Sinode Godang HKBP itu Sakral, dan Ephorus Mendatang Harus Hidup Kudus

1467 dibaca
T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.Pd.K saat tugas belajar untuk S3 di Seoul, Korea Selatan.

BERITANARWASTU.COM. Sinode Godang (semacam kongres) Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) yang akan digelar pada 12 sampai 18 September 2016 mendatang di Seminari Sipoholon, Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Sumut), adalah acara yang sakral, sehingga semua pendeta dan pelayan HKBP harus menghormatinya. Karena sakral, maka jangan ada yang membuat acara tersebut seperti perhelatan partai politik, atau manuver-manuver picisan dan ajang money politics. Harus dihormati Sinode Godang itu.

Itulah yang disampaikan pemuka HKBP yang juga advokat/pengacara senior, T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.Pd.K tentang Sinode Godang HKBP 2016. Ketua DPD PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) DKI Jakarta yang juga anggota PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) ini, selama ini dikenal pejuang HAM yang giat mengadvokasi warga gereja yang tertindas. Ketika ada warga jemaat HKBP yang “dipinggirkan” oknum-oknum pendeta, ia berani maju di barisan terdepan untuk membela.

 

  

T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.Pd.K dalam sebuah acara bersama advokat. 

Jose Silitonga pernah mengadvokasi pelayan HKBP, Pdt. Miduk Sirait yang pernah menjadi korban Indorayon. Ia pun mengadvokasi Jemaat Pagi HKBP Pondok Bambu yang dulu terusir dari tempat ibadahnya, serta ia membela 19 mahasiswi Sekolah Bibelvrouw HKBP di Laguboti, Toba Samosir, Sumut, pada 2010 lalu yang mengalami pelecehan dari seorang oknum pendeta. Tak hanya itu, ia berteriak lantang ketika ada aksi teror oleh massa anarkis terhadap jemaat HKBP Ciketing, HKBP Filadelfia, Bekasi, Jawa Barat, serta GKI Yasmin Bogor. Juga saat ada kasus gereja-gereja yang ditutup, seperti di Aceh Singkil, ia lantang bicara.

“Ketika ada teror atau upaya penghambatan beribadah kepada warga gereja, maka pemerintah dan penegak hukum harus turun tangan membela. Bangsa ini, kan, bukan milik kelompok tertentu, jadi umat Kristen atau warga HKBP harus diberi kebebasan beribadah di negeri ini. Dan pimpinan HKBP harus turun melihat domba-dombanya yang mengalami kesulitan beribadah dan memberi penguatan iman. Tuhan Yesus adalah Gembala yang Baik, saat ada domba-dombaNya yang terluka dan hilang, itu dicari Yesus. Begitu juga Ephorus HKBP mendatang mesti peduli terhadap domba-dombanya,” ujar Penasihat PERWAMKI (Perhimpunan Wartawan Media Kristen Indonesia) dan peraih award sebagai “Pahlawan Bumi 2003” dari WALHI ini.

Jose Silitonga yang juga dosen luar biasa yang mengajar ilmu hukum bisnis di Universitas Trisakti, Jakarta, saat ini pun menekuni S3 ilmu tata pemerintahan. Dan baru-baru ini, ia baru dari Korea Selatan untuk melakukan studi banding. Jose yang termasuk dalam jajaran “20 Tokoh Kristiani 2007 Pilihan Majalah NARWASTU” mengharapkan agar Ephorus dan Sekjen HKBP mendatang punya kepekaan sebagai gembala bagi jemaatnya. Sekadar tahu, nama Jose Silitonga di tahun-tahun yang lalu sempat disebut-sebut sebagai calon Bupati Tapanuli Utara dari Partai Damai Sejahtera (PDS), namun ada oknum petinggi parpol itu yang bermain curang, sehingga namanya ditenggelamkan. Jose Silitonga pernah dipercaya sebagai Ketua Bidang Hukum dan HAM DPP PDS.

“Ephorus dan Sekjen HKBP mendatang harus punya kerohanian yang bagus. Jadi ia mesti bisa menjaga kekudusan hidup agar menjadi teladan di tengah jemaat. Ia pun harus berani membela yang benar dan peka pada persoalan di tengah masyarakat, serta paham hukum dan paham manajerial agar sukses dalam tugasnya,” ujar anggota Dewan Penasihat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Indonesia, yang kerap memberi pencerdasan hukum kepada warga gereja lewat kuliah, seminar dan diskusi itu. KS 

Berita Terkait