Sukses dan Penderitaan itu Berjalan Seiring

353 dibaca


Beritanarwastu.com. Di zaman dulu, Nuh dikenal seorang pejuang, konsisten dan punya visi dalam membangun bahtera yang disuruh Tuhan. Selama 120 tahun ia membuat bahtera itu di atas gunung. Banyak orang yang mencibir mimpinya itu, karena dianggap tidak masuk akal. Padahal ia punya keyakinan yang kokoh pada Tuhan. Sebenarnya Nuh sangat peka terhadap panggilan Tuhan, sehingga ia membuat sebuah bahtera. Demikian diungkapkan Pdt. DR. Nus Reimas dalam sebuah ibadah bersama pengurus Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI) di Jakarta pada awal 2013 lalu,  sambil mengutip Kejadian 6.

Keyakinan Nuh terhadap panggilan Tuhan ini, kata Pdt. Nus Reimas, mirip dengan keyakinan Abraham. Abraham pun dulu sangat taat kepada Tuhan, sehingga ia berani mempersembahkan anaknya Ishak sebagai persembahan untuk Tuhan. Meski akhirnya Abraham tak jadi mempersembahkan anaknya, karena diganti dengan seekor domba, tapi Tuhan melihat ketaatannya luar biasa. Nuh dan Abraham sama-sama memprioritaskan Tuhan di dalam kehidupannya, mereka punya komitmen, visi dan mau berkorban. “Bisakah kita bayangkan 120 tahun lamanya Nuh membuah bahtera di atas sebuah gunung,” paparnya.

Sekarang, kata Pdt. Nus Reimas, ada banyak orang mengukur kesuksesan dari banyaknya orang. Padahal segelintir orang pun bisa mengubah dunia, seperti Nuh dan Abraham yang bisa mengubah keadaan di masanya. “Dalam hidup ini pun kita harus bisa taat seperti Nuh dan Abraham. Meskipun keadaan sulit, kita harus tetap punya pengharapan, itulah ciri-ciri orang percaya. Sukses dan penderitaan itu berjalan seiring. Nuh dan Abraham pun sudah mengalami itu. Kalau kita mau menderita sekarang, berarti kita akan meraih sukses,” paparnya. IW   

Berita Terkait