Soempah Pemoeda dan Kegigihan Kaum Muda Indonesia

Dr. Antonius Natan 1289 dibaca
Oleh: Dr. Antonius Natan

BERITANARWASTU.COM. Tahun 1928 tentu berbeda dibanding zaman sosmed (sosial media) hari ini. Sekarang seluruh kejadian begitu cepat tiba di genggaman, sangat berbeda pada awal abad 20. Seakan semua menjadi lamban dan nyaris tidak banyak berubah, jarak yang jauh dan terpisah satu dengan lainnya. Dulu televisi belum memancarkan siaran, bahkan radio menjadi barang langka, dan mobil menjadi barang super mewah. Tetapi saat tahun Soempah Pemoeda dikumandangkan banyak pemuda berkumpul dari berbagai pelosok nusantara, dapat dibayangkan bagaimana mereka berkomunikasi pada zaman itu.

Perjuangan mereka menuju Batavia atau Jakarta merupakan perjalanan yang panjang dan melelahkan. Para wakil organisasi kepemudaan, yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond dsb. serta pengamat dari pemuda Tiong Hoa, seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. Para pemuda berkumpul mengadakan Kongres Pemuda kedua.

Dari situ muncullah inisiatif baru dengan dirumuskannya Sumpah Pemuda yang ditulis oleh Moehammad Yamin pada sebuah kertas sebagai berikut:

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia

Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia

Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.

Pada peristiwa bersejarah itu diperdengarkan lagu kebangsaaan Indonesia untuk yang pertama kali, yaitu lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Soepratman, dan kemudian dipublikasikan media cetak surat kabar Sin Po. Lagu tersebut sempat dilarang oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda terus menyanyikannya dengan semangat berkobar kobar.

 

Apa Katanya?

Mari kita coba membayangkan jika saat itu Soegondo Djojopoespito dari PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia) menolak sebagai Ketua Penyelenggara Kongres Pemuda kedua, apakah akan lahir Sumpah Pemuda? Atau Moehammad Yamin tidak membuat rumusan naskah Sumpah Pemuda. Misalnya, beliau lebih suka membaca buku, apakah akan terlaksana Sumpah Pemuda?

Bisa disimak bahwa zaman penjajahan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda, orang Indonesia bukanlah tuan rumah. Bangsa Indonesia saat itu sedang tertindas, terpecah belah, kekhawatiran terjadi di mana-mana, adu domba sesame anak bangsa, rakyat teraniaya dan tidak memiliki kemampuan melawan. Kehidupan masyarakat Indonesia saat itu dalam keadaan kekurangan, segalanya terbatas dan kegiatan pun diawasi oleh penjajah.

Setiap pelanggaran akan mendapatkan ganjaran hukum yang setimpal, dan rakyat Indonesia tidak bisa menuntut hak azasi manusia. Kegiatan yang dilakukan dalam Kongres Pemuda terindikasi sebagai kegiatan politik yang sangat dibenci oleh penjajah, tetapi kenapa Soegondo Cs berani mempertaruhkan nyawa bagi suatu Kongres Pemuda? Apakah ada jaminan keamanan saat itu?

Para pemuda pelajar sesungguhnya memiliki masa depan yang gemilang. Pada zaman tersebut memang sangat terbatas kalangan yang mendapatkan pendidikan. Apa yang ada dalam benak Soegondo, M. Yamin, W.R. Supratman, Djuanda, Kartosoewiryo, S. Mangunsarkoro, Johanes Leimena, Senduk, Amir Sjarifuddin dll. Apa katanya? Mereka dapat dipastikan adalah orang-orang yang sangat peduli dengan keadaan bangsa, menaruh minat terhadap perkembangan dan pembangunan tanah air.

Apa katanya? Mereka korbankan diri dan kesempatan agar tanah air Indonesia mengalami pembaharuan, keluar dari penjajahan.  Apa Katanya? Mereka mempertaruhkan nyawa agar dapat mencetuskan Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.

Para pemuda Indonesia sebagai golongan cerdik pandai yang mendapatkan pendidikan yang jauh lebih memadai dari orang kebanyakan. Bisa saja mereka menduduki pos penting di pemerintahan kolonial Hindia Belanda atau mereka bekerja di perusahaan milik kompeni. Atau mereka dapat berdagang atau melakukan apa saja yang dapat menghasilkan uang, memupuk kekayaan dan menjadi orang terhormat di kalangan penjajah. Mereka dapat membina keluarga yang bahagia dan menikmati hidup senang, yang penting diri sendiri dan keluarga aman dan sejahtera.

Pilihan pemuda pencetus Soempah Pemoeda zaman itu memang tepat dan sesuai waktunya menjadi kenyataan. Lagu Indonesia Raya berkumandang sejak 17 Agustus 1945 silam, sesaat setelah naskah Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Dan hari ini, kita berdaulat di tanah air, berbangsa yang satu dan bahasa Indonesia menjadi perekat bangsa.

Saat ini kehidupan kita mungkin nyaman, damai dan sejahtera, tetapi maukah kita memalingkan wajah ke sekitar lingkungan, memberikan waktu dan kepedulian, lakukan tindakan mencintai tanah air Indonesia.  Apa katanya? Jika Anda tidak peduli. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu, (Yeremia 29:7). Pro Ecclesia Et Patria.

 

·         Penulis adalah Wakil Ketua I STT Rahmat Emmanuel, Jakarta.

Berita Terkait