Shifting dalam Gereja

* Oleh: Antonius Natan, D.Th 1350 dibaca
* Penulis adalah Waket I STT Rahmat Emanuel, Jakarta, dan Sekretaris Umum PGLII DKI Jakarta.

Beritanarwastu.com. Jika kita menyimak berita tentang bisnis dan ekonomi, maka didapati banyak pernyataan bahwa beberapa perusahaan besar tutup dan tidak mampu bersaing. Pusat perbelanjaan di kota besar sepi pembeli walau pengunjung tidak berkurang. Ekonomi dan bisnis masa depan jelas sedang mengalami perubahan besar, pabrikan pada era industri tidak sekadar mengadakan produksi massal, tetapi perlu berinovasi untuk menghasilkan produk mass personalization. Tentu saja situasi ini erat kaitannya dengan ketidakpastian permintaan, baik varian produk maupun volumenya.

Bagi produk-produk fungsional permintaannya bisa saja sementara ini stabil tetapi dengan kompetisi yang ketat maka pabrikan harus menghasilkan produk inovatif, sehingga harus berakrobat untuk mengikuti selera konsumen. Memasuki era industri tidaklah sekadar investasi teknologi tinggi atau robotic, tetapi butuh juga inovasi model bisnis.

Sementara ini beberapa model bisnis mengubah platform bisnis berakibat kepada perubahan model bisnis, banyak anak-anak muda dan ibu rumah tangga memulai bisnis online, menawarkan dagangan melalui sosial media. Hasilnya ternyata cukup membesarkan hati, tumbuh berkembangnya industri kreatif dan bertumbuhnya wirausaha mikro. Sebaliknya beberapa department store di berbagai belahan dunia termasuk di kota-kota besar Indonesia mulai mengalami kesulitan cash flow, beberapa gerai besar telah tutup. Apakah artinya semua ini? Prof. Dr. Rhenald Khasali dari buku "SHIFTING" yang baru diluncurkan mengatakan bahwa buku ini akan menunjukkan tiga gagasan fundamental dalam gelombang peralihan besar: Platform, Perubahan Perilaku Kehidupan, dan Pengaruhnya pada Bisnis dan Ekonomi.

Salah satu yang menarik adalah sharing ekonomi berpindah seperti yang dilakukan perusahaan pionir, seperti Airbnb, platform digital yang mampu mempertemukan pelancong untuk memperoleh tempat menginap sementara yang murah, aman dan nyaman. Kecepatan, kemudahan, akses dan harga yang sangat bersaing menjadi dasar dari pada konsep sharing ekonomi. Di samping itu, memberi kesempatan kepada powerless individual untuk memanfaatkan asetnya langsung kepada konsumen tanpa perantara, dan ini sekaligus menjadikan mereka Wirausaha Mikro. Sehingga siapapun pemilik ruko, apartemen, mobil dan segala jenis produk yang ideal bisa menjadi pengusaha. Perubahan seperti ini membuat regulator kebingungan mencari bentuk regulasi dan payung hukum, seperti yang terjadi pada Ojek Online, Taxi online. Bagaimana membuat peraturan yang relevan dalam zaman yang terus berkembang dan mengglobal.

Perubahan hidup juga menjalar kepada kehidupan manusia, teknologi menggeser cara hidup manusia dalam menjalani hidup sehari-hari.  Ruang privasi menjadi etalase yang dipertontonkan kepada orang banyak, HP yang dilengkapi dengan kamera foto menjadikan orang tergila-gila meng-update status, semua kegiatan di foto secara selfie maupun wefie dand iupload ke IG, FB dll dan berujung kepada menantikan status like atau jempol. Kebahagiaan dipengaruhi berapa besar yang like atau jempol. Inilah pergeseran hidup, acap kali ditemukan sekelompok orang berada di kafé maupun di taman dan pinggir jalan, mereka bergerombol sambil bercerita, tertawa dan terlihat seru. Tetapi jika betul-betul diperhatikan bahwa setiap orang yang berkumpul dapat dipastikan sedang memegang HP, ada yang sekadar melihat status di WA, IG atau FB dll Tetapi hampir semuanya update status. Betulkah yang jauh menjadi dekat dan yang dekat malah tidak diperhatikan. Inilah bentuk manusia sedang mengisi kekosongan jiwanya.

 

Bagaimana Produk Gereja yang Relevan?

Seperti pabrikan furnitur pasti akan menghasilkan produk furnitur seperti meja, lemari dll. Pabrik kue pasti akan menghasilkan produk kue. Tidak mungkin pabrik furniture menghasilkan produk sepatu atau pabrik kue menghasilkan produk furnitur.

Bagaimana kalau gereja?Gereja harus menghasilkan apa sehingga bisa disebut gereja? Apa yang diproduksi oleh gereja? Dengan cepat kita bisa mengatakan sewajarnya gereja menghasilkan murid-murid Kristus. Murid Kristus dengan standar iman yang bertumbuh dan karakter seperti Kristus. Lantas apa yang dilakukan oleh gereja agar menghasilkan murid Kristus yang sejati? Dalam manufaktur ada istilah input–process– output. Maka dalam gereja apa yang di- input dan bagaimana prosesnya?

Gereja bisa saja mengeluarkan output seperti mendirikan sekolah, mendirikan rumah sakit, mengeluarkan album rohani, memiliki yayasan misi dll. Tetapi lebih dari itu gereja mengawali dengan memberi input kepada murid Kristus atau jemaat dengan makanan yang sehat dengan takaran yang sesuai dengan pertumbuhan rohani. Murid Kristus yang sejati wajar bila memiliki nafsu makan yang baik sehingga melahap semua makanan rohani. Jemaat yang sehat memiliki relasi yang baik dengan Sang Pencipta langit dan bumi.

Proses dalam hidup keseharian di jalani dengan tekun. Relasi dengan Tuhan dijalani dengan dasar Firman Tuhan yang hidup yang dibagikan dalam ibadah Minggu, ibadah tengah minggu atau dalam kelompok sel. Jemaat senantiasa mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus dan mengalami pertolongan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan, pergaulan ini menjadikan jemaat sebagai manusia yang takut akan Tuhan dan memperlihatkan karakter Kristus dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Zaman terus mengalami perubahan dan gereja perlu menyesuaikan dengan melakukan antisipasi penggunaan sosial media agar terhubung dengan jemaat secara terus menerus, penggunaan aplikasi agar memudahkan jemaat berkomunikasi dengan gereja. Sekretariat gereja mungkin tidak lagi berbentuk seperti kantor yang formal, anak-anak muda akan datang dengan model kehidupan yang berbeda, menolak kemapanan dan gaya konvensional. Gereja perlu merenovasi sekretariat, seperti bentuk kafé atau seperti warung kopi di mana orang bisa menikmati pergaulan yang sehat dan dapat dimentor, sekretariat gereja menjadi pusat bermain dan sebagai titik kumpul sekaligus bisa nonton bareng atau sekadar ngopi.

Gereja zaman now tidak sekadar gedung tetapi tempat yang enak dikunjungi dan menjadi rumah kedua bagi para jemaat. Gembala, majelis ataupun pemimpin gereja harus memutar otak dan mencari hikmat Tuhan agar memiliki kemenangan saat menjalani era ini. Rumah Doa, Rumah Tuhan, Rumah Bermain, Rumah Kopi, Rumah Curhat menjadi satu pada zamannya. Inilah disebut “Gereja Rumah.” Selamat menjalani zaman now dengan kemenangan.

Berita Terkait