Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A
“Hantu” PHK

878 dibaca
Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.

Mari kita perhatikan hal berikut ini. Di tahun 2016 ini dari Januari 2016 sampai Maret 2016 dikabarkan banyak perusahaan yang akan melakukan PHK terhadap karyawan. Ancaman PHK tahun 2016 ini semakin marak dikarenakan banyak hal, di antaranya kalah daya saing dengan produk lain. Besarnya upah uang cukup tinggi dan penjualan hasil produk yang tidak sesuai dengan harapan. Selain itu anjloknya harga minyak  berpengaruh terhadap hal ini. Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) kian santer. Yang belum lama mencuat adalah dari perusahaan  Panasonic dan Toshiba.

 

          Berdasarkan data Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekitar 2.500 buruh saat ini tengah terancam PHK sebagai dampak tutupnya pabrik dari dua perusahaan produk elektronik. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan per 1 September 2015, terhadap sekitar 25.506 karyawan telah dilakukan PHK. Data yang berbeda dipaparkan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Setidaknya sepanjang 2015 lebih dari 36 ribu karyawan di-PHK akibat pabrik tekstil yang mengalami penutupan (Data ini dari internet “Infodunia”).

 

         Dari informasi yang tertera di atas, saya ajak pembaca memandangnya dari sudut lain. Rezeki, berkat materi, memang harus dicari/diupayakan. Tak akan turun secara langsung dari langit. Masih ingat konsekuensi manusia yang telah “terlempar” dari taman Eden? Salah satunya ini, Kejadian 3:17-19, “Lalu firman-Nya kepada manusia itu, ‘Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau, dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu”.

 

          Ya! Bukankah akan semakin bersusah payah seseorang untuk menyambung hidupnya di dunia fana ini dengan munculnya “hantu” PHK ini? Akan terjadi gejolak mental dan pikiran padanya, dalam menyikapi bencana ini. Bahkan, bangunan rumah tangga/keluarga dapat berguncang yang  pada akhirnya menghasilkan konflik berkepanjangan.

 

Berbicara tentang “menyikapi” PHK, maka paling tidak akan muncul reaksi: terkejut, marah, merasa tak berharga, malu, bingung, minder, pasrah-menyerah. Kebalikannya, bisa juga akan muncul reaksi: tenang, mengucap syukur dalam segala hal, tetap merasa berharga di mata Tuhan, bersemangat, penuh pengharapan, dan meminta dukungan doa. Jadi, kalau begitu, ketika mengalami persoalan PHK, sebenarnya sudah jelas, seseorang yang terkena PHK itu mau berdiri di mana? Menyerah atau berjuang lagi mencari pekerjaan baru, bahkan menciptakan pekerjaan baru.

 

Terkait hal “mencari” saya teringat pada Firman Tuhan ini: Matius 6:33-34, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu khawatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Ohh...tidak mudah menerima hal ini. Mengapa? Karena dalam Firman Tuhan di atas ada proses. Bahkan, proses itu bisa jadi penuh linangan air mata dan jangka waktu yang relatif panjang. Terlebih bagi seseorang yang selama ini “jauh” dari Tuhan dan tiba-tiba mengalami PHK, betapa sulitnya mengubah hidupnya, berbalik untuk “mendekat dan melekat” pada Tuhan.

 

Namun, memang pada akhirnya setiap orang harus memilih bersikap, pada waktu “hantu” PHK menerpa. Situasi memilih itu tidak bisa ditunda-tunda. Berdiri terus di atas “jalan keraguan” akan lebih membuat persoalan semakin berat dan banyak. Dalam hal ini, keberanian iman sangat diperlukan. Kesatuan hati (bersama anggota keluarga yang memberi dukungan) mutlak ada untuk berseru dan meminta pertolongan Tuhan. Dan tidakan iman menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada pemeliharaan Tuhan sekaligus dengan usaha-usaha yang dilakukan, tertera dalam firman Tuhan ini, “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mazmur 37:5).

 

Tentu kita pernah mendengar berbagai kesaksian hidup dari mereka yang mengalami problema hidup berat (misalnya, terkena PHK), mereka bersaksi untuk menyatakan apa yang dialami saat itu, bahkan juga mereka bersaksi bagaimana Tuhan menolong mereka. Ya dan amin. Di dalam Tuhan Yesus selalu ada solusi.  Masih ingat ini? Di dalam 1 Korintus  10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

 

Mengakhiri tulisan ini saya ingin mengajak pembaca melihat sekali lagi judul tulisan ini. Ada kata “hantu” yang bermakna menakutkan. Ini hanyalah tentang memilih kosa kata yang memberi efek. Dan hal ini membawa kita pada pertanyaan besar, sedemikian takutkah kita ketika terkena vonis PHK yang memang tidak dapat dihindari lagi? Nah, ini pun masalah pilihan untuk menentukan sikap. Yang pasti kita (sangat) tahulah bahwa Tuhan akan menolong dan memelihara umatNya, umat yang percaya padaNya sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia.

 

Dia akan juga menyelamatkan kita dari berbagai problema. Maka, perhatikan kata “hantu” terdiri dari dua suku kata “han-tu”....bila kita balik/baca dari belakang, bunyinya menjadi apa? Terpujilah TUHAN kita yang harus kita andalkan sepanjang hidup kita mulai sekarang sampai selama-lamanya. Yeremia 33:3, “Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kau ketahui”.

Berita Terkait