Vox Point Indonesia Hadir di Tengah Suasana Bangsa yang Galau

888 dibaca
Ketua Umum VPI, Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H.

Beritanarwastu.com. Diskusi mengenai kebangsaan kembali diadakan Vox Point Indonesia (VPI) pada Sabtu, 8 April 2017 lalu di Sanggar Prathivi Jalan Pasar Baru Selatan, Jakarta Pusat. Tokoh yang hadir pada diskusi ini, Yustinus Prastowo, Jacob Djoko Sarosa, Jhony G. Plate, Adrianto Gani, dan Budhi Hendarto (moderator). Vox Point Indonesia dalam acara ini diminta untuk terus menjadi garam dan terang dunia, serta tetap eksis dalam percaturan sosial politik dan kemasyarakatan di bumi Indonesia. Dalam hal ini, lembaga yang dipimpin Yohanes Handoyo Budhisedjati, S.H. ini diminta agar terus menyuarakan nilai-nilai toleransi dan keberagaman.

Hal itu disampaikan salah satu Dewan Pakar Vox Point Indonesia, Jacob Djoko Sarosa. Dia  mengatakan, Vox Point Indonesia harus menjadi garam dan terang dunia dan tetap eksis dalam percaturan sosial politik kemasyarakatan sebagai organisasi yang menyuarakan saran-saran kepada pemerintah. Jacob menerangkan, alasannya sangat positif, karena selain berkaitan dengan urusan sosial politik, Vox Point Indonesia pun hadir untuk menyuarakan nilai-nilai toleransi. “Mari kita jaga keberagaman di Indonesia agar tetap utuh. Sehingga kehidupan kitapun tetap aman dan damai,” pintanya.

Menurut Jacob, hal yang perlu kita lakukan untuk terus menjadi garam dan terang dunia adalah  melakukan karya-karya sederhana. Setiap anggota dan keluarga besar Vox Point Indonesia, imbuhnya, mari menjadi garam dan terang di keluarga kita masing-masing. “Jadi setiap anggota Vox Point Indonesia mempunyai kewajiban sosial untuk mempertahankan kerukunan dan keberagaman di Indonesia,” ungkapnya. Dengan begitu, katanya lagi, negara ini tetap sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa, yakni menjadi bangsa yang pluralis, santun, menghargai gotong royong dan sesuai kearifan yang dimiliki bangsa Indonesia. 

 

  

 

Dalam sambutannya, Ketua Umum Vox Point Indonesia, Yohanes Handoyo Budhisedjati menerangkan, hari-hari ini kita disuguhkan oleh berbagai peristiwa yang mempunyai dampak negatif bagi anak bangsa. “Baru saja ada pergantian pimpinan DPD yang diwarnai kericuhan, lalu mungkin terdapat kelemahan dalam hukum akibat kelalaian atau kecerobohan personalia MA. Tapi bagaimana pun juga kericuhan seharusnya tidak dipertontonkan secara vulgar,” cetusnya.

Itu, katanya, masih sebagian kecil saja dari sikap dan perilaku pejabat dan tokoh masyarakat yang seharusnya memperhatikan tata krama sesuai adat istiadat bangsa Indonesia. Sekarang seolah hilang dan sebagai gantinya muncul gerakan yang menonjolkan sifat egois, frontal dan permisif.  Adanya perubahan tata nilai dalam peradaban bangsa yang cenderung ke arah negatif, imbuhnya, merupakan keprihatinan kita bersama. Apakah ini semua pengaruh budaya asing atau ada yang salah dalam pendidikan kita. Budaya bangsa yang sangat terkenal pada waktu yang lalu sebagai bangsa yang dikenal ramah, santun, menjunjung tinggi etika, pemaaf dan gotong royong. Dan kini sebahagiannya telah hilang entah ke mana.

Di lain pihak, agama di Indonesia tumbuh berkembang dengan cukup baik. Mestinya semua ajaran agama selalu memberikan pengajaran hal-hal yang baik, dan sesuai ajaran Sang Pencipta. Budaya Timur Tengah makin kita rasakan dalam kehidupan bermasyarakat, pelan tapi pasti. Kita melihat semakin sedikit orang Jawa berbusana Jawa, semakin sedikit kita lihat wanita Jawa bersanggul dan berkebaya. 

Ini, ujar Yohanes Handoyo, terjadi pergeseran peradaban di masyarakat Indonesia. Wajah Indonesia menjadi berbeda pasca reformasi. Masyarakat cenderung lebih berani, vokal dan frontal terhadap sesuatu. Kita bisa lihat akhir-akhir ini dalam persaingan Pilkada DKI Jakarta, di mana persaingan yang merupakan persaudaraan, dan persaingan yang sudah merupakan adat istiadat nenek moyang kita. Namun sekarang justru mengklaim sebagai pemuka agama, tapi cenderung tidak menghormati sesama anak bangsa.

Pada dasarnya upaya dan cara tersebut digunakan untuk kepentingan politik. Perjuangan rakyat belum tuntas, tapi coba dipaksakan untuk memperoleh hasil, karena tekanan era Orde Baru sudah mengendur. Masyarakat lebih bebas mengemukakan pendapat dan itu dilindungi undang-undang. Akibatnya yang dirasakan dari Pilkada DKI Jakarta adalah sejauh yang kita rasakan, bahwa upaya pemaksaan kehendak untuk NKRI bersyariah sudah sangat jelas. Terlepas ada pasangan calon yang beda agama tapi kualitas pilkada ini menjadi jatuh.

Lalu, papar Yohanes Handoyo, pada titik pemaksaan kehendak dan bangkitnya kaum intoleran tidak ditindak secara tegas, maka NKRI harga mati hanyalah slogan kosong belaka. Kebhinnekaan yang merupakan anugerah Sang Pencipta, menjadi terancam bukan oleh bangsa lain, melainkan oleh bangsa sendiri. Maka apabila dibiarkan bangsa Indonesia mengalami kemunduran jauh dari tahun 1945. Dan akan muncul suku-suku dan etnis yang berpecah-belah dan Indonesia akan mundur jauh sampai sebelum 1928.

 

Suasana acara Vox Point Indonesia (VPI) yang dihadiri sejumlah pemuka Katolik di Jakarta. 

 

Sudahkah kita siap terhadap persoalan ini. Darah yang tercurah di bumi pertiwi dalam merebut perjuangan kemerdekaan terasa sia-sia tanpa makna. VPI hadir di tengah suasana bangsa yang galau ini untuk bersama umat Katolik di seluruh Indonesia berjuang berdasarkan 4 konsensus dasar, yang oleh founding fathers telah ditebus dengan darah, air mata dan pengorbanan, sehingga tetap eksis dan tetap merupakan nilai-nilai kebangsaan kita semua.

Pancasila, katanya, harus tetap menjadi dasar dan falsafah hidup bangsa. Dan UUD 1945 tetap menjadi landasan dan menjadi sumber hukum positif bangsa. Dan ini dibingkai oleh NKRI dengan keberagaman sebagai sebuah anugerah dari Tuhan yang diwujudkan dalam Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda tapi tetap satu. Vox Populi Institute atau yang populer disebut Vox Point Indonesia akan senantiasa berjuang mempertahankan nilai-nilai kebangsaan kita. Dengan banyaknya permasalahan bangsa, VPI hadir untuk menjadi problem solving, menjadi oase di tengah teriknya matahari dan menjadi garam dan terang di dalam perjuangan kebangsaan.

Situasi akhir, apabila tidak diwaspadai akan menempatkan Indonesia dalam persimpangan. Segala perjuangan kita sia-sia, apabila gerakan intoleransi dan kaum radikal di negeri ini berhasil membawa negara ini berazaskan agama atau sering disebut NKRI bersyariah.  Atau sebaliknya, Indonesia tetap kokoh sebagai NKRI yang berazaskan Pancasila dengan UUD 1945 sebagai landasan konstitusi. Dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai ikatan yang mengakui banyaknya suku, ras, etnik, bahasa, adat-istiadat adalah sebuah keniscayaan. Dan sebuah  anugerah Tuhan yang selalu harus dipupuk, dirawat dan dipelihara oleh kita semua anak bangsa.

Ini merupakan kemenangan nasionalis dan kaum religius yang menyadari dan menerima keberagaman sebagai augerah Tuhan atas bangsa ini.  Bertalian dengan permenungan di atas, maka program kerja  Vox Point Indonesia untuk tahun 2017-2018 akan lebih fokus pada hal substansial, urgent, dan terukur. Di samping itu, VPI juga akan mengubah struktur berdasarkan pencapaian program, sehingga tolak ukur keberhasilan akan lebih terukur dan termonitor.

Namun sebelum itu, kata Yohanes Handoyo, dalam rangkaian pleno tahunan, Dewan Pimpinan Nasional Vox Point Indonesia juga ingin mendapatkan masukan dan pandangan dari Dewan Pakar VPI. Sehingga sasaran VPI selaras dengan permasalahan bangsa untuk menjadi perhatian kita.  Diskusi kebangsaan akan mengawali rapat pleno. Dan sehubungan dengan satu tahun VPI hadir di Indonesia, pantaslah kalau kita mengucap syukur kepada Tuhan, maka pada akhir pleno kita akan akhiri dengan misa syukur.

“Akhir kata saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang sudah bekerja keras untuk menyukseskan acara pleno tahun ini. Dan terima kasih kepada seluruh pengurus VPI, Dewan Pimpinan Nasional Vox Point Indonesia, VPI Banten, VPI DKI Jakarta, calon VPI Depok, dan calon VPI Sumatera Utara, yang hadir bersama di sini untuk saling mempererat rasa persahabatan kita sebagai sesama Voxian,” pungkas Yohanes Handoyo yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU.” JK

Berita Terkait