Setahun FORKOM NARWASTU, Semakin Diperlukan

621 dibaca
• Oleh: Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.

BERITANARWASTU.COM. Waktu bergulir terus, tidak terasa tibalah pada 5 April 2017, dan itulah hari ulang tahun ke-1 Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU (FORKOM NARWASTU). Saya sebagai anggota FORKOM NARWASTU dan juga turut terlibat di dalam kepengurusannya (yang disebut Pokja FORKOM NARWASTU) tentu saja sangat mengucap syukur pada Tuhan. Karena campur tanganNyalah, maka FORKOM NARWASTU ini bisa hadir dan berkiprah serta menjadi berkat bagi para anggotanya, sekaligus memancarkan pesan-pesan kepada masyarakat dan pemerintah Republik Indonesia.

Perayaan HUT ke-1 FORKOM NARWASTU dilaksanakan pada Kamis, 1 Juni 2017. Hal ini disebabkan adanya momentum penting sekaligus dirangkul. Yakni, FORKOM NARWASTU sangat menghargai Hari Lahirnya Pancasila, oleh sebab itu diadakanlah diskusi panel khusus sekaligus ibadah perayaan HUT ke-1 yang diikuti pemotongan nasi tumpeng. Yang khusus dilakukan juga adalah dengan mengundang beberapa orang dari berbagai kalangan/profesi, di luar anggota resmi FORKOM NARWASTU sebagai bentuk kepedulian dan membuka diri.

Diskusi panel atau seminar itu bertema "Penguatan Solidaritas Kebangsaan untuk Mempertahankan Pancasila dan NKRI" dilaksanakan di Graha Bethel, Jakarta Pusat. Diawali dengan ibadah dengan pengkhotbah Pdt. DR. Anna B. Nenoharan, M.Th. (Ketua Sinode GEKINDO, salah satu Penasihat NARWASTU dan aktivis  kebebasan beribadah). Hadir juga di acara ini vokal group Badan Kerjasama Pelayanan Antar Kampus (BKPAK), Clara Panggabean, Rahel Elita dan Tulus Hutapea untuk menaikkan kesaksian pujian.

Sedangkan para panelis adalah Gregorius Seto Harianto (Tokoh nasionalis dan mantan anggota DPR-RI), Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi, M.M. (Mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam, Ketua Umum DPP API serta pengamat sosial, politik dan militer), Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H. (Ketua FORKOM NARWASTU dan pakar demokrasi), John S.E. Panggabean, S.H., M.H. (Bendahara FORKOM NARWASTU, advokat senior serta mantan Wakil Sekjen DPN PERADI).

Moderator seminar DR. Yosef Ariwibowo, S.E. (Anggota pengurus FORKOM NARWASTU dan mantan Ketua DPP KNPI), dan sambutan disampaikan Sterra Pietersz, S.H., M.H. (Sekretaris FORKOM NARWASTU dan mantan anggota DPR-RI) dan Jonro I. Munthe, S.Sos. (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU).  Doa pembuka oleh Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu (mantan Rektor STT Jaffray, Jakarta), dan doa penutup Johan Tumanduk, S.H., M.M., M.Div (Direktur PT. BPK Gunung Mulia).

Terkait dengan judul tulisan ini, maka inilah beberapa catatan penting saya. Pertama, ada WhatsApp (WA) group FORKOM NARWASTU yang saya perhatikan dalam setahun ini semakin marak isinya, yaitu berbagi informasi tentang masalah-masalah bangsa dan kekristenan di level nasional maupun internasional. Sangat informatif dan mengkritisi serta bernilai guna menambah wawasan, bahkan menjadi inspirasi. Pokja FORKOM NARWASTU sangat tertolong dengan media ini untuk dapat berkomunikasi dengan para anggota FORKOM NARWASTU. Bahkan melalui WA group ini undangan resmi untuk hadir pada ibadah syukur HUT ke-1 FORKOM NARWASTU plus diskusi panel, kami sebarkan/tayangkan. Ternyata media sosial pun sangat diperlukan di dalam aktivitas anggota FORKOM NARWASTU untuk saling berbagi informasi dan beropini serta menginspirasi.

Kedua, ada wawancara khusus yang dilakukan oleh salah satu media elektronik nasional, TVRI, terhadap dua “petinggi” FORKOM NARWASTU, yaitu John S.E. Panggabean, S.H., M.H. (Bendahara FORKOM NARWASTU, advokat senior serta mantan Wakil Sekjen DPN PERADI) dan Jonro I. Munthe, S.Sos. (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU). Momentum ini sangat bernilai karena bertepatan dengan hari libur nasional dan merayakan Hari Lahirnya Pancasila. Itulah sebabnya materi wawancara terhadap  kedua pengurus dan anggota FORKOM NARWASTU yang disiarkan oleh televisi nasional itu sangat berarti dan menohok melalui pesan bahwa Pancasila sangat perlu dikembalikan pada kedudukannya yang semula di Republik Indonesia ini serta juga Pancasila perlu kembali dipelajari dan dihayati secara khusus/aplikatif di jenjang-jenjang pendidikan resmi.

Ketiga, saya mencatat respons dari peserta diskusi panel yang dengan serius mengikuti jalannya acara. Kritis dan analitis serta penuh makna. Bahkan ada yang begitu antusias merespons saat dibuka kesempatan tanya-jawab/respons sampai-sampai melebihi waktu yang diberikan oleh moderator. Apa artinya ini? Jelas, ini menandakan betapa banyak persoalan yang muncul terkait dengan tema diskusi panel ini (Penguatan Solidaritas Kebangsaan untuk Mempertahankan Pancasila dan NKRI) yang tidak bisa tuntas dibahas hanya dalam satu hari.

Para panelis yang mengemukakan pemikiran dan pengalamannya ber-Pancasila di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini melihat berbagai kemunduran dan gangguan terhadap kesatuan bangsa yang mulai dirobek-robek oleh kaum intoleran. Nah, tentu saja ini sangat meresahkan. Sehingga pemikiran/saran-saran untuk pemerintah/pengelola negara Republik Indonesia ini bermunculan di area diskusi panel ini.  

 

 

Keempat, suasana kekeluargaan. Suasana seperti ini tidak ternilai dan tak dapat dibeli dengan uang. Suasana ini muncul dengan sendirinya melalui proses. Setahun usia FORKOM NARWASTU telah menaburkan benih-benih kekeluargaan yang terus semakin mengental. Saya pun (sebagai pemandu acara keseluruhan/MC) “terkena” langsung suasana kekeluargaan ini yang membuat saya senyum-senyum penuh ucapan terima kasih. Ada apa gerangan? Saat berbincang dengan Ibu SAL Tobing, S.E., M.A. (mantan Ketua Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI Jakarta) dan Ibu Anna B. Nenoharan yang sudah duduk di dalam ruangan tempat berlangsungnya acara, sembari menunggu para undangan hadir, tiba-tiba kedua ibu yang terkasih ini menyarankan kepada saya agar kerah baju saya jangan tertutupi kerah jas. Mereka memberikan alasan yang artistik. Dan bukan sekadar saran, Ibu Anna B. Nenoharan pun turun tangan langsung membenahi kerah baju saya itu...hehehehehe.

Ya! Ada lagi, pada waktu acara potong nasi tumpeng HUT ke-1 sangat terasa suasana kekeluargaan ini, kami menyanyikan lagu “Panjang umurnya”, membagikan nasi tumpeng kepada beberapa anggota FORKOM NARWASTU yang menerima dengan penuh senyum sukacita. Bahkan, ketika ada kesempatan untuk  “menghibur” di saat makan siang maupun di akhir acara, beberapa anggota FORKOM NARWASTU maju ke depan hadirin mengambil mikrofon dan bernyanyi dengan penuh semangat dan percaya diri. Hm...hm...luar biasa.

Forum Komunikasi NARWASTU sudah berusia satu tahun. Para anggotanya adalah “Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” yang setiap akhir tahun tokoh-tokoh baru diumumkan di Majalah NARWASTU setelah melalui penyeleksian dengan kriteria khusus. Wadah FORKOM NARWASTU ini (melalui pengurusnya yang disebut Pokja FORKOM NARWASTU) sudah lima kali mengadakan diskusi panel. FORKOM NARWASTU ini ternyata sangat diperlukan dengan beberapa alasan, antara lain seperti yang saya uraikan di atas.

Mari kita dukung dan doakan terus agar FORKOM NARWASTU ini ke depan, terus berkarya dengan “menggarami dan menerangi” dunia. Seperti yang dikatakan firman Tuhan ini: Matius 5:13-14, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

·                     Penulis adalah anggota pengurus FORKOM NARWASTU, akademisi dan jurnalis senior.

Berita Terkait