STT Jaffray Jakarta Bicara Kepemimpinan di Dies Natalis

439 dibaca
Ikatan Alumni STT Jaffray, Jakarta, menggelar diskusi kepemimpinan di acara dies natalis ke-33 di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Senin, 5 Juni 2017 lalu.

Beritanarwastu.com. Krisis kepemimpinan di dalam bangsa ini telah terjadi selama bertahun-tahun. Sikap apatis dan tidak peduli atas kondisi bangsa adalah salah satu dampak yang ditimbulkannya. Sebagai warga negara sekaligus warga gereja tentu kita tidak boleh ikut terseret dalam kondisi itu. Bagaimanapun kondisi bangsa ini tugas kita umat percaya adalah tunduk pada pemerintahan yang berdaulat, karena mereka adalah pemerintah yang dipilih oleh Tuhan. Bicara mengenai kepemimpinan rupanya itu menjadi salah satu perhatian yang diangkat oleh Ikatan Alumni STT Jaffray, Jakarta, dengan menggelar acara Dies Natalis Ke-33 di Graha Bethel, Jakarta Pusat, pada Senin, 5 Juni 2017 lalu.

 Dan “Kepemimpinan yang Membumi” adalah tema yang diusung oleh STT yang banyak melahirkan para hamba Tuhan yang cukup dikenal di berbagai denominasi gereja itu. Ketua Ikatan Alumni STT Jaffray, Jakarta, Pdt. Dr. Ferry Kakiay dalam sambutannya di acara itu mengatakan, diskusi yang diadakan itu agar setiap umat Kristen mendapatkan pencerahan, di mana nantinya setiap hasil dari pemikiran-pemikiran melalui diskusi ini akan dikirim kepada gereja-gereja, lembaga dan organisasi agar menjadi sumbangan untuk kemajuan bangsa dan negara.

 Diskusi yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Nasokhili Giawa tersebut menghadirkan dua tokoh berlatar belakang  TNI dan Kepolisian RI serta dari akademisi sekaligus hamba Tuhan, yakni Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi Soekamto, M.Th, M.M., Irjen (Pol.) Wagner Damanik, dan Pdt. Dr. Yakob Tomala. Sedangkan Dr. Jhon N. Palinggi yang seharusnya datang berhalangan hadir. Sesi pertama yang dipaparkan oleh Harsanto Adi Soekamto mengenai kepemimpinan yang membumi.

Menurut mantan Asisten Deputi VII Menkopolhukam RI ini, keberhasilan organisasi sangat bergantung pada manusianya (pemimpin), di mana ia harus memiliki kriteria sebagai bapak atau orangtua yang bisa mengayomi, sebagai guru mampu melatih dan mendidik, sebagai sahabat/teman, sebagai manager, sebagai administrator dan sebagai komandan. Dari semua itu, agar setiap orang memiliki mental ksatria, pejuang, integritas, kepribadian serta kebugaran dan kesehatan yang baik.

Selanjutnya Wagner Damanik  yang juga petinggi LEMHANNAS sekaligus Sintua GKPS Cikoko, Jakarta Selatan, itu menjelaskan mengenai kondisi pemimpin yang kurang kompeten dan pencitraan. Menurutnya, pemimpin pencitraan hanya bisa mengeluarkan karya sebatas retorika tapi miskin realita. Sehingga arogansi yang terjadi, dan menciptakan birokrasi. Dan jika bisa dipersulit mengapa harus dipermudah. “Tapi ada juga kepemimpinan yang mau hadir di tengah-tengah masyarakat dan bersedia duduk bersama, empati, dan mau minta maaf, mendengarkan aspirasi rakyat, diplomasi, blusukan, ramah dan punya karakter teruji,” terang jenderal bintang dua dari Polri yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2015 Pilihan Majalah NARWASTU” itu semangat.

 Dengan kata lain, masih menurut Wagner, kepemimpinan membumi mau melayani sepenuh hati dengan kasih seperti Tuhan Yesus yang datang untuk melayani dan bukan dilayani. Sehingga hal itu menjadi pembeda dari pemimpin yang ada atau dia berani untuk tidak ikut arus dunia, misalnya, tidak korupsi dan lain sebagainya. Di sisi lain, Pdt. Dr Yakob Tomala yang berkutat dalam dunia akademisi dan gereja, mengungkapkan kepemimpinan itu merupakan kehidupan bersama. Ibaratnya dia sedang mengatur rumah besar bersama. Maka setiap orang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, pertama, siapa saya.

Bicara mengenai substansi masalah kepemimpinan, bukan masalah orang lain tapi kepada dirinya sendiri, misalnya, bagaimana ia bersikap, memimpin dan lain sebagainya. Kedua, mengapa saya ada ini tentang alasan keberadaan. Ketiga, untuk apa saya ada di sini menyinggung hal-hal yang spesifik seperti keinginan Sang Pencipta yang ditaruh dalam hati (visi), dan keempat, bagaimana saya sampai disana. “Pemimpin harus bisa mengolah etis moral. Misalnya, pilihlah di antara kita pemimpin yang punya integritas, yakni integritas pribadi, rohani, dan sosial. Integritas sangat penting sebab menyangkut dalamnya kepala, hati, roh serta perbuatan dimana semuanya harus sejalan. Sebab jujur di dalam maka harus jujur pula diluar,” tukas Yakob.

 Diskusi yang dihadiri oleh peserta dari berbagai lapisan itu juga mencuri perhatian dari para mahasiswa STT Jaffray. Selain diskusi tersebut berguna memperluas wawasan dan menambah pengetahuan, juga bisa dijadikan bekal bagi para generasi muda di masa yang akan datang. BTY

Berita Terkait