Wabah Hoax Versus Berita Positif (Kabar Baik)

447 dibaca
Dr. Ade Armando.

                Beritanarwastu.com. Fenomena hoax (berita bohong atau berita yang rentan mengadu domba, serta cenderung provokatif) kini marak di media social (medsos). Menurut pakar komunikasi dan pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Dr. Ade Armando, itu disebabkan tumbuh pesatnya teknologi komunikasi berbasis web, komputer desktop dan teknologi mobile, seperti smartphone dan komputer tablet.

“Ini adalah perubahan revolusioner. Perkembangan ini menyebabkan berlangsungnya demokratisasi informasi.  Setiap orang dapat menjadi mass communicator, dan setiap individu memiliki kebebasan untuk mem-posting apapun yang diinginkannya tanpa khawatir seseorang akan mengubah atau menyensor konten. Namun tidak ada jaminan apa yang di-posting itu akan akurat dan bermanfaat,” papar Ade dalam sebuah diskusi yang berlangsung beberapa waktu lalu di kantor PGI Pusat, Jakarta.

Sayangnya, lanjut Ade, mekanisme kontrol kita lemah, sehingga hal-hal yang bersifat pribadi,  pornografi, penyebaran informasi bohong atau hoax, kebencian, dan penipuan marak bermunculan. Mengutip Frank La Rue, Pelapor Khusus PBB untuk Kemerdekaan Ekspresi tahun 20082014, dijelaskan Ade, internet menjadi  instrumen paling kuat dalam abad 21 untuk meningkatkan  transparansi dalam mengawasi pemerintahan, memberi akses pada informasi, dan juga memfasilitasi warga untuk berpartisipasi dalam membangun masyarakat yang demokratis.

“Namun pada saat yang sama, segenap peluang ini juga dimanfaatkan banyak pihak untuk melakukan propaganda. Propaganda tidak selalu berarti negatif. Yang menjadi masalah adalah black propaganda atau propaganda negatif,” tandasnya.  Dengan munculnya Undang-undang UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), lanjutnya, para pembuat hoax harus berpikir ulang.

Dalam undang-undang tersebut dijelaskan siapa saja yang bakal terkena sanksi. Misalnya, dalam Pasal 27 ayat 3 disebutkan, Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik…”

Sedangkan dalam Pasal 28 ayat 2 dikatakan, “Setiap orang dengan sengaja atau tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan  atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA)…”

Berita atau tulisan bersifat hoax, seperti ditulis Majalah Tempo Edisi 2-8 Januari 2017 adalah: berita bohong atau palsu, peristiwa yang dilebih-lebihkan atau dihilangklan bagian tertyentu, tulisan atau teks tidak sesuai dengan gambar, judul tidak sesuai dengan isi berita. Juga hoax peristiwa lama yang dimuat kembali untuk mendukung isu yang sedang ramai dan seolah-olah itu peristiwa saat ini. Foto peristiwa lain diubah untuk mendukung isu yang sedang ramai. Ada juga yang disebut fake news (berita rekayasa) atau faktanya tidak ada dan foto hasil penyuntingan atau kolase.

Sehingga, setiap pengguna media sosial sebaiknya bisa memanfaatkan medsos secara beradab, elegan, beretika dan tujuannya positif. Medsos bisa menciptakan kerukunan, kedamaian dan keharmonisan di tengah publik. Namun medsos pun bisa menciptakan konflik, kebencian dan perselisihan. Sehingga setiap anak bangsa, termasuk warga gereja harus senantiasa menyebarluaskan berita yang positif, punya muatan kerukunan, kedamaian dan prososial. Majalah NARWASTU punya motto “Menyuarakan Kabar Baik.” Kabar baik adalah kabar atau berita yang positif atau prososial, serta berupaya menciptakan damai sejahtera di tengah sesama. KT

Berita Terkait