Waktu Bagi Tuhan

• Oleh: Rio Ririhena, S.Sos 499 dibaca
Penulis adalah Ketua Komisi Dewasa GKI Pamulang, Tangerang Selatan, dan alumni Fakultas Komunikasi IISIP Jakarta.

Beritanarwastu.com. Membaca dan mendengar cerita tentang Paulus di dalam penjara, mungkin hal yang sudah biasa. Cerita yang sudah kita dengar, bahkan sejak masih anak-anak. Tetapi saat akan mempersiapkan bahan renungan untuk suatu persekutuan keluarga, Kisah Para Rasul 16:16-34 menjadi bagian yang terasa berbeda buat saya. Ada hal yang sungguh menegur saya secara pribadi, dan yang kemudian saya rindukan untuk dibagikan kepada orang lain.

 Diceritakan dalam pasal ini, bagaimana Paulus dan Silas, karena pelayanan mereka yang dirasa mengganggu kenyamanan orang lain, kemudian ditangkap, didera, dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Di dalam penjara pun mereka diperlakukan berbeda dengan tahanan lain, dengan cara dipasung dan ditempatkan di bagian tengah penjara dengan penjagaan ketat. Sungguh suatu kondisi yang seharusnya sangat tidak nyaman bagi mereka. Situasi yang  dapat membuat orang menjadi tertekan dan ketakutan.

 Saat tiba di ayat ke-25 dari Kisah Para Rasul 16 inilah, saya merasa Tuhan rindu menyampaikan isi hatiNya kepada saya. Ayat yang bagi saya sangat dahsyat, “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah...” Wow! Dalam keadaan kaki dipasung, berada di ruang penjara yang pasti tidak nyaman, dalam penjagaan ekstra ketat, tengah malam mereka berdoa dan bernyanyi. Bagaimana mungkin bisa? Harusnya situasi yang mereka alami saat itu tidak akan sama sekali mendukung mereka untuk melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan jika mereka punya perasaan sukacita dan berada di tempat yang nyaman.

Bukan di penjara. Bukan dalam keadaan kaki terpasung. Dan bukan saat sesudah mereka baru saja mengalami siksaan secara fisik. Bahkan, akhir ayat ini menyebutkan para tahanan lain mendengarkan mereka melakukan semua itu. Saya mencoba memastikan bahwa itu hanya bisa terjadi jika Paulus dan Silas bernyanyi tanpa takut dan dengan volume suara yang cukup keras. Mereka berseru kepada Tuhan di tengah malam itu.

 Tiba-tiba saya merasa Tuhan bertanya kepada saya dengan suara yang lembut, “Rio, kira-kira tengah malam, apa yang biasanya engkau lakukan?” Saya terdiam dan berpikir sejenak, kemudian menemukan jawabannya, “Saya sudah terlelap, Tuhan. Saya capek karena seharian sudah beraktivitas. Saya butuh merebahkan diri saya di atas ranjang, di kamar yang sejuk, dan kemudian tidur.”

 Saya kemudian meneruskan membaca ayat-ayat selanjutnya. Dan satu persatu kejadian luar biasa yang dialami Paulus dan Silas segera saya lihat, sesaat sesudah mereka melakukan “aksi” di tengah malam itu. Alkitab mencatat kemudian terjadi gempa bumi yang hebat, dan membuat bangunan penjara itu menjadi rusak. Bahkan belenggu-belenggu semua tahanan terlepas.

 Saat kita punya pergumulan, apa yang biasanya kita lakukan? Tuhan bertanya kepada kita, saya dan saudara, “Seperti Paulus dan Silas yang sedang dalam tekanan, apa yang kita lakukan di tengah malam saat kita galau, merasa tidak ada jalan keluar bagi pergumulan berat kita?” Akan bermunculan beragam jawaban pastinya. “Di tengah malam, meskipun sedang dalam pergumulan, saya masa bodoh saja, Tuhan. Saya lebih fokus untuk menonton pertandingan sepak bola klub kesayangan saya yang biasanya tayang di tengah malam.”

Ada lagi jawaban lain, “Tengah malam adalah waktu yang tepat bagi saya untuk membaca pesan-pesan yang masuk seharian di semua media sosial saya dan kemudian memberikan respons kepada pesan-pesan tersebut. Hidup saya sudah sangat bergantung kepada gadget, Tuhan.” Dan berbagai jawaban lain yang diberikan kepada Tuhan, bahkan di saat kita sedang hidup dalam pergumulan berat sekalipun.

 Saat penjara itu sudah rusak dan hancur, belenggu sudah terlepas, apakah Paulus dan Silas diberitakan langsung melarikan diri? Jika itu mereka lakukan, maka tidak akan pernah tercatat di Alkitab bahwa kemudian kepala penjara tersebut menyerahkan dirinya dan keluarganya untuk dibaptis dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka.

 Akibat pengenalan yang benar akan Tuhan dan hidup dalam ketaatan, situasi bagaimana pun tidak membuat mereka meninggalkan hubungan intim mereka bersama Tuhan dalam doa dan pujian. Dan itu berdampak bukan saja kepada hidup mereka sendiri, tapi bagi orang lain. Kepala penjara dan seisi rumah melihat kuasa Allah yang luar biasa dalam diri Paulus dan Silas. Mereka dijamah Tuhan. Mereka diselamatkan.

 Semua berawal dari apa yang mereka lakukan di waktu kira-kira tengah malam. Berdoa dan memuji Tuhan. Waktu yang buat kita pasti lebih nyaman untuk tidur, nonton pertandingan sepakbola, chating dengan teman, karaoke hingga larut malam dan berbagai aktivitas lain yang menyenangkan hati kita. Seperti Paulus dan Silas memberikan waktu mereka kepada Tuhan, Tuhan pun rindu kita melakukan hal yang sama. Menyediakan waktu untuk Tuhan, memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dan menyatakan kehendakNya untuk kita anak-anak-Nya.

Waktu yang bukan sisa-sisa waktu kita. Karena Tuhanlah yang memberikan waktu itu kepada kita. Saat kita salah mengaturnya, salah memberikan prioritas kepada waktu yang ada selama 24 jam tersebut, sebenarnya kita sedang menutup rencana Tuhan yang ingin IA nyatakan dan genapi dalam hidup kita. Paulus dan Silas memberikan waktu tengah malam mereka untuk Tuhan. Dan Tuhan berkarya di dalamnya.

Tuhan mendengar doa dan pujian mereka. Hati Tuhan merespons hati mereka. Doa dan pujian kita pun dapat berdampak sama saat kita menyediakan waktu untuk Tuhan. Bagaimana mungkin kita dapat mengerti rencana Tuhan bagi kita dan melihat rencana itu digenapi dalam hidup kita jika kita tidak pernah memberikan waktu Tuhan untuk menyatakannya kepada kita?

 Kerinduan Tuhan untuk mewujudkan rancanganNya dalam hidup setiap kita akan tetap ada bagi kita. Rancangan yang membawa keselamatan dan damai sejahtera. Tinggal bagaimana kita membiarkan Tuhan menyatakan itu lewat waktu yang kita berikan bagiNya. Dalam situasi seperti apa pun ada doa dan pujian yang kita panjatkan untuk DIA yang Empunya waktu itu. Dan kita kemudian akan melihat kuasa dan kasih-Nya nyata bagi kita dan bahkan berdampak bagi orang lain.

Berita Terkait