipimpin Julius Baka menjadi parpol pertama tempatnya berkarya demi memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

                “Karena PDKB tak lolos verifikasi pada 2003, lalu bersama delapan orang teman dari PDKB kami berpencar ke sejumlah parpol untuk jadi caleg. Puji Tuhan, dari delapan orang itu ada enam orang berhasil jadi anggota DPRD,” pungkas pria yang sudah menerbitkan dua buku berjudul Jejak Sang Senator (Kiprah Djasarmen Purba di DPD RI 2009-2014) dan Kaki Langit Demokrasi itu. Dunia politik, katanya, banyak godaan dan intrik, namun kita harus mengendalikannya agar kita tak terjerumus. “Dalam politik kita harus memakai etika dan harus bisa mewarnai demi kesejahteraan rakyat,” ujar suami tercinta Rasmi Saragih yang punya empat anak dan delapan cucu ini.

                Saat ia terjun sebagai calon anggota DPD-RI dari Provinsi Kepulauan Riau, setahun sebelum memasuki masa kampanye, yang dilakukan Djasarmen adalah membentuk tim doa. Dalam tim doa ini ada banyak hamba Tuhan dari berbagai gereja yang mendoakannya. “Saya sangat meyakini kuasa doa. Sebab dengan doa itu nyata sekali pertolongan Tuhan. Saya sudah dua kali terpilih menjadi anggota DPD-RI, saya rasakan pertolongan Tuhan itu ajaib. Tim doa itu dikoordinir oleh istri. Saya beruntung, karena istri saya terus men-support saya,” paparnya.

                Mantan Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja di Kota Batam (2007-2011) dan Wakil Ketua DPD REI Batam (2002-2005) ini pun ikut berperan memperjuangkan Kepulauan Riau agar menjadi provinsi dan ikut memperjuangkan Batam menjadi kawasan Free Trade Zone (FTZ). Sebagai mantan vorhanger atau pengantar jemaat dua periode di Gereja GKPS Sei Panas Batam, Djasarmen tak pernah lupa sebelum memulai aktivitas setiap pagi ia dan keluarga menaikkan doa syukur kepada Tuhan.  

                Ketua Partuha Maujana Simalungun (PMS) Kota Batam dan Ketua Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) Kepulauan Riau ini, juga pernah dipercaya sebagai pimpinan di berbagai organisasi, seperti Ketua Dewan Pemantau Otonomi Daerah Kota Batam (1996-2001), Ketua LSM Deideng Center DPD Kepulauan Riau (2005-2009), anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam (2006-2011), Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Sumatera Utara (IKABSU) Kota Batam (2007-2012), Ketua Lembaga Pengembangan Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Kota Batam (2007-2012) dan pendiri Yayasan Juma Tidahan di Batam (2008 sampai sekarang).

             Djasarmen pun dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum I Bidang Organisasi dan Internal MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia). “MUKI  penting kehadirannya, sehingga kita semua, baik gereja-gereja maupun media Kristen seperti NARWASTU perlu ikut aktif mensosialisasikan keberadaan MUKI. Ini satu-satunya ormas kita,  bukan ormas di bawah lembaga gereja. Dari sisi keadilan kita harapkan juga agar dana APBD atau APBN untuk kepentingan umat Kristen bisa didapatkan setelah ada MUKI. MUKI bercita-cita agar ada Gedung Pusat Kristen atau Christian Center, dan di daerah lain kita harapkan ada juga Christian Center, seperti agama lain,” tukasnya.

Berita Terkait